Perang Iran Bikin Toyota Rugi Rp71 Triliun, Saham Anjlok

1 hour ago 3


Harianjogja.com, JOGJA— Toyota Motor Corporation memperkirakan konflik di Timur Tengah akan menggerus kinerja perusahaan hingga sekitar US$4,3 miliar atau setara Rp71 triliun pada tahun fiskal berjalan. Tekanan besar itu membuat laba perusahaan anjlok dan memicu kekhawatiran terhadap harga kendaraan hybrid di pasar global.

Penurunan kinerja Toyota terjadi di tengah meningkatnya biaya produksi, gangguan rantai pasok, serta tekanan industri otomotif dunia akibat konflik Iran dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba operasional Toyota untuk periode tiga bulan hingga 31 Maret 2026 hanya mencapai 569,4 miliar yen atau sekitar Rp64,5 triliun.

Angka tersebut turun hampir 50 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,1 triliun yen atau sekitar Rp124,6 triliun.

Setelah laporan keuangan dirilis, saham Toyota langsung melemah sekitar 2,2 persen dan mencatat level penutupan terendah sejak pertengahan Oktober 2025.

Bagi investor dan konsumen otomotif, kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap industri kendaraan global belum akan mereda dalam waktu dekat.

Dilansir dari Reuters, Jumat (8/5/2026), Toyota menyebut kenaikan biaya serta gangguan distribusi akibat konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan keuntungan perusahaan.

Untuk tahun fiskal baru, Toyota hanya memproyeksikan laba operasional sekitar 3 triliun yen atau setara Rp339,9 triliun.

Padahal, estimasi median analis dalam survei LSEG sebelumnya mencapai 4,59 triliun yen atau sekitar Rp520 triliun.

Artinya, proyeksi laba Toyota berada jauh di bawah ekspektasi pasar dengan selisih lebih dari Rp180 triliun.

Selain perang Iran, tekanan terhadap Toyota juga datang dari tarif impor Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump serta persaingan ketat produsen kendaraan asal Tiongkok.

Toyota memperkirakan total dampak konflik Timur Tengah terhadap perusahaan bisa mencapai sekitar 670 miliar yen atau setara Rp75,9 triliun hingga akhir Maret 2027.

Pekan lalu, Toyota juga melaporkan penjualan kendaraan di kawasan Timur Tengah mengalami penurunan tajam akibat terganggunya distribusi ke sejumlah wilayah.

Di tengah tekanan besar tersebut, permintaan kendaraan hybrid justru terus meningkat seiring kenaikan harga energi global.

Toyota memperkirakan penjualan mobil hybrid akan menembus lebih dari 5 juta unit untuk pertama kalinya tahun ini.

Kondisi tersebut menunjukkan konsumen mulai beralih ke kendaraan hemat bahan bakar di tengah ketidakpastian harga energi dunia.

Namun lonjakan permintaan hybrid belum mampu menutupi tingginya biaya produksi dan distribusi yang terdampak perang.

Laporan keuangan terbaru ini juga menjadi laporan pertama di bawah kepemimpinan CEO baru Kenta Kon yang mulai menjabat bulan lalu.

Ia menghadapi tekanan besar karena tarif impor Amerika Serikat disebut telah memangkas laba operasional Toyota sebesar 1,4 triliun yen atau sekitar Rp158,6 triliun pada tahun fiskal sebelumnya.

Bagi konsumen di Indonesia, dampak perang mungkin belum terasa langsung. Namun jika tekanan biaya terus berlanjut, harga mobil hybrid dan kendaraan impor berpotensi ikut naik dalam beberapa waktu mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news