Peneliti Sebut Migrain Sulit Dideteksi Lewat Pemeriksaan, Diagnosis Berdasarkan Pola Gejala

13 hours ago 8

promo hayati padang agustus

KLIKPOSITIF — Migrain merupakan salah satu gangguan sakit kepala yang cukup umum, namun hingga kini belum dapat didiagnosis melalui pemeriksaan darah, pemindaian otak, maupun biopsi. Dokter umumnya menentukan diagnosis berdasarkan pola gejala dan riwayat keluhan yang dialami pasien.

Neurolog Dr. Paul Rizzoli, direktur klinis Graham Headache Center di Brigham and Women’s/Faulkner Hospital yang berafiliasi dengan Harvard, mengatakan diagnosis migrain tetap dapat dilakukan secara meyakinkan meski tidak ada pemeriksaan khusus yang dapat membuktikannya.

Hampir 16 persen masyarakat Amerika Serikat mengalami migrain. Kondisi tersebut dilaporkan lebih banyak dialami perempuan, dengan angka kejadian hampir dua kali lipat dibandingkan laki-laki.

Menurut Rizzoli, teknologi pencitraan otak yang semakin canggih tetap belum dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami migrain. Hal itu karena migrain tidak menyebabkan kelainan struktural pada otak yang dapat terlihat melalui pemeriksaan pencitraan.

“Tidak ada tes yang mendokumentasikan bahwa itu adalah migrain,” ujar Rizzoli.

Meski demikian, pemeriksaan seperti pencitraan tetap dapat digunakan untuk membantu menyingkirkan penyebab sakit kepala lainnya. Dalam banyak kasus, riwayat kesehatan dan pola gejala pasien sudah memberikan informasi yang cukup kuat untuk menentukan diagnosis.

Gejala yang menjadi petunjuk

Migrain umumnya ditandai dengan pola gejala yang berulang. Beberapa gejala yang sering menjadi perhatian dokter antara lain sakit kepala berdenyut atau menusuk, terutama pada salah satu sisi kepala, nyeri yang memburuk ketika bergerak, mual, serta sensitif terhadap cahaya dan suara.

Pola sakit kepala yang berulang dan dapat dikenali, kemudian diselingi periode ketika pasien merasa normal, menjadi salah satu petunjuk penting dalam diagnosis.

Namun, gejala migrain dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Sebagian pasien mengalami nyeri kepala berat dan berdenyut, sementara pasien lain dapat mengalami gangguan penglihatan, pusing, atau mual. Ada pula yang hanya mengalami sakit kepala ringan tetapi memiliki sensitivitas tinggi terhadap cahaya.

Karena itu, anggapan bahwa migrain selalu terjadi pada satu sisi kepala atau selalu menimbulkan nyeri hebat merupakan pemahaman yang keliru.

Rizzoli menyebut sakit kepala dengan intensitas ringan hingga sedang justru merupakan keluhan yang paling umum. Selain itu, gejala aura berupa gangguan sensorik, penglihatan, atau kemampuan berbicara juga tidak selalu dialami penderita migrain.

“Tidak hanya ada variasi dari satu pasien ke pasien lainnya, tetapi juga dalam diri satu pasien,” katanya.

Riwayat pasien menjadi kunci

Karena belum tersedia pemeriksaan khusus untuk memastikan migrain, dokter perlu menggali riwayat sakit kepala pasien secara mendalam. Dokter biasanya menanyakan berapa hari dalam sebulan pasien mengalami sakit kepala, berapa lama setiap episode berlangsung, gejala lain yang menyertainya, kemungkinan pemicu, hingga riwayat migrain atau sakit kepala dalam keluarga.

Dilansir dari laman Harvard. Health. Edu, Dokter juga akan menggali secara rinci bagaimana serangan sakit kepala dimulai, apakah terdapat tanda peringatan sebelum sakit kepala, gejala apa yang muncul terlebih dahulu, berapa lama keluhan berlangsung, serta apakah pasien masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari ketika serangan terjadi.

Informasi tersebut membantu dokter melihat pola yang konsisten dan membedakan migrain dari jenis sakit kepala atau penyakit lainnya.

Penanganan disesuaikan dengan kondisi pasien

Setelah migrain dipastikan sebagai penyebab keluhan, dokter biasanya menyusun penanganan berdasarkan riwayat kesehatan dan pola gejala masing-masing pasien.

Penanganan dapat mencakup obat pencegahan untuk mengurangi frekuensi serangan serta obat terapeutik yang digunakan untuk meredakan gejala ketika migrain muncul.

Pada pasien yang mengalami migrain secara rutin, terutama empat kali atau lebih dalam sebulan, dokter dapat mempertimbangkan terapi pencegahan.

Menurut Rizzoli, pencegahan tidak hanya bertujuan mengendalikan serangan migrain, tetapi juga mengurangi risiko berkembang menjadi sakit kepala kronis, yang ditandai dengan 15 hari atau lebih mengalami sakit kepala dalam sebulan.

Dengan demikian, mengenali pola gejala dan mencatat riwayat serangan menjadi bagian penting dalam proses diagnosis dan penanganan migrain. Pasien yang mengalami sakit kepala berulang sebaiknya menyampaikan pola keluhan secara rinci kepada dokter agar penyebabnya dapat dievaluasi dan penanganan yang sesuai dapat diberikan.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news