Kematian Dini Usia 35-39 Tahun Mulai Meningkat, Ini Penyebabnya

6 hours ago 5

Kematian Dini Usia 35-39 Tahun Mulai Meningkat, Ini Penyebabnya

Ilustrasi perenggangan di dalam mobil. Canva

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kematian dini atau kematian prematur pada kelompok usia produktif 35-39 tahun mulai menunjukkan tren peningkatan di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru di tengah meningkatnya usia harapan hidup masyarakat yang kini mencapai 74 tahun, karena usia harapan hidup sehat masih tertinggal dan berbagai penyakit kronis mulai menyerang penduduk pada usia produktif.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan usia harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini telah meningkat menjadi 74 tahun, naik dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran 72 tahun. Angka tersebut juga semakin mendekati target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 76 tahun.

Meski demikian, peningkatan usia harapan hidup belum diikuti dengan membaiknya usia harapan hidup sehat masyarakat. Menurut Maria, rata-rata masyarakat Indonesia hanya menikmati kondisi tubuh yang sehat hingga sekitar usia 60 tahun. Setelah memasuki usia tersebut, banyak masyarakat mulai hidup dengan berbagai penyakit.

Pemerintah pun menargetkan usia harapan hidup sehat dapat meningkat menjadi 65 tahun melalui berbagai upaya pencegahan penyakit dan perbaikan pola hidup.

Kematian Prematur Mulai Naik pada Usia Produktif

Maria menjelaskan kenaikan usia harapan hidup saat ini terutama dipengaruhi oleh menurunnya angka kematian bayi dan kelompok usia muda. Namun, capaian tersebut diiringi meningkatnya kematian prematur pada kelompok usia produktif.

"Artinya meskipun kematian kita itu di usia infant atau di usia bayi itu berkurang, dan kita survive-nya lebih baik, tapi kita matinya juga kecepatan. Jadi artinya apa? Kita premature death atau kematian di usia sebelum rata-rata usia penduduk atau di bawah 72 itu tinggi. Dan ternyata mulainya di usia 35-39 itu mulai naik," kata Maria dalam Seminar Nasional bertajuk Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, perubahan pola kematian di Indonesia saat ini didominasi oleh meningkatnya kasus penyakit tidak menular, khususnya penyakit kardiovaskular.

Strok Masih Jadi Penyebab Kematian Tertinggi

Maria mengungkapkan strok masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Selain itu, penyakit jantung iskemik kini naik dari peringkat keempat menjadi penyebab kematian nomor dua.

Di sisi lain, diabetes meningkat dari posisi kesembilan menjadi penyebab kematian nomor empat. Sementara gagal ginjal kini juga telah masuk dalam 10 besar penyebab kematian nasional.

Menurut Maria, tingginya angka kematian dini tidak terlepas dari meningkatnya faktor risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, hingga pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).

"Kalau kita lihat faktor risiko di dalamnya, kenapa bisa jantung, kenapa bisa strok, kenapa bisa gagal ginjal, itu sangat dipengaruhi oleh diabetes. Diabetes dipengaruhi oleh perilaku makan makanan manis, dipengaruhi oleh hipertensi, hipertensi dipengaruhi oleh perilaku makan makanan asin, kemudian juga dipengaruhi oleh status gizi obesitas," ujarnya.

Bonus Demografi Terancam Jika Penyakit Kronis Meningkat

Maria menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena Indonesia hanya memiliki waktu sekitar 10-15 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Apabila penyakit kronis terus menyerang kelompok usia produktif, produktivitas tenaga kerja nasional berpotensi menurun sehingga dapat memengaruhi pembangunan ekonomi di masa mendatang.

Ia juga mengingatkan bahwa penyakit kardiovaskular kini menjadi ancaman serius karena sering berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali.

"Kalau kita sekarang sering mendengarkan anak muda lari meninggal serangan jantung karena apa? Karena penyakit-penyakit kardiovaskular ini enggak seperti dulu penyakit infeksi, rasanya demam, diare, keringat, sakit kepala," ucapnya.

Kemenkes Dorong Pencegahan Lewat Pola Hidup Sehat

Maria menegaskan pola makan masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi meningkatnya penyakit tidak menular. Karena itu, pemerintah terus mendorong transformasi layanan kesehatan yang berorientasi pada pencegahan.

Langkah tersebut dilakukan melalui perbaikan pola konsumsi masyarakat, peningkatan asupan gizi seimbang, serta pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak agar risiko penyakit kronis pada usia produktif dapat ditekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news