Jumali Selasa, 23 Juni 2026 12:27 WIB

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja semakin nyata setelah Oracle, perusahaan perangkat lunak asal Amerika Serikat, mengumumkan pengurangan sekitar 13% tenaga kerja atau setara 21.000 karyawan pada tahun fiskal 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu kasus terbesar restrukturisasi perusahaan teknologi yang dikaitkan langsung dengan penerapan AI.
Dalam laporan tahunan yang dirilis pada 22 Juni 2026, Oracle mencatat jumlah karyawan penuh waktu turun menjadi 141.000 orang per 31 Mei 2026, dibandingkan 162.000 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi dalam kurun satu tahun fiskal dan mencerminkan perubahan besar dalam strategi operasional perusahaan.
Perusahaan juga secara terbuka menyebut peran AI dalam perubahan struktur tenaga kerja tersebut. Oracle menegaskan bahwa penerapan teknologi kecerdasan buatan di berbagai lini operasional telah menyebabkan, dan berpotensi terus menyebabkan, pengurangan jumlah karyawan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan paling eksplisit dari perusahaan teknologi besar bahwa AI telah memengaruhi kebutuhan tenaga kerja secara langsung, bukan hanya sebagai alat efisiensi, tetapi juga sebagai faktor pengurangan posisi kerja.
Dari sisi biaya, restrukturisasi ini berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan. Oracle mengeluarkan sekitar US$1,84 miliar atau setara Rp32 triliun untuk biaya pesangon dan berbagai kebutuhan terkait pemutusan hubungan kerja sepanjang tahun fiskal 2026.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$374 juta atau sekitar Rp6,6 triliun. Lonjakan ini menunjukkan skala penyesuaian organisasi yang dilakukan perusahaan dalam waktu relatif singkat.
Oracle menyebut langkah ini sebagai bagian dari restrukturisasi menyeluruh yang mencakup perubahan produk, strategi manajemen, penyesuaian kinerja, hingga integrasi akuisisi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah pemangkasan tenaga kerja tersebut, Oracle tetap melanjutkan ekspansi besar di sektor komputasi cloud dan infrastruktur AI. Perusahaan diketahui menjalin kerja sama dengan sejumlah pemain besar seperti OpenAI dan Meta untuk memperkuat posisi di pasar pusat data global.
Namun, ekspansi ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Berbeda dengan perusahaan teknologi lain yang memiliki arus kas kuat, Oracle disebut harus mengandalkan pembiayaan eksternal melalui utang dan penerbitan saham untuk mendanai pertumbuhan agresif tersebut.
Perusahaan bahkan memperkirakan belanja modal bersih mencapai sekitar US$70 miliar atau sekitar Rp1.249 triliun pada tahun fiskal berjalan. Untuk menopang kebutuhan tersebut, Oracle berencana menghimpun tambahan dana sekitar US$40 miliar melalui kombinasi utang dan ekuitas.
Di sisi lain, tekanan finansial ini turut tercermin pada pergerakan saham perusahaan yang tercatat turun sekitar 10% sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa strategi ekspansi berbasis AI membawa risiko finansial yang tidak kecil.
Data dari platform Layoffs.fyi menunjukkan bahwa Oracle bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja. Sepanjang 2026, tercatat 196 perusahaan teknologi telah memangkas lebih dari 119.800 pekerjaan di berbagai negara.
Tren ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya investasi besar-besaran di sektor AI. Beberapa raksasa teknologi seperti Google, Amazon, dan Meta secara kolektif disebut mengalokasikan sekitar US$650 miliar untuk pengembangan infrastruktur AI.
Meski demikian, Oracle memperingatkan bahwa proses restrukturisasi ini juga dapat menimbulkan tantangan baru, termasuk potensi kekurangan tenaga kerja dengan keahlian tertentu di masa mendatang.
Bagi industri teknologi global, langkah Oracle menjadi penanda bahwa transformasi AI tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga mengubah struktur ketenagakerjaan secara mendasar. Pertanyaan berikutnya kini mengarah pada bagaimana perusahaan lain akan menyeimbangkan antara otomatisasi dan keberlanjutan lapangan kerja di tengah percepatan teknologi yang terus berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































