Dokter Ungkap Kolagen Kulit Mulai Turun sejak Usia 25 Tahun

8 hours ago 7

Newswire

Newswire Sabtu, 22 Agustus 2026 20:47 WIB

Harianjogja.com, JAKARTA — Produksi kolagen alami dalam tubuh mulai berkurang sekitar 1% setiap tahun setelah seseorang berusia 25 tahun. Kondisi tersebut kemudian semakin terasa pada usia 40-an dan dapat memicu munculnya berbagai tanda penuaan pada kulit.

Sejumlah dokter estetika menjelaskan bahwa penurunan kolagen menjadi salah satu dasar berkembangnya perawatan estetika berbasis stimulasi kolagen. Perawatan tersebut bekerja dengan merangsang sel tubuh agar memproduksi kolagen secara alami.

Dokter umum dr. Lanny Juniarti, Dipl.AAAM mengatakan tidak semua prosedur yang merangsang produksi kolagen dapat langsung dikategorikan sebagai tindakan regeneratif estetika.

“Sesuatu yang sifatnya stimulasi kolagen juga belum tentu kita bisa sebut itu regeneratif estetik. Ada syarat-syaratnya. Harus berbasis bukti bahwa memang dia punya kemampuan regeneratif,” ujar Lanny dalam konferensi pers Nordberg Medical Indonesia di The Langham Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Lanny, pendekatan regeneratif tidak hanya mempertimbangkan bahan yang dimasukkan ke dalam kulit. Respons jaringan terhadap bahan tersebut serta dampaknya dalam jangka panjang juga perlu diperhatikan.

Sementara itu, dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Deasy Lius, Sp.DVE menjelaskan kolagen stimulator bekerja dengan memasukkan bahan polimer ke dalam kulit untuk merangsang sel tubuh memproduksi kolagen.

“Kolagen stimulator itu adalah bahan polimer yang disuntikan ke dalam kulit kita. Jadi dia bukan kolagen sendiri yang disuntikan ke kulit kita, tapi suatu bahan yang membuat sel kita produksi kolagen sendirinya,” kata Deasy.

Kolagen merupakan salah satu komponen yang berperan dalam menopang struktur kulit. Ketika produksinya berkurang, tanda-tanda penuaan seperti kulit kendur dan kerutan dapat semakin terlihat.

Mengenal PLLA dalam Perawatan Kulit

Salah satu bahan yang berkembang dalam pendekatan stimulasi kolagen adalah poly-L-lactic acid (PLLA). Bahan tersebut bukan teknologi baru dalam dunia estetika, tetapi karakteristik partikel yang digunakan dapat berbeda.

Pada PLLA konvensional, partikel disebut memiliki banyak rongga dan bentuk yang tidak beraturan. Sementara itu, Juläine menggunakan PLLA yang dibentuk menjadi mikrosfer dengan ukuran lebih seragam melalui teknologi LASYNPRO.

Teknologi tersebut juga dirancang untuk mengurangi rongga pada partikel. Pendekatan ini ditujukan untuk menghasilkan pembentukan kolagen melalui mekanisme dengan tingkat peradangan yang rendah.

Juläine merupakan bio-aktivator kulit berbasis asam laktat yang menggunakan mikrosfer PLLA. Nordberg Medical juga menyebut produk tersebut meraih penghargaan Best Regenerative Aesthetic Solution dalam AMWC 2026.

Meski demikian, Deasy mengingatkan bahwa stimulasi kolagen tetap memiliki risiko apabila digunakan secara berlebihan atau bahan ditempatkan pada lokasi yang tidak tepat. Respons tersebut dapat memicu fibrosis atau pembentukan jaringan menyerupai jaringan parut.

“Dalam setiap tindakan medis, selalu ada potensi efek samping. Karena itulah ketika kita memilih sesuatu, kita harus cari yang profil manfaat dan risikonya paling tinggi. Manfaatnya kalau bisa setinggi mungkin, risikonya kalau bisa sederhana mungkin,” ujarnya.

Dokter juga menyarankan pemeriksaan kondisi kulit sebelum menjalani tindakan estetika. Masalah kulit seperti jerawat perlu ditangani terlebih dahulu, sementara penggunaan kolagen stimulator harus disesuaikan dengan kondisi dan keluhan masing-masing pasien.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news