Kisah Omar Artan: Dari Penolakan Piala Dunia ke Piala Super Eropa

3 hours ago 1

Jumali

Jumali Selasa, 11 Agustus 2026 08:27 WIB

 Dari Penolakan Piala Dunia ke Piala Super Eropa

Omar Abdulkadir Artan/ Facebook


Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah mimpi yang nyaris kandas di pintu masuk Amerika Serikat kini justru berubah menjadi sejarah besar di Benua Biru. Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia, bersiap menorehkan tinta emas dalam kancah sepak bola dunia. Rabu (12/8/2026) malam waktu setempat, ia akan memimpin laga pamungkas Piala Super Eropa 2026 di Stadion Red Bull, Salzburg.

Sebuah pencapaian luar biasa mengingat pria berusia 34 tahun ini sempat ditolak mentah-mentah oleh otoritas imigrasi Negeri Paman Sam beberapa bulan lalu.

Bagi Omar, laga yang mempertemukan juara Liga Champions Paris Saint-Germain (PSG) dengan juara Liga Europa Aston Villa ini bukan sekadar tugas biasa. Ia akan menjadi wasit non-Eropa pertama yang memimpin pertandingan Piala Super Eropa. Ini adalah pembuktian bahwa talenta dari benua Afrika mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola Eropa, sekaligus menjadi hadiah manis atas segala pahit getir yang ia alami sepanjang tahun 2026.

Mimpi Hancur di Gerbang Amerika

Kisah Omar adalah salah satu narasi paling dramatis di dunia sepak bola tahun ini. Awalnya, namanya masuk dalam daftar wasit pilihan FIFA untuk bertugas di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat. Namun, langkahnya harus terhenti di bandara. Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) menolak kedatangannya, meskipun ia mengantongi visa yang sah.

Penolakan ini berakar pada kebijakan imigrasi superketat yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemerintahan Washington saat itu memberlakukan pembatasan perjalanan masif terhadap warga dari 12 negara, dan Somalia masuk dalam daftar hitam tersebut. Alasan yang diberikan pun tak kalah kontroversial: petugas imigrasi menduga Omar memiliki keterkaitan dengan orang-orang yang diduga anggota organisasi teror, sebuah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.

"Itu adalah periode yang sangat sulit," kenang Omar dengan lirih, mengenang masa-masa kelam itu.

"Banyak orang bersimpati kepada saya, karena ketika seseorang telah bekerja selama bertahun-tahun dan seharusnya melakukan sesuatu, lalu tidak dapat melakukannya, itu sangat menantang."

Dukungan Dunia dan Penghargaan dari Eropa

Kekecewaan Omar ternyata menggugah simpati banyak pihak, termasuk pimpinan tertinggi sepak bola dunia dan Afrika. Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan dilaporkan berbicara langsung dengan Presiden Trump dalam sebuah upacara penyerahan hadiah final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford.

Di sisi lain, UEFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru melihat penolakan ini sebagai momentum untuk memberi kepercayaan lebih besar kepada Omar. Penunjukkannya sebagai pengadil laga Piala Super Eropa 2026 ini selaras dengan perjanjian kerja sama yang telah disepakati bersama CAF tahun ini untuk mempererat kolaborasi antar-organisasi. Presiden CAF, Patrice Motsepe, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

"Ini adalah kehormatan besar bagi Omar Artan dan bagi para wasit Afrika," ujar Patrice Motsepe, dikutip dari Reuters, Selasa (11/8/2026). Pernyataan ini menjadi pengakuan resmi bahwa kualitas Omar telah diakui hingga ke tingkat tertinggi.

Perjalanan Panjang dari Somalia ke Eropa

Karier Omar tidak dibangun dalam semalam. Sejak namanya secara resmi masuk dalam daftar wasit internasional FIFA pada 2018, ia terus mematangkan kemampuan. Ia menorehkan prestasi gemilang sebagai orang Somalia pertama yang memimpin partai puncak Liga Champions CAF. Gelar Wasit Pria Terbaik CAF juga pernah ia raih, membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu wasit paling menonjol di benua Afrika.

Meski harus melewati ujian berat berupa penolakan di Piala Dunia, karier profesional Omar tetap melesat. Ia bahkan dipercaya memimpin pertandingan di turnamen Piala Afrika 2024. Kini, di puncak kariernya, ia tak melupakan asal-usul dan perjuangannya.

Dengan mata berbinar dan penuh keyakinan, Omar menyampaikan pesan inspiratif yang menyentuh hati bagi jutaan orang di dunia, khususnya mereka yang tengah berjuang melawan keterbatasan dan diskriminasi.

"Saya percaya bahwa jika saya bisa berhasil, siapa pun bisa. Jangan pernah berhenti bermimpi," tutup Omar Artan.

Laga bersejarah di Salzburg nanti akan mempertemukan raksasa Prancis, PSG, yang merupakan kampiun Liga Champions 2025-2026, dengan kejutan dari Inggris, Aston Villa, yang merebut trofi Liga Europa 2025-2026. Namun, apapun hasil pertandingan nanti, satu hal sudah pasti: nama Omar Abdulkadir Artan telah tertulis dalam sejarah sepak bola Eropa dan Afrika selamanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news