Jumali Selasa, 16 Juni 2026 19:37 WIB

Aksi Vozinha/ Instagram: Fifaworldcup
Harianjogja.com, JOGJA—Kejutan besar terjadi pada laga Grup H Piala Dunia 2026. Tim debutan Tanjung Verde berhasil menahan imbang Spanyol dengan skor 0-0 dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Atlanta, Senin (15/6/2026) malam waktu setempat.
Hasil tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar pada fase awal turnamen. Spanyol yang datang dengan status juara Eropa 2024 dan salah satu kandidat juara dunia gagal membongkar rapatnya pertahanan wakil Afrika tersebut.
Di balik keberhasilan Tanjung Verde mencuri satu poin berharga, sosok kiper veteran Vozinha menjadi figur yang paling disorot. Penjaga gawang berusia 40 tahun itu tampil luar biasa dengan serangkaian penyelamatan penting yang menggagalkan peluang-peluang emas Spanyol.
Begitu peluit panjang berbunyi, emosi Vozinha tak terbendung. Ia terlihat menangis saat menerima penghargaan pemain terbaik pertandingan.
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya," ujarnya seusai laga dikutip dari BBC.
Ia mengaku teringat kedua orang yang telah membesarkannya tersebut karena kini mereka telah meninggal dunia. Di saat yang sama, ia juga merasa sedih karena sang ibu tidak bisa hadir langsung menyaksikan momen bersejarah tersebut akibat kendala visa.
"Saya ingin sekali beliau ada di sini," katanya.
Lahir dengan nama Josimar Dias, Vozinha mencatat sejarah sebagai pemain tertua yang tampil dalam pertandingan debut Piala Dunia negaranya. Pada usia 40 tahun 12 hari, ia memecahkan rekor yang sebelumnya baru saja dicatat kiper Curacao, Eloy Room.
Perjalanan kariernya menuju panggung sepak bola terbesar dunia juga tidak mudah. Vozinha baru memulai karier profesional pada usia 25 tahun, usia yang tergolong terlambat bagi seorang pesepak bola profesional.
"Saya sempat berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi saya tetap bertahan karena mimpi bermain di Piala Dunia," ungkapnya.
Penghargaan pemain terbaik pertandingan yang diraihnya pun dipersembahkan untuk seluruh rekan setim.
"Saya memang menjadi pemain terbaik pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan setim saya. Tanpa mereka, tidak ada yang mungkin terjadi," ujarnya.
Tanjung Verde sendiri merupakan negara kepulauan yang berada sekitar 600 kilometer dari pesisir barat Afrika. Dengan jumlah penduduk sekitar setengah juta jiwa, mereka menjadi salah satu negara terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia.
Sejak kecil, Vozinha menghadapi berbagai tantangan. Meski dikenal sebagai salah satu kiper terbaik di pulau tempat tinggalnya, ia kerap tidak dipilih karena dianggap memiliki postur yang kurang ideal.
Demi mengejar karier profesional, ia kemudian merantau ke Portugal sebelum melanjutkan petualangan sepak bolanya ke Slovakia, Angola, Moldova, hingga Siprus. Saat ini ia memperkuat klub divisi dua Portugal, GD Chaves.
Penampilannya melawan Spanyol semakin istimewa karena ia menjadi satu-satunya kiper berusia di atas 40 tahun yang mampu mencatat tujuh penyelamatan dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 1966.
Keberhasilan Tanjung Verde menahan Spanyol juga menjadi bukti bahwa mereka tidak datang ke Piala Dunia hanya sebagai pelengkap.
"Banyak yang mengira kami datang hanya untuk menikmati Piala Dunia. Tetapi kami datang untuk bersaing dan berjuang demi negara kami," tegas Vozinha.
Hasil imbang tersebut menjadi modal berharga bagi Tanjung Verde untuk menatap laga-laga berikutnya di Grup H sekaligus mempertegas bahwa dalam sepak bola, status unggulan bukan jaminan kemenangan. Kisah Vozinha dan Tanjung Verde menjadi pengingat bahwa mimpi, kerja keras, dan kebersamaan masih memiliki tempat istimewa di panggung sepak bola dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
4

















































