Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Padukuhan Banyu yang berada di wilayah Kalurahan Rejosari, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, secara etimologis berasal dari bahasa Jawa yang berarti “air”. Namun ironisnya, hingga kini warga di kawasan tersebut masih menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air bersih, terutama ketika musim kemarau melanda.
Kondisi tersebut tergambar dari keseharian warga, salah satunya Ngatini, warga RT 06 di Padukuhan Banyu, yang tampak berusaha mengisi air dari kran di depan rumahnya. Sayangnya, aliran air dari instalasi tersebut tidak stabil sehingga galon air mineral yang ia gunakan sebagai wadah tidak kunjung penuh.
Untuk mempercepat pengisian, ia beberapa kali memutar kran pengatur pada water meter instalasi Sistem Penyediaan Air Minum Pedesaan (Spamdes) yang terpasang di rumahnya. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena air tetap mengalir sangat lambat.
Menjelang sore hari, Ngatini akhirnya menghentikan aktivitas pengisian air meski galon yang ia bawa baru terisi sekitar seperempatnya. Air tersebut kemudian ia bawa ke kandang sapi di samping rumah untuk kebutuhan ternaknya.
“Kadang alirannya lancar, tapi kadang macet seperti sekarang,” kata Ngatini kepada Harianjogja.com, Selasa (16/6/2026).
Ia mengungkapkan bahwa persoalan air bersih masih menjadi tantangan utama di wilayahnya. Meski demikian, ia mengakui keberadaan program sumur bor dalam beberapa tahun terakhir cukup membantu mengurangi kesulitan warga dalam mendapatkan air bersih.
“Dulu sempat ada bantuan droping air, tapi sekarang sudah tidak. Sebab, warga sudah mulai mendapatkan aliran air bersih dari spam yang terpasang,” katanya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Sumarno, warga RT 06 di wilayah yang sama. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah terdapat sumber air dari sumur bor yang dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun demikian, jarak sumber air yang cukup jauh dari permukiman menjadi kendala utama dalam distribusi air. Selain itu, gangguan pada mesin pompa juga kerap menyebabkan aliran air tidak stabil.
“Kadang masih mati sehingga aliran macet. Kalau matinya lama, seringkali warga mencari air di sumur-sumur galian milik warga lain yang masih berfungsi,” katanya.
Sumarno berharap ada solusi yang lebih optimal untuk sistem distribusi air bersih, terutama karena sumber sumur bor berada sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Meskipun debit air tergolong besar, jarak distribusi menjadi kendala teknis yang belum sepenuhnya teratasi.
“Kalau sumbernya tidak ada masalah karena debit air besar, tapi dikarenakan jaraknya terlalu jauh dari rumah warga, jadi sering terjadi kendala sehingga aliran tidak lancar,” katanya.
Sebagai informasi, Padukuhan Banyu merupakan salah satu padukuhan di Kalurahan Rejosari, Kapanewon Semin, yang dikenal unik karena namanya berarti air dalam bahasa Jawa. Namun, kondisi geografis berupa perbukitan membuat wilayah ini justru kesulitan mendapatkan air bersih.
Dari total sekitar 190 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar dalam sembilan Rukun Tetangga (RT), sebagian warga masih harus menghadapi keterbatasan akses air bersih, terutama saat musim kemarau panjang.
Upaya pengeboran sumur sudah dilakukan di banyak titik, namun tidak semuanya berhasil menghasilkan sumber air yang dapat dimanfaatkan.
“Sudah puluhan titik yang dibor, tapi yang berhasil hanya satu dua sumur saja. Kalau musim kemarau seperti sekarang, masih ada warga yang kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Heriyadi, warga setempat.
Heriyadi juga menuturkan bahwa asal-usul nama Padukuhan Banyu tidak diketahui secara pasti, namun cerita turun-temurun menyebutkan adanya pohon beringin besar dan sumber mata air yang dulu menjadi pusat kehidupan warga.
Dalam cerita masyarakat, sumber air tersebut diyakini sebagai asal mula penamaan padukuhan. Bahkan, terdapat kisah bahwa sumber air tersebut “dipindahkan” oleh sosok sakti sehingga wilayah yang dulu subur air kini mengalami kekurangan, terutama saat kemarau.
Sementara itu, Lurah Kalurahan Rejosari, Sunarto, juga menyampaikan bahwa asal-usul nama Padukuhan Banyu masih bersumber dari cerita lisan para sesepuh. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan sumber air yang kini menjadi lokasi kegiatan bersih desa.
“Ada sumbernya, tapi airnya sudah tidak banyak. Di dekatnya sempat dibor agar bisa dimanfaatkan oleh warga, tapi malah tidak keluar airnya,” kata Sunarto.
Ia juga menyampaikan versi lain terkait sejarah lokal yang dikaitkan dengan pertunjukan wayang kulit dan peristiwa angin kencang yang diyakini masyarakat sebagai bagian dari asal-usul nama sejumlah tempat di wilayah sekitar, seperti Watu Kelir, Watu Bonang di Sukoharjo, hingga Gunung Kotak di Wonogiri.
Sukoharjo dan Wonogiri juga disebut dalam kisah tersebut sebagai lokasi jatuhnya benda-benda dari pertunjukan wayang yang terbawa angin.
“Makanya dinamakan Watu Bonang karena gamelan untuk pertunjukan terbawa sampai kesana,” katanya.
Cerita lain menyebutkan bahwa angin baru berhenti setelah dalang menancapkan tongkat, dan dari titik tersebut kemudian muncul air yang dipercaya sebagai bagian dari sejarah nama Padukuhan Banyu.
Sementara itu, Dukuh Banyu Subandi menjelaskan bahwa saat ini sudah ada perbaikan bertahap melalui program sumur bor yang dapat dimanfaatkan warga. Sebelum program berjalan optimal, bantuan air bersih melalui droping juga pernah dilakukan saat musim kemarau.
“Terakhir bantuan air bersih diberikan tiga tahun lalu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sistem Spamdes masih membutuhkan penyempurnaan, terutama pada bagian pompa dan kelistrikan. Salah satu kebutuhan mendesak adalah penggunaan stabilizer tegangan listrik agar peralatan tidak mudah rusak.
“Ini yang jadi Pekerjaan Rumah [PR] yang harus diselesaikan. Salah satunya butuh alat stabilizer tegangan listrik agar pompa tidak mudah rusak,” katanya.
Hingga saat ini, terdapat sekitar empat sumur bor yang sudah dimanfaatkan warga di Padukuhan Banyu. Dari fasilitas tersebut, sekitar 250 KK telah mendapatkan akses air bersih, meskipun secara keseluruhan terdapat sekitar 265 KK yang tinggal di wilayah tersebut. Sebagian warga lainnya masih mengandalkan sumur gali untuk kebutuhan harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

5 hours ago
3

















































