Jumali Selasa, 11 Agustus 2026 09:47 WIB

Ilustrasi hujan meteor./Twitter
Harianjogja.com, JOGJA— Fenomena hujan meteor Perseid kembali menghiasi langit malam pada Agustus 2026. Salah satu peristiwa astronomi tahunan paling populer itu diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 12 hingga 13 Agustus 2026, dengan kondisi pengamatan yang dinilai cukup baik karena bertepatan dengan fase Bulan Baru.
Kondisi tersebut membuat cahaya Bulan tidak banyak mengganggu pengamatan, sehingga peluang melihat meteor yang melintas di langit menjadi lebih besar dibanding saat fase Bulan terang.
Perseid dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling aktif setiap tahun. Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan partikel yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle.
Saat partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, gesekan dengan lapisan atmosfer membuatnya berpijar dan terlihat sebagai garis-garis cahaya yang melintas di langit malam.
NASA menyebut Perseid sebagai salah satu hujan meteor terbaik untuk diamati karena menghasilkan meteor yang bergerak cepat dan sering kali tampak cukup terang.
Puncak Aktivitas Terjadi 12-13 Agustus
Berdasarkan kalender yang dirilis International Meteor Organization (IMO), hujan meteor Perseid aktif sejak 17 Juli hingga 24 Agustus 2026.
Namun, aktivitas tertinggi diperkirakan berlangsung pada 12 hingga 13 Agustus 2026.
Dalam kondisi langit yang sangat gelap dan ideal, Perseid secara teoritis mampu menghasilkan sekitar 100 meteor per jam atau dikenal sebagai Zenithal Hourly Rate (ZHR).
Meski demikian, jumlah meteor yang terlihat secara langsung dari suatu lokasi tidak selalu sama dengan angka teoritis tersebut. Kondisi cuaca, tingkat polusi cahaya, hingga posisi pengamat menjadi faktor yang sangat memengaruhi hasil pengamatan.
NASA merekomendasikan waktu pengamatan terbaik pada larut malam hingga menjelang fajar. Beberapa jam sebelum Matahari terbit disebut sebagai periode yang paling berpotensi menampilkan meteor Perseid.
Apakah Hujan Meteor Perseid Bisa Dilihat dari Indonesia?
Masyarakat Indonesia tetap memiliki kesempatan menyaksikan hujan meteor Perseid, meskipun jumlah meteor yang terlihat kemungkinan tidak sebanyak di negara-negara belahan Bumi utara.
Hal itu karena titik pancar atau radiant hujan meteor Perseid berada di kawasan rasi Perseus yang terletak cukup jauh di langit utara.
International Meteor Organization menyebut Perseid sebagai hujan meteor yang paling ideal diamati dari wilayah belahan Bumi utara.
Meski demikian, wilayah Indonesia yang berada dekat garis khatulistiwa masih memiliki peluang untuk melihat sejumlah meteor, terutama jika kondisi langit mendukung.
Semakin gelap lokasi pengamatan dan semakin minim gangguan cahaya buatan, peluang melihat meteor akan semakin besar.
Cuaca dan Polusi Cahaya Jadi Faktor Penentu
Selain posisi geografis, kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam pengamatan hujan meteor Perseid.
Langit yang tertutup awan, hujan, kabut, maupun gangguan atmosfer lainnya dapat mengurangi peluang melihat meteor yang sebenarnya melintas di atas wilayah pengamatan.
Polusi cahaya dari kawasan perkotaan juga menjadi tantangan utama bagi para pengamat langit.
Karena itu, lokasi yang jauh dari pusat kota dan minim pencahayaan buatan menjadi pilihan terbaik untuk menikmati fenomena astronomi tersebut.
Cara Mengamati Hujan Meteor Perseid
Pengamatan hujan meteor Perseid tidak memerlukan teleskop maupun peralatan astronomi khusus.
Bahkan, pengamatan menggunakan mata telanjang justru lebih disarankan karena memungkinkan bidang pandang yang lebih luas.
Agar peluang melihat meteor lebih besar, pengamat dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Memilih lokasi dengan langit gelap dan jauh dari lampu kota.
- Datang lebih awal untuk menyesuaikan mata dengan kondisi gelap.
- Menghindari penggunaan ponsel atau sumber cahaya terang selama pengamatan.
- Menunggu sekitar 15 hingga 20 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
- Mengamati langit secara luas tanpa fokus pada satu titik tertentu.
Meski meteor Perseid tampak berasal dari arah rasi Perseus, lintasan meteor dapat muncul di berbagai bagian langit.
Karena itu, pengamat tidak perlu terus-menerus menatap ke satu arah tertentu selama proses pengamatan.
Bulan Baru Buka Peluang Pengamatan Lebih Baik
Puncak hujan meteor Perseid tahun ini yang bertepatan dengan fase Bulan Baru menjadi keuntungan tersendiri bagi para pencinta astronomi.
Minimnya cahaya Bulan membuat langit malam lebih gelap sehingga meteor yang melintas berpotensi terlihat lebih jelas.
Walaupun Indonesia bukan lokasi terbaik untuk mengamati Perseid dibanding negara-negara di belahan utara Bumi, kondisi cuaca yang cerah dan lokasi yang bebas polusi cahaya tetap dapat memberikan kesempatan menyaksikan salah satu fenomena langit paling dinanti setiap tahun tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
1

















































