TikTok Pangkas Karyawan, Kantor Besar di Nashville Ditutup

3 hours ago 1

Jumali

Jumali Kamis, 06 Agustus 2026 20:17 WIB

Harianjogja.com, JOGJA— TikTok kembali menjadi sorotan setelah memutuskan menutup kantornya di Nashville, Amerika Serikat, sekaligus memangkas seluruh karyawan lokal yang bekerja di lokasi tersebut. Keputusan ini mengejutkan karena perusahaan media sosial milik ByteDance itu baru memperluas jejak bisnisnya di kota tersebut melalui kontrak sewa kantor berskala besar pada 2024.

Penutupan kantor Nashville menjadi bagian dari langkah restrukturisasi global yang sedang dijalankan TikTok. Kebijakan tersebut dilakukan ketika perusahaan masih menghadapi berbagai tekanan politik dan pengawasan ketat terkait operasionalnya di Amerika Serikat.

TikTok Tutup Kantor Nashville

Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen TikTok. Perusahaan menyebut langkah itu dilakukan untuk menyederhanakan operasional sekaligus menyesuaikan struktur organisasi demi mendukung pertumbuhan jangka panjang.

"Kami telah memutuskan untuk menutup kantor Nashville demi menyederhanakan operasional dan menyelaraskan tim untuk pertumbuhan jangka panjang," tegas Juru Bicara TikTok USDS Joint Venture dalam keterangan resminya kepada The Tennessean, dikutip Kamis (6/8/2026).

Dalam pernyataan yang sama, TikTok menegaskan komitmennya untuk tetap melayani pengguna di Amerika Serikat.

"Kami tetap berkomitmen penuh untuk menyediakan pengalaman yang aman dan positif bagi 200 juta pengguna kami di Amerika Serikat," lanjut pernyataan tersebut.

Hingga kini, perusahaan belum mengungkap jumlah pasti pekerja yang terdampak maupun skema yang akan diberikan kepada karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat kebijakan tersebut.

Penutupan Terjadi Setelah Ekspansi Besar

Keputusan menutup kantor Nashville cukup menarik perhatian karena bertolak belakang dengan langkah ekspansi yang dilakukan TikTok sebelumnya.

Pada April 2024, perusahaan menandatangani kontrak sewa ruang kantor seluas sekitar 13.000 meter persegi di kawasan Music Row, Nashville. Transaksi tersebut bahkan tercatat sebagai salah satu kesepakatan properti komersial terbesar di kota itu sepanjang tahun 2024.

Melalui kontrak tersebut, TikTok meningkatkan kapasitas ruang kerjanya hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Sebelum memperluas kantor, TikTok telah beroperasi di Nashville selama beberapa tahun dengan menyewa sejumlah lantai di gedung WeWork. Kota tersebut dipilih karena dianggap strategis dan memiliki kedekatan dengan komunitas kreator konten serta industri musik.

Beberapa perusahaan yang berada dalam ekosistem tersebut antara lain Iffert Media, Innovo Management, dan Alchemy Artist Services.

Bagian dari Restrukturisasi Global

Penutupan kantor Nashville berlangsung ketika TikTok dan perusahaan induknya, ByteDance, menjalankan ekspansi agresif di berbagai wilayah Amerika Serikat sepanjang 2024.

Perusahaan membuka dan memperkuat kehadiran bisnisnya di sejumlah pusat ekonomi utama seperti Silicon Valley, Seattle, Texas, New York, hingga Los Angeles.

Namun di saat yang sama, TikTok juga terus menghadapi tantangan politik yang memengaruhi keberlangsungan operasionalnya di negara tersebut.

Tekanan Politik Terhadap TikTok Masih Berlanjut

Keberadaan TikTok di Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir tidak pernah lepas dari perdebatan terkait keamanan data dan pengaruh pemerintah China terhadap perusahaan induknya, ByteDance.

Ekspansi TikTok di Nashville bahkan sempat mendapat kritik keras dari Senator Tennessee, Marsha Blackburn. Ia secara terbuka menuding aplikasi video pendek tersebut berpotensi menjadi ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Senator Blackburn juga pernah menyebut langkah ekspansi TikTok di Tennessee sebagai bentuk "penghinaan" terhadap upaya pemerintah federal dalam melindungi data warga negara.

Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, TikTok kemudian menyerahkan pengelolaan operasionalnya di Amerika Serikat kepada investor lokal dan membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture.

Pembentukan entitas tersebut dilakukan setelah pemerintahan Donald Trump menilai operasional TikTok di Amerika Serikat berisiko karena perusahaan induknya berasal dari China.

Saat ini TikTok memiliki lebih dari 200 juta pengguna aktif di Amerika Serikat. TikTok USDS Joint Venture dibentuk untuk mengelola layanan tersebut di tengah pengawasan yang semakin ketat dari pemerintah.

Penutupan kantor Nashville menjadi episode terbaru dalam perjalanan TikTok di pasar Amerika Serikat. Selain menghadapi tantangan bisnis dan efisiensi operasional, perusahaan juga masih dibayangi ketidakpastian regulasi serta dinamika politik yang terus berkembang.

Sampai berita ini ditulis, TikTok belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai nasib karyawan yang terdampak PHK maupun arah strategi perusahaan berikutnya di Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news