Ekonomi DIY Tumbuh 5,75% pada Triwulan II 2026, Tertinggi di Jawa

3 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA— Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan II 2026 mencapai 5,75% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan DIY sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa pada periode tersebut.

Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi DIY juga mengalami kenaikan 1,12% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif semester I 2026, perekonomian DIY tumbuh 5,80% (cumulative-to-cumulative/ctc) dibandingkan semester I 2025.

Secara spasial di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi DIY sebesar 5,75% yoy berada di posisi pertama, disusul Jawa Barat sebesar 5,73% dan Jawa Timur sebesar 5,72%. Adapun kontribusi ekonomi DIY terhadap perekonomian Pulau Jawa tercatat 1,52%, sedangkan terhadap perekonomian nasional sebesar 0,86%.

Seluruh Lapangan Usaha Tumbuh Positif

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan pertumbuhan ekonomi secara tahunan didorong oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha.

Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 13,98%, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 10,56%, serta jasa lainnya sebesar 9,79%.

Di sisi lain, terdapat lima sektor yang menjadi penggerak utama perekonomian DIY, yakni:

Industri pengolahan.
Penyediaan akomodasi dan makan minum.
Konstruksi.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Informasi dan komunikasi.

Kelima sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 52,19% terhadap perekonomian DIY.

"Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi produksi dengan kontribusi sebesar 1,04 poin persen terhadap total pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Penopang Utama

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tercatat mengalami pertumbuhan positif sepanjang triwulan II 2026.

Menurut Endang, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), masing-masing dengan kontribusi 62,29% dan 35,80%.

Adapun pertumbuhan masing-masing komponen meliputi:

Konsumsi Pemerintah: 18,34%.
Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT): 9,45%.
Pembentukan PMTB: 6,95%.
Ekspor: 4,93%.
PKRT: 4,80%.
Impor: 2,30%.
Pertumbuhan Melambat Dibanding Triwulan I

Meski menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa, laju pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan II 2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2026, ekonomi DIY tumbuh 5,84% yoy, sedangkan pada triwulan II menjadi 5,75% yoy.

Endang menjelaskan perlambatan tersebut dipengaruhi menurunnya aktivitas sektor pertanian setelah tingginya musim panen pada triwulan I.

"Nah ini memang sektor pertanian kan agak sedikit melambat. Kalau yang triwulan I itu kan panen, triwulan II ini kan sudah sudah berkurang," ujarnya.

Selain faktor pertanian, perbedaan momentum Ramadan dan Idulfitri juga memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.

Menurut Endang, pada 2026 seluruh rangkaian Ramadan dan Idulfitri berlangsung di triwulan I. Berbeda dengan tahun sebelumnya ketika Idulfitri berada di penghujung Maret sehingga aktivitas Lebaran masih berlanjut pada April atau triwulan II.

"Kalau sekarang kan dua-duanya nih, Ramadan dan Idulfitri itu ada terjadi di triwulan I. Nah, sehingga kemarin [ekonomi triwulan I] 5,84% terus kita sekarang 5,75%. Tetapi bukan lebih rendah, tapi melambat," jelasnya.

Meski demikian, Endang menilai capaian tersebut tetap positif karena DIY masih menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa.

"Masih menjadi pertumbuhan tertinggi di Jawa untuk triwulan II 2026," ujarnya.

BI DIY Optimistis 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyampaikan optimismenya bahwa pertumbuhan ekonomi DIY sepanjang 2026 akan berada pada kisaran 5,7% hingga 6,5% yoy.

Optimisme tersebut didukung oleh beberapa faktor, antara lain masih kuatnya aktivitas domestik seiring terjaganya konsumsi masyarakat dan kenaikan UMP DIY 2026, penguatan interkoneksi antarwilayah Joglo-Semar, serta peluang perluasan pasar ekspor baru setelah penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

"Mencermati kondisi terkini, Kantor Perwakilan BI DIY optimis pertumbuhan ekonomi DIY pada 2026 diprakirakan akan melanjutkan pertumbuhan positif pada kisaran 5,7-6,5% yoy," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Dibyo itu menambahkan tantangan dari kondisi ekonomi global maupun domestik tetap perlu diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi DIY berlangsung secara berkualitas dan berkelanjutan.

Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Daerah (Pemda), BI, dan berbagai instansi terkait akan terus diperkuat melalui percepatan konektivitas antarwilayah, integrasi transportasi, serta penguatan promosi pariwisata.

Selain itu, BI DIY juga mendorong diversifikasi produk ekspor melalui pengembangan komoditas lokal yang berpotensi menembus pasar internasional, disertai pemberian insentif dan kepastian berusaha guna menarik minat investor.

"Diversifikasi produk ekspor dengan mengidentifikasi produk lokal yang memiliki potensi pasar internasional, serta pemberian insentif dan kepastian berusaha dalam rangka menarik minat calon investor," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news