
Rudal Iran- Photo by Moslem Daneshzadeh on Unsplash via MUI.or.id\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Perang Iran dilaporkan berdampak besar terhadap persediaan rudal presisi jarak jauh milik Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Di tengah proses transisi menuju sistem persenjataan baru, stok Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM) disebut telah digunakan dalam jumlah besar sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kesiapan militer AS menghadapi potensi konflik berikutnya.
Laporan yang dikutip dari Defence.ua menyebutkan hampir seluruh persediaan rudal ATACMS dan PrSM telah digunakan selama konflik. Meski jumlah rudal yang masih tersedia tidak diungkapkan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kedua rudal merupakan andalan serangan presisi jarak jauh Angkatan Darat AS.
Peralihan dari ATACMS ke Rudal Generasi Baru PrSM
Menipisnya stok rudal tidak lepas dari proses modernisasi persenjataan yang sedang berlangsung. Militer Amerika Serikat saat ini masih beralih dari penggunaan ATACMS menuju Precision Strike Missile (PrSM) sebagai rudal generasi penerus.
Selama masa transisi tersebut, jumlah rudal ATACMS terus menyusut, sementara produksi PrSM belum mampu memenuhi kebutuhan operasional dalam skala besar. Situasi itu membuat pasokan rudal presisi jarak jauh belum sepenuhnya pulih.
ATACMS sendiri merupakan rudal balistik taktis yang memiliki jangkauan hingga sekitar 300 kilometer. Namun, produksi terbaru rudal tersebut lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kontrak negara-negara mitra sehingga tidak seluruhnya digunakan untuk menambah cadangan militer Amerika Serikat.
Apa Keunggulan Rudal PrSM?
Sebagai pengganti ATACMS, Precision Strike Missile (PrSM) dikembangkan dengan berbagai peningkatan kemampuan tempur. Rudal ini dirancang untuk memberikan daya jangkau lebih jauh sekaligus meningkatkan efektivitas sistem peluncur.
Beberapa keunggulan PrSM meliputi:
Memiliki jangkauan hingga sekitar 500 kilometer pada versi yang digunakan saat ini.
Satu unit peluncur mampu membawa dua rudal, sedangkan peluncur ATACMS hanya memuat satu rudal.
Dirancang memiliki potensi pengembangan pada varian berikutnya, termasuk kemampuan menyerang target bergerak di permukaan.
Menggunakan teknologi yang lebih modern sebagai penerus sistem ATACMS.
Meski menawarkan kemampuan lebih canggih, jumlah PrSM yang tersedia masih terbatas karena produksi massalnya masih berada pada tahap awal.
Produksi Rudal Masih Belum Mengejar Kebutuhan
Laporan sebelumnya pada awal perang Iran juga menyebutkan bahwa stok PrSM mulai menipis setelah rudal tersebut digunakan untuk pertama kalinya dalam operasi tempur.
Selama periode 2024–2025, Amerika Serikat hanya memesan sekitar 380 unit PrSM. Pada 2026, kapasitas produksi ditargetkan meningkat menjadi sekitar 400 rudal per tahun.
Dalam beberapa tahun mendatang, kapasitas tersebut direncanakan meningkat hingga empat kali lipat agar mampu memenuhi kebutuhan operasional sekaligus memulihkan cadangan rudal secara bertahap.
Persediaan Rudal AS Jadi Sorotan
Meskipun produksi PrSM terus ditingkatkan, proses pemulihan stok diperkirakan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dalam jangka pendek, persediaan rudal presisi jarak jauh Angkatan Darat Amerika Serikat masih dinilai terbatas.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran apabila AS harus menghadapi konflik berskala besar yang membutuhkan penggunaan amunisi presisi dalam jumlah jauh lebih besar.
Pengamat menilai situasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari terbatasnya pengadaan rudal dalam beberapa tahun terakhir, masa transisi menuju sistem persenjataan generasi baru, hingga tingginya konsumsi amunisi selama perang Iran.
Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi pada sejumlah sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Salah satunya adalah rudal pencegat PAC-3 MSE, yang kapasitas produksinya juga masih dalam proses peningkatan untuk beberapa tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
1

















































