Menu MBG Ramadan 2026 Diganti Kering, Kandungan Gizi Dipersoalkan

12 hours ago 5

Menu MBG Ramadan 2026 Diganti Kering, Kandungan Gizi Dipersoalkan Foto ilustrasi menu MBG berupa makanan kering, dibuat menggunakan Artifical Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Perubahan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 menjadi makanan kering menuai kritik dari Center of Economic and Law Studies (Celios). Kritik ini menyoroti potensi penurunan kualitas gizi serta dampaknya terhadap tujuan utama program MBG.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menilai penggantian menu MBG Ramadan menjadi makanan kering berpotensi mengurangi nilai gizi yang seharusnya diterima anak-anak penerima manfaat. Ia juga menilai perubahan tersebut menggeser tujuan awal program untuk mengenalkan real food kepada peserta didik.

“Ketika dibagikan makanan kering, nilai gizinya seperti apa? Kan namanya Makan Bergizi Gratis yang seharusnya, gizi dari makanan tidak boleh diubah,” kata Huda kepada Bisnis, dikutip Sabtu (14/6/2026).

Menurut Huda, pemerintah khususnya Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai terlalu berorientasi pada target pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga kurang mempertimbangkan kondisi di lapangan. Ia menyebut makanan kering seperti kurma, telur rebus, telur asin atau pindang, buah, susu, dan abon belum tentu memenuhi standar gizi yang diharapkan dalam program MBG.

Selain aspek gizi, Huda menduga terdapat pertimbangan ekonomi dari pihak penyedia Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membuat program tetap berjalan meskipun manfaat gizinya dinilai berkurang.

Ia juga mengingatkan potensi tekanan pada harga pangan, terutama telur ayam dan daging ayam, yang lazim mengalami kenaikan saat Ramadan dan Lebaran. Dengan kebutuhan besar untuk MBG, ia menilai masyarakat bisa bersaing memperoleh bahan pangan yang sama.

Sebelumnya, BGN memastikan Program MBG Ramadan 2026 tetap berjalan dengan penyesuaian jadwal dan menu. Anak sekolah muslim menerima makanan kering untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa. Sementara sekolah non-muslim, balita, dan ibu hamil tetap menerima MBG seperti biasa, sedangkan pondok pesantren menyesuaikan waktu distribusi menjadi sore hari menjelang berbuka.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan pelaksanaan program MBG berdampak signifikan terhadap peningkatan kebutuhan bahan pangan, mulai dari telur, buah-buahan, hingga komoditas perikanan dan pakan ternak.

“Dengan adanya Makan Bergizi Gratis, kebutuhan akan telur naik, kebutuhan semua bahan pangan naik,” kata Dadan dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).

Ia memaparkan skala kebutuhan pangan dalam satu SPPG sangat besar. Untuk menu pisang saja, satu kali distribusi membutuhkan sekitar 3.000 buah atau setara 150 sisir. Jumlah itu berarti sekitar 15 tandan atau 15 pohon pisang setiap kali pemberian.

“Kalau dua kali seminggu artinya butuh 30 pohon pisang, satu bulan 120 pohon pisang, satu tahun 1.440 pohon pisang, 1 hektare ada 1.000 pisang, jadi dibutuhkan 1,5 hektare kebun pisang untuk satu SPPG,” terangnya.

Kebutuhan protein hewani juga tidak kecil. Untuk menu lele, satu kali pemberian makan memerlukan sekitar 3.000 ekor lele, setara dua kolam bioflok. Jika distribusi dilakukan empat kali dalam sebulan, maka dibutuhkan sekitar 32 kolam lele untuk menopang satu SPPG.

Adapun untuk menu berbasis telur, satu SPPG memerlukan sekitar empat kandang ayam petelur. Dengan kebutuhan sekitar 3.000 butir telur dan produktivitas rata-rata 0,8 butir per hari, diperlukan sekitar 4.000 ekor ayam petelur. “Dan kalau ayam dipelihara, maka jagungnya [pakan] pun harus ada,” katanya.

Dalam konteks tersebut, dinamika antara kritik Celios dan penjelasan BGN menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyangkut kualitas gizi, tetapi juga rantai pasok pangan nasional yang terdampak langsung oleh kebutuhan besar setiap SPPG selama Ramadan 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news