UEFA Kritik VAR Berlebihan, Rosetti Tegaskan Ini Bukan PlayStation

1 hour ago 1

Jumali

Jumali Selasa, 11 Agustus 2026 10:07 WIB

UEFA Kritik VAR Berlebihan, Rosetti Tegaskan Ini Bukan PlayStation

PSSI menguji coba VAR./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA— Teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang seharusnya menjadi penegak keadilan di lapangan hijau, justru kini kerap disebut sebagai perusak kenikmatan sepak bola.

Kepala Wasit UEFA, Roberto Rosetti, angkat bicara di tengah gelombang frustrasi publik. Ia dengan tegas mengkritik penggunaan VAR yang dinilai sudah terlalu mendetail dan melenceng dari tujuan awalnya.

"Ini sepak bola, bukan PlayStation!" tegas Rosetti seusai menggelar pertemuan bersama para pimpinan liga papan atas Eropa, dikutip dari BBC.

Pernyataan ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan peluncuran platform bernama Clear Line, sebuah portal yang dirancang untuk membantu penggemar, pemain, dan klub memahami kapan VAR seharusnya mengintervensi sebuah keputusan di lapangan atau tidak.

Menurut Rosetti, arah penggunaan VAR saat ini sudah jauh menyimpang. Banyak keputusan di lapangan diubah hanya karena pelanggaran "mikroskopis" yang dicari-cari lewat tayangan ulang super lambat, padahal insiden tersebut tidak relevan dengan alur permainan secara alami di lapangan.

"Kami menyadari bahwa di mana pun sekarang tidak ada kepuasan tentang bagaimana VAR berdampak pada sepak bola," ujarnya.

Ia mengingatkan kembali bahwa tujuan awal VAR diciptakan adalah untuk membenarkan kesalahan fatal yang kasat mata, bukan untuk mencari-cari kesalahan kecil yang tak terlihat oleh wasit di lapangan. Rosetti mencontohkan bagaimana seharusnya teknologi ini digunakan untuk mengoreksi insiden klasik seperti "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada Piala Dunia 1986, bukan untuk membatalkan gol karena pelanggaran sepele yang terjadi puluhan detik sebelumnya.


Durasi Review dan Kredibilitas Wasit

Salah satu aspek yang paling dikeluhkan adalah lamanya waktu yang dibutuhkan wasit untuk meninjau tayangan ulang di pinggir lapangan. Rosetti menegaskan bahwa peninjauan yang memakan waktu lebih dari 90 detik justru berisiko "kehilangan kredibilitas" dan merusak ritme pertandingan.

Bahkan, ia menyoroti bahwa beberapa peninjauan lapangan "were not connected with football" (tidak terhubung dengan sepak bola) karena terlalu fokus pada hal-hal teknis di luar konteks permainan.

Untuk mengatasi hal ini, UEFA telah menyepakati protokol baru di mana ketika wasit meninjau monitor, mereka akan diperlihatkan gambar diam untuk titik kontak, lalu tayangan setengah kecepatan, dan terakhir kecepatan normal untuk menilai intensitas pelanggaran.

Solusi: Platform "Clear Line"

Untuk menjembatani kesalahpahaman publik dan menciptakan standar yang seragam, UEFA meluncurkan portal Clear Line. Platform ini berisi lebih dari 150 contoh kasus nyata yang dilengkapi video dan penjelasan visual untuk menguraikan logika keputusan wasit dalam situasi kontroversial.

"Ini adalah perpustakaan, sebuah dokumen di mana kami menjelaskan kapan dan bagaimana VAR akan melakukan intervensi," jelas Rosetti.

Rosetti menekankan bahwa portal ini bukan untuk wasit, melainkan untuk klub, pemain, dan penggemar. "Ini adalah ruang yang kami harap akan Anda kunjungi setelah pertandingan Liga Champions untuk memeriksa bagaimana sebuah insiden dibandingkan dengan perpustakaan ini," tambahnya.

Ke depan, UEFA ingin mengembalikan peran wasit sebagai pemegang kendali utama di lapangan. "Kami menyukai wasit dengan kepribadian, yang mengambil keputusan di lapangan, dan VAR hanya melakukan intervensi untuk situasi yang jelas dan nyata," pungkas Rosetti. UEFA berharap langkah ini bisa menyelamatkan "sepak bola yang kita cintai" dari cengkeraman teknologi yang terlalu berlebihan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news