Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengalami pemadaman listrik dalam beberapa hari terakhir. Gangguan juga sempat dirasakan warga di sebagian Kapanewon Kalasan dan Prambanan, Kabupaten Sleman, pada Kamis (18/6/2026) malam.
PT PLN (Persero) memastikan tengah melakukan percepatan pemulihan sistem kelistrikan nasional dengan mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain serta melakukan pengaturan operasi sistem agar keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan langkah pemulihan secara bertahap di lapangan.
“PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan,” ujar Gregorius dalam keterangannya dikutip dari Antara, Jumat (19/6/2026).
PLN menegaskan bahwa secara umum sistem kelistrikan Jawa saat ini masih beroperasi dan dalam kondisi terkendali. Namun, untuk menjaga keandalan pasokan kepada pelanggan, perusahaan melakukan manajemen beban secara terbatas dan terukur di sejumlah wilayah terdampak.
Kebutuhan akan generator set (genset) semakin meningkat seiring risiko pemadaman listrik yang dapat mengganggu aktivitas rumah tangga maupun operasional usaha. Namun, memilih genset tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan harga. Kesalahan menentukan kapasitas atau spesifikasi justru berpotensi menimbulkan kerusakan pada peralatan elektronik hingga memperpendek usia genset itu sendiri.
Sebelum membeli, masyarakat perlu memahami sejumlah faktor penting agar genset yang dipilih mampu bekerja optimal, aman digunakan, dan sesuai kebutuhan daya listrik yang diperlukan.
Hitung Kebutuhan Daya Secara Tepat
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung total kebutuhan daya listrik dari perangkat yang akan digunakan saat terjadi pemadaman.
Peralatan seperti AC, kulkas, lampu, pompa air, televisi, hingga perangkat internet biasanya menjadi prioritas utama untuk tetap menyala ketika pasokan listrik utama terputus.
Perlu diperhatikan bahwa sejumlah perangkat yang menggunakan motor atau kompresor memerlukan daya awal atau surge watt yang lebih besar dibandingkan daya normal saat beroperasi. AC, kulkas, dan pompa air umumnya membutuhkan daya awal sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi ketika pertama kali dinyalakan.
Karena itu, perhitungan kebutuhan genset sebaiknya dilakukan dengan menjumlahkan daya operasional (running watt) dan kebutuhan daya awal (surge watt).
Selain itu, disarankan memilih genset dengan kapasitas sekitar 20% lebih besar dibanding kebutuhan daya maksimum. Cadangan kapasitas ini penting untuk menghindari beban berlebih (overload) yang dapat memicu kerusakan mesin maupun gangguan kelistrikan.
Pilih Jenis Genset Sesuai Lokasi Penempatan
Di pasaran terdapat dua jenis genset yang umum digunakan, yakni genset terbuka (open) dan genset tertutup (silent).
Genset open umumnya memiliki harga lebih terjangkau, tetapi menghasilkan suara yang lebih bising karena tidak dilengkapi peredam suara. Jenis ini lebih cocok ditempatkan di area khusus yang terpisah dari aktivitas penghuni atau memiliki ruang kedap suara.
Sebaliknya, genset silent telah dilengkapi kanopi peredam suara (soundproof) yang mampu mengurangi tingkat kebisingan secara signifikan. Selain meredam suara, pelindung tersebut juga membantu melindungi mesin dari panas dan hujan sehingga lebih sesuai digunakan di lingkungan rumah tinggal, ruko, maupun kawasan padat penduduk.
Genset Inverter Lebih Aman untuk Perangkat Elektronik
Bagi pengguna yang ingin menyalakan perangkat elektronik sensitif seperti laptop, komputer, televisi pintar, hingga telepon seluler, genset inverter menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
Teknologi inverter mampu menghasilkan arus listrik yang lebih stabil dengan tingkat distorsi yang rendah. Kondisi tersebut membuat pasokan listrik menjadi lebih aman bagi perangkat digital yang rentan mengalami kerusakan akibat tegangan yang naik turun.
Stabilitas tegangan juga membantu menjaga usia pakai perangkat elektronik agar tetap optimal dalam jangka panjang.
Sesuaikan dengan Jenis Bahan Bakar
Pemilihan bahan bakar turut memengaruhi efisiensi operasional genset.
Genset berbahan bakar bensin umumnya digunakan untuk kapasitas kecil hingga menengah atau di bawah 10.000 watt. Selain lebih mudah dioperasikan, mesin bensin biasanya menghasilkan suara yang lebih halus dan mudah dinyalakan saat kondisi dingin.
Sementara itu, genset diesel atau berbahan bakar solar lebih banyak digunakan untuk kapasitas besar dan kebutuhan operasional jangka panjang. Mesin diesel dikenal memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih hemat, tenaga yang besar, serta daya tahan yang baik untuk penggunaan intensif.
Meski demikian, tingkat kebisingannya cenderung lebih tinggi dibandingkan genset berbahan bakar bensin.
Perhatikan Sistem Keamanan dan Kemudahan Pengoperasian
Selain kapasitas dan jenis bahan bakar, fitur keamanan juga perlu menjadi pertimbangan utama saat memilih genset. Salah satu fitur penting adalah Automatic Voltage Regulator (AVR), yang berfungsi menjaga kestabilan tegangan listrik sehingga tidak mengalami fluktuasi ekstrem yang berpotensi merusak perangkat elektronik.
Kemudahan pengoperasian juga menjadi faktor penting, terutama untuk genset berkapasitas di atas 2.000 watt. Pada kapasitas tersebut, sistem electric starter lebih direkomendasikan dibandingkan starter manual karena pengguna cukup menekan tombol atau memutar kunci saat menyalakan mesin.
Dengan memahami kebutuhan daya, jenis genset, bahan bakar, hingga fitur keamanan yang tersedia, konsumen dapat menentukan pilihan genset yang lebih tepat untuk rumah maupun usaha. Pemilihan yang sesuai tidak hanya menjamin pasokan listrik cadangan tetap tersedia saat dibutuhkan, tetapi juga membantu menjaga keamanan perangkat elektronik dan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
6

















































