LSM Sarang Lidi Beri Pendampingan Korban Dugaan Perundungan di Bantul

1 hour ago 1

LSM Sarang Lidi Beri Pendampingan Korban Dugaan Perundungan di Bantul

Foto ilustrasi kekerasan pada anak-anak, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL— Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul terus menjadi sorotan publik. Perhatian berbagai pihak kini mengarah pada upaya pemulihan korban, yang disebut mengalami tekanan psikologis cukup berat selama menempuh pendidikan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sarang Lidi atau Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan DIY turun langsung memberikan pendampingan. Ketua LSM Sarang Lidi DIY, Yuliani Putri Sunardi, mengungkapkan telah bertemu langsung dengan korban dan mendengarkan kronologi kejadian secara rinci.

Menurut Yuliani, persoalan bermula saat korban diminta oleh seorang guru untuk mencari pelaku kecurangan di sekolah. Namun setelah pelaku ditemukan dan dilaporkan, situasi justru berbalik dan korban diduga menjadi pihak yang disalahkan.

“Awalnya dia diminta mencari pelaku kecurangan. Setelah dilaporkan, justru dia yang dituduh. Dari situ tekanan mulai muncul,” ujar Yuliani, Selasa (24/6/2026).

Korban mengaku mengalami perlakuan yang membuatnya tertekan, termasuk dimarahi di depan kelas hingga kesulitan menjalin pertemanan. Kondisi tersebut berlangsung cukup lama, bahkan hingga memasuki kelas XII.

“Dia sering dimarahi di depan teman-temannya. Dampaknya, dia merasa dikucilkan. Selama sekolah hampir tidak punya teman, hanya satu yang masih mendukung,” ungkapnya.

Yuliani menilai tekanan tersebut berdampak serius terhadap kesehatan mental korban. Bahkan, korban sempat ingin keluar dari sekolah karena merasa tidak kuat menghadapi situasi tersebut, meski keinginan itu tidak terwujud.

Saat ini, fokus utama pendampingan adalah pemulihan psikologis korban. LSM Sarang Lidi berencana membawa korban ke psikolog berpengalaman untuk membantu mengatasi trauma yang masih membekas.

“Selama ini korban sudah hampir satu tahun menjalani pengobatan di psikiater, tetapi menurut pengakuannya belum ada perubahan signifikan. Kami ingin mencoba pendekatan lain agar emosinya bisa tersalurkan dengan baik,” jelas Yuliani.

Ia juga mengungkapkan bahwa korban merupakan sosok yang cerdas, terutama di bidang teknologi informasi. Namun tekanan yang dialami membuatnya menyimpan kemarahan dan luka batin mendalam, terutama karena merasa kehilangan lingkungan pertemanan.

Kini, korban telah diterima di salah satu perguruan tinggi negeri dan bersiap memulai fase baru dalam hidupnya. Oleh karena itu, pemulihan mental menjadi prioritas agar proses pendidikan selanjutnya dapat berjalan optimal.

“Kami ingin dia pulih sepenuhnya, agar bisa menjalani kuliah dengan baik tanpa ketergantungan pada obat,” katanya.

Di sisi lain, keluarga korban berharap kasus ini dapat diselesaikan secara tuntas sebagai bentuk keadilan, sekaligus menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.

Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi evaluasi serius bagi dunia pendidikan. Ia memastikan pemerintah daerah melalui Dinas P3APPKB telah melakukan langkah-langkah pendampingan dan perlindungan terhadap korban.

“Peristiwa ini harus menjadi yang terakhir. Tidak boleh ada ruang bagi bullying di lingkungan sekolah,” tegas Halim.

Kasus yang sempat viral di media sosial ini diharapkan menjadi momentum perbaikan sistem pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news