Sidrap Percepat Musim Tanam Antisipasi El Nino 2026

13 hours ago 7
Sidrap Percepat Musim Tanam Antisipasi El Nino 2026ilustrasi musim tanam (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026. Upaya tersebut difokuskan pada sektor pertanian, khususnya produksi padi sebagai komoditas utama daerah.

Fenomena El Nino diperkirakan akan berdampak pada kondisi cuaca yang lebih panas dan musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan dan menurunkan produktivitas pertanian di sejumlah wilayah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi potensi terjadinya El Nino kuat atau dikenal sebagai ‘Godzilla’ El Nino pada April hingga Oktober 2026. Fenomena ini dapat memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Dampaknya menyebabkan pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di wilayah Pasifik, sehingga Indonesia mengalami kekurangan hujan dalam periode tertentu.

Menghadapi kondisi tersebut, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Program tersebut difokuskan pada pengaturan musim tanam serta peningkatan produktivitas pertanian.

“Kami sudah melakukan antisipasi. Satu, mempercepat musim tanam. Kedua mengurangi umur benih padi. Umur benih padi biasanya 110 hari, sekarang kami sedang mempersiapkan menanam yang usia 75 hari. Yang ketiga memberlakukan program listrik masuk sawah. Keempat, embung dan parit itu diaktifkan,” ungkap Syaharuddin, Kamis(26/03/2026).

Menurutnya, empat program tersebut menjadi strategi utama dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman El Nino. Pengaturan pola tanam dan pemanfaatan infrastruktur air dinilai menjadi kunci untuk mempertahankan hasil panen.

“Empat program itu insyallah saya yakin di Sidrap dengan skema mengatur musim tanam dan mengatur produktivitas. Sebelum saya jadi bupati, Sidrap itu paling 5 ton-6 ton, sekarang 10-12 ton per hektare. Makanya Sidrap paling tertinggi pertumbuhan ekonominya di Sulsel karena produksi yang ditambahkan,” tuturnya.

Selain mempercepat musim tanam, Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mulai menerapkan penggunaan benih padi berumur pendek. Benih tersebut diharapkan mampu mempersingkat masa tanam tanpa menurunkan produktivitas hasil panen.

“Iya. Benihnya benih lokal Sulawesi Selatan. Hasilnya sama, dan justru lebih tinggi produksinya. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Sidrap,” tegasnya.

Langkah lain yang diterapkan adalah program listrik masuk sawah yang memanfaatkan teknologi pompa air modern. Program ini dirancang untuk memastikan ketersediaan air di lahan pertanian selama musim kemarau berlangsung.

“Pengeboran sumur dalam pakai teknologi listrik. Biasanya pompanisasi pakai tabung gas, kalau di Sidrap sudah pakai listrik masuk sawah. Pakai mesin air (submersible), pompa celup teknologinya. Itu mengantisipasi el nino,” jelas Syaharuddin.

Selain itu, pemerintah daerah juga mengoptimalkan fungsi embung dan parit sebagai sumber cadangan air bagi lahan pertanian. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau panjang.

Fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif dapat memperburuk kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena ini berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan curah hujan berkurang signifikan.

Meski demikian, Bupati Sidrap tetap optimistis daerahnya mampu menghadapi dampak El Nino melalui berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan. Optimisme tersebut juga didukung oleh upaya teknis serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

“Insyallah. Langkah yang kelima, doa. Itu terutama,” pungkasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news