Harianjogja.com, JOGJA—Pembagian rapor di SMP Stella Duce 2 Jogja tahun ini tidak hanya menjadi momen evaluasi hasil belajar siswa. Sekolah menghadirkan pameran karya siswa berupa lukisan dan fotografi yang dapat dinikmati para orang tua, sekaligus menjadi ruang apresiasi terhadap bakat, kreativitas, dan pendidikan karakter peserta didik.
Ratusan karya yang dipajang di lingkungan sekolah menarik perhatian para orang tua yang hadir untuk mengambil rapor. Melalui pameran karya siswa tersebut, SMP Stella Duce 2 Jogja berupaya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari berkembangnya potensi, minat, dan karakter anak.
Kepala SMP Stella Duce 2 Jogja, R.V. Banu Hastha Kunjana, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kali kedua digelar. Sebelumnya, sekolah juga pernah menyelenggarakan pameran serupa dalam rangka pelepasan siswa kelas IX.
“Karena kami melihat hasil karya anak-anak ini bagus. Banyak yang menurut saya sangat bagus dan untuk ukuran anak SMP sudah termasuk karya yang sangat patut diapresiasi,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Orang Tua Diajak Menikmati Karya Siswa
Pameran karya siswa sengaja diselenggarakan bertepatan dengan pembagian rapor agar para orang tua memiliki kesempatan melihat langsung hasil kreativitas anak-anak mereka. Strategi tersebut terbukti mendapat respons positif dari para pengunjung.
Menurut Banu, pihak sekolah mengarahkan para orang tua untuk berkeliling area pameran sebelum maupun sesudah menerima rapor. Antusiasme yang ditunjukkan para orang tua dinilai cukup tinggi.
“Ketika orang tua datang, kami arahkan untuk melihat pameran. Ternyata antusiasmenya sangat baik. Mereka melihat-lihat karya anak-anak dan mengabadikannya,” katanya.
Dukung Pengembangan Seni dan Budaya
Selain menjadi ruang apresiasi, pameran karya siswa juga menjadi bagian dari komitmen SMP Stella Duce 2 Jogja dalam mengembangkan budaya berkesenian di lingkungan sekolah.
Saat ini karya yang ditampilkan masih didominasi seni lukis dan fotografi. Namun, sekolah berencana memperluas ruang ekspresi siswa dengan menampilkan karya sinematografi yang dihasilkan melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Menurut Banu, aktivitas seni memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter siswa karena melatih berbagai nilai positif yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan fotografi, misalnya, siswa belajar membangun ketelitian, kesabaran, ketekunan, hingga kedisiplinan dalam proses berkarya.
“Learning by doing seperti ini menurut saya lebih efektif daripada hanya diajarkan di kelas. Anak-anak belajar langsung melalui pengalaman,” ujarnya.
Lukisan tentang Fenomena Ketergantungan pada Uang
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran karya siswa berasal dari Jorellyn Hedynez Moktika Prasetyo Wiemo atau Jojo, siswa kelas VIII. Melalui lukisannya, ia mengangkat tema keserakahan manusia terhadap uang yang menurutnya masih banyak ditemui di lingkungan sekitar.
“Karena yang aku lihat di sekitar banyak orang terlalu bergantung pada uang. Aku ingin menyampaikan bahwa banyak orang terjerat dalam masalah uang,” katanya.
Jojo menilai fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga banyak ditemukan di kalangan anak muda yang berusaha mengikuti berbagai tren meski kondisi keuangan belum memungkinkan.
“Kadang mereka terlalu memaksakan diri untuk mengikuti tren sehingga akhirnya stres sendiri,” ujarnya.
Lewat karya tersebut, Jojo ingin menyampaikan pesan bahwa uang memang menjadi kebutuhan penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan kehidupan seseorang.
“Menurutku uang itu dibutuhkan, tapi masih banyak hal lain yang kita butuhkan selain uang,” katanya.
Ia juga menilai keberadaan pameran karya siswa dapat meningkatkan rasa percaya diri karena karya yang dibuat memperoleh perhatian dan apresiasi dari orang tua maupun lingkungan sekolah.
“Dengan orang tua melihat karya-karya ini, mungkin anak merasa lebih dihargai dan bakat mereka lebih bersinar,” ujarnya.
Orang Tua Dukung Pengembangan Potensi Anak
Apresiasi terhadap pameran karya siswa juga datang dari para orang tua. Salah satunya Wati, orang tua siswa kelas VII, yang menilai pendidikan tidak semata-mata berbicara tentang nilai rapor, tetapi juga tentang bagaimana sekolah membantu mengembangkan bakat dan karakter anak.
“Kalau saya lebih ke bakat. Anak saya bakatnya di musik, jadi saya lebih fokus mendukung itu. Selain itu, etika juga penting untuk kehidupan mereka ke depan,” katanya.
Wati mengaku selama ini aktif mendukung anaknya mengikuti berbagai kegiatan musik, baik yang diselenggarakan sekolah, Taman Budaya, maupun kegiatan di gereja.
Menurutnya, pameran karya siswa memberikan kesempatan bagi orang tua untuk melihat potensi yang mungkin belum terlihat melalui capaian akademik semata. Melalui kegiatan seperti ini, orang tua dapat mengenali kekuatan lain yang dimiliki anak sekaligus memberikan dukungan yang lebih tepat bagi perkembangan mereka di masa mendatang, termasuk dalam bidang seni, budaya, maupun keterampilan lain yang terus tumbuh selama proses pendidikan berlangsung.
“Kadang anak belum bersinar di bidang akademik, tetapi bisa bersinar di bidang yang lain. Sekolah membantu bakat-bakat itu muncul,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
6

















































