Harianjogja.com, BANTUL—Pengesahan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Keamanan Pangan dan Mutu Pangan Berbasis Hewani di DIY turut menyoroti peredaran pangan asal hewan, termasuk konsumsi daging anjing. Di Bantul, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menyebut jumlah warung tongseng daging anjing atau yang dikenal sebagai tongseng jamu diduga mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul, Novriyeni, mengatakan pendataan terhadap penjualan daging anjing sebenarnya pernah dilakukan. Namun, pembaruan data secara menyeluruh belum dilaksanakan sehingga jumlah warung tongseng jamu yang masih beroperasi belum dapat dipastikan.
"Sebenarnya pendataannya sudah cukup lama. Untuk pembaruan data memang belum kami lakukan. Sepertinya terjadi penurunan, tetapi jumlah pastinya saya harus melihat data lagi," kata Novriyeni saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, indikasi berkurangnya jumlah penjual memang terlihat di lapangan. Namun, DKPP Bantul masih membutuhkan pendataan ulang untuk mengetahui kondisi terkini secara akurat.
Belum Ada Kasus Penyakit dari Konsumsi Daging Anjing
Novriyeni menegaskan hingga saat ini pihaknya belum menemukan kasus yang berkaitan dengan penjualan maupun konsumsi daging anjing yang menyebabkan penularan penyakit di Kabupaten Bantul.
"Belum ada kasus," ujarnya.
Ia menjelaskan, langkah yang dilakukan DKPP saat ini masih berfokus pada pendataan dan pengawasan kesehatan hewan. Adapun tindak lanjut khusus terkait regulasi baru mengenai keamanan pangan berbasis hewani masih menunggu aturan turunan yang lebih teknis.
"Kalau saat ini masih sebatas pendataan," katanya.
Menurun Sejak Kasus Perdagangan Anjing Terungkap
Sebelumnya, Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengungkapkan jumlah warung tongseng jamu di Bantul mengalami penurunan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah pengungkapan kasus perdagangan anjing untuk konsumsi oleh Polres Kulonprogo pada masa pandemi Covid-19.
"Sejak adanya pengungkapan kasus penjualan anjing untuk dikonsumsi dagingnya oleh Polres Kulonprogo hingga pelaku diproses hukum saat pandemi Covid-19, jumlah warung tongseng jamu menurun drastis di Bantul," kata Joko.
Meski jumlahnya disebut menurun, DKPP tetap melakukan pengawasan terhadap aspek kesehatan hewan dan keamanan pangan yang beredar di masyarakat.
Sampel Daging Diperiksa BBVet Wates
Sebagai bagian dari pengawasan kesehatan masyarakat veteriner, DKPP Bantul bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates untuk melakukan pemeriksaan sampel daging anjing yang beredar.
Pemeriksaan tersebut dilakukan terutama untuk memastikan tidak terdapat ancaman penyakit zoonosis, termasuk rabies.
"Daging anjing kami ambil sampelnya dan diperiksa oleh BBVet Wates. Sejauh ini tidak ada temuan daging anjing yang tertular rabies," ujar Joko.
Selain pengujian sampel, DKPP juga terus menjalankan program vaksinasi rabies gratis bagi masyarakat yang memelihara anjing maupun kucing.
Program tersebut menjadi langkah preventif untuk menjaga Kabupaten Bantul tetap bebas dari rabies dan mengurangi risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Bantul Masih Bebas Rabies
Joko memastikan hingga saat ini tidak ditemukan kasus rabies pada hewan peliharaan di wilayah Bantul.
"Tidak ada ditemukan anjing terpapar rabies, apalagi kucing," katanya.
Menurut dia, pengawasan kesehatan hewan akan terus dilakukan seiring perkembangan regulasi di tingkat daerah maupun nasional.
Ke depan, DKPP Bantul akan menyesuaikan langkah pengawasan dan pembinaan setelah tersedia aturan turunan dari Perda Penyelenggaraan Keamanan Pangan dan Mutu Pangan Berbasis Hewani yang telah disahkan DPRD DIY.
Dengan adanya regulasi tersebut, pemerintah berharap keamanan pangan asal hewan dapat semakin terjamin, sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat dalam mengonsumsi produk pangan yang aman dan sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































