Stunting di Bantul Tak Selesai Saat Anak Keluar dari Kategori

1 hour ago 1

Stunting di Bantul Tak Selesai Saat Anak Keluar dari Kategori

Kepala Dinkes Bantul, Agus T. W. menyambangi RS Panembahan Senopati untuk mengecek kondisi korban laka di Mangunan, pada Kamis (8/2/2024). Harian Jogja/Stefani Yulindriani

Harianjogja.com, BANTUL—Keberhasilan seorang anak keluar dari kategori stunting ternyata belum menjadi akhir dari perjuangan pencegahan gangguan tumbuh kembang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mengingatkan anak yang sudah dinyatakan lepas dari stunting masih berpotensi kembali masuk kategori tersebut jika pemantauan dan intervensi tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Agus Tri Widyantara, mengatakan penanganan stunting merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan pengawasan rutin. Anak yang sebelumnya mengalami stunting dan berhasil menunjukkan perbaikan kondisi masih memiliki risiko kembali masuk kategori stunting pada penimbangan berikutnya.

Menurut Agus, berbagai intervensi selama ini telah dilakukan untuk membantu memperbaiki kondisi anak yang mengalami stunting. Bentuk intervensi tersebut meliputi pemberian makanan tambahan, susu, hingga perbaikan pola konsumsi dan asupan gizi keluarga.

Namun, hasil perbaikan setelah intervensi tidak serta-merta menjamin anak terbebas dari risiko stunting di masa mendatang. Karena itu, pemantauan pertumbuhan melalui penimbangan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap menjadi bagian penting dalam penanganan.

“Anak yang sudah lulus dari stunting, berpotensi masuk kembali dalam kategori stunting pada penimbangan berikutnya,” kata Agus, Kamis (5/8/2026).

Ia menegaskan keberhasilan program penanganan stunting tidak cukup hanya diukur dari status seorang anak yang berhasil keluar dari kategori tersebut. Pendampingan harus terus dilakukan hingga kondisi pertumbuhannya benar-benar stabil dan berada di atas ambang batas kriteria stunting.

“Jadi memang harus berkelanjutan dengan pemantauan dan intervensi sampai benar-benar lulus. Jadi bukan hanya lulus karena sudah tidak balita, tapi kondisinya sudah melebihi dari kriteria stunting,” ujarnya.

Agus menjelaskan penyebab stunting tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Permasalahan tersebut dipengaruhi banyak faktor yang saling terkait, mulai dari lingkungan tempat tinggal, pola pengasuhan, hingga kesehatan ibu selama masa kehamilan.

Paparan asap rokok di lingkungan rumah, kurang optimalnya pola asuh, serta kondisi kesehatan ibu hamil menjadi faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Bahkan, risiko stunting sudah dapat muncul sejak bayi masih berada dalam kandungan.

Data Dinkes Bantul menunjukkan sebanyak 26,9% anak stunting di wilayah tersebut lahir dengan panjang badan kurang dari 48 sentimeter. Kondisi itu menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu sejak masa kehamilan.

“Sebanyak 26,9 persen anak stunting di Bantul panjang lahirnya kurang dari 48 sentimeter. Jadi perkembangan pada masa kehamilan juga berpengaruh. Bisa jadi ibunya sakit, anemia, kekurangan energi kronis, ini bisa melahirkan anak dengan panjang lahir kurang dan akhirnya berujung pada stunting,” katanya.

Karena itu, strategi pencegahan stunting di Bantul tidak hanya difokuskan pada anak balita. Intervensi juga dilakukan sejak masa pranikah, kehamilan, hingga periode awal kehidupan anak yang dikenal sebagai fase 1.000 hari pertama kehidupan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2KB) Bantul, Gunawan Budi Santoso, mengatakan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat terus diperkuat untuk mencegah munculnya faktor risiko stunting sejak dini.

Program tersebut menyasar berbagai kelompok, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, keluarga dengan anak di bawah dua tahun (baduta), hingga keluarga yang memiliki balita.

“Jadi cakupannya yakni kalangan ibu-ibu, calon pengantin, ibu hamil, serta keluarga yang mempunyai anak di bawah dua tahun (baduta) atau balita,” ujar Gunawan.

Menurut dia, peningkatan pemahaman keluarga menjadi salah satu kunci penting dalam menekan angka stunting. Oleh sebab itu, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dilibatkan secara aktif untuk mendampingi masyarakat dan memberikan edukasi terkait kesehatan keluarga.

Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran orang tua dalam memantau pertumbuhan anak, mengenali tanda-tanda gangguan tumbuh kembang, serta memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.

“Jadi kawan-kawan PLKB ini terus mendampingi mereka agar semakin paham terkait pencegahan stunting. Kami berfokus pada upaya pencegahan, meningkatkan pengetahuan, serta meningkatkan akses mereka terhadap fasilitas kesehatan,” katanya.

Melalui pendekatan yang menyasar hulu hingga hilir, Pemkab Bantul berharap angka stunting dapat terus ditekan. Tidak hanya memastikan anak keluar dari kategori stunting, tetapi juga menjaga agar pertumbuhan mereka tetap optimal hingga memasuki usia sekolah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news