Wayang Menak hingga Gua Jepang Masuk Daftar 12 Cagar Budaya Baru

7 hours ago 2

Wayang Menak hingga Gua Jepang Masuk Daftar 12 Cagar Budaya Baru

Proses kajian lapangan terhadap papan sengatan milik Sosrosuraji di Kalurahan Giripanggung, Tepus untuk ditetapkan sebagai cagar budaya baru di Gunungkidul. Foto diambil beberapa waktu lalu./ Dinas Kebudayaan Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperluas perlindungan terhadap warisan sejarah dan budaya daerah. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 12 objek bersejarah telah direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya baru setelah menyelesaikan proses kajian dan sidang Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Penambahan status cagar budaya ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi identitas budaya masyarakat Gunungkidul. Selain melindungi fisik objek, penetapan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.

Penyiap Naskah Tim Ahli Cagar Budaya Kundha Kabudayan Gunungkidul, Ari Kristian, mengatakan pada 2026 pemerintah menargetkan penetapan 21 cagar budaya baru. Hingga pertengahan tahun, proses kajian terhadap 12 objek telah selesai dan seluruhnya telah direkomendasikan untuk mendapatkan penetapan resmi dari bupati.

“Proses kajian sudah selesai dan saat ini tinggal menunggu Surat Keputusan Bupati yang sedang diproses melalui Bagian Hukum Setda Gunungkidul,” ujar Ari.

Dari 12 objek yang direkomendasikan, tiga di antaranya merupakan peninggalan Gua Jepang yang berada di Kalurahan Girijati, Kapanewon Purwosari. Situs tersebut menjadi salah satu saksi sejarah masa pendudukan Jepang di wilayah pesisir selatan Gunungkidul.

Selain itu, terdapat sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Kristen di Gunungkidul, yakni prasasti pendirian Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wonosari, lonceng gereja, serta dua eks struktur kuda-kuda bangunan di sisi timur dan barat gereja tersebut.

Objek lain yang masuk daftar rekomendasi adalah papan sangatan milik Sosro Suraji di Padukuhan Klapaloro, Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus. Peninggalan tersebut dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat karena berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat pada masa lalu.

Sementara itu, sebuah fragmen arca yang ditemukan di kawasan Gua Songobranti, Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, juga direkomendasikan menjadi cagar budaya baru. Temuan tersebut menambah daftar peninggalan arkeologis yang memperkuat jejak sejarah kawasan pesisir selatan Gunungkidul.

Adapun tiga objek lainnya berasal dari koleksi wayang menak milik Harjo Sukanto di Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen. Koleksi ini dinilai memiliki nilai budaya tinggi karena berkaitan dengan tradisi seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat Jawa.

Ari memastikan proses identifikasi dan kajian terhadap objek diduga cagar budaya (ODCB) masih terus berjalan. Dengan sejumlah objek yang masih dalam tahap penelitian, pihaknya optimistis target penetapan 21 cagar budaya baru tahun ini dapat tercapai.

“Kajian masih berlangsung terhadap sejumlah objek lain yang memiliki potensi ditetapkan sebagai cagar budaya,” katanya.

Analis Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Hadi Risma, menjelaskan penetapan status cagar budaya tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap objek harus melewati tahapan pendataan, verifikasi lapangan, penyusunan kajian akademik, hingga sidang TACB sebelum direkomendasikan untuk ditetapkan.

Menurut dia, TACB terdiri atas lima anggota yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, mulai dari arkeolog, sejarawan, hingga tenaga yang memahami aspek administrasi dan manajemen pelestarian budaya.

“Semua proses harus dilalui. Jika data dan nilai pentingnya tidak memenuhi syarat, maka objek tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai cagar budaya,” kata Hadi.

Dengan bertambahnya jumlah cagar budaya, Pemkab Gunungkidul berharap warisan sejarah yang tersebar di berbagai wilayah dapat terlindungi lebih baik sekaligus menjadi sumber edukasi dan penguatan identitas budaya bagi generasi mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news