
Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock
Harianjogja.com, JAKARTA—Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang bersumber dari aktivitas sesar tersebut. Episenter gempa hasil pemutakhiran parameter berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.
"Jadi, ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh Sesar Naik Busur Belakang Flores," kata Nelly dalam konferensi pers BMKG terkait gempa M 7,7 di NTT, Sabtu (15/8).
Aktivitas Flores Back Arc Thrust menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki sejarah menghasilkan gempa kuat dan dangkal. Berikut sejumlah fakta mengenai sistem sesar yang berada di kawasan Nusa Tenggara tersebut.
1. Apa Itu Flores Back Arc Thrust?
Flores Back Arc Thrust merupakan struktur tektonik berupa sesar naik yang berada di belakang busur kepulauan Flores. Sesar tersebut membentang di Laut Flores dan memanjang sejajar dengan busur kepulauan Bali serta Nusa Tenggara.
Struktur ini terbentuk akibat proses tektonik kompleks dari interaksi lempeng di kawasan Sunda-Banda.
Aktivitas sesar tersebut dapat memicu gempa bumi dangkal dengan kekuatan besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Pulau Flores, tetapi dapat menjangkau wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT.
Kawasan Nusa Tenggara sendiri memiliki kerawanan gempa yang cukup tinggi karena berada dalam sistem tektonik kompleks. Selain aktivitas sesar naik belakang busur, wilayah tersebut juga dipengaruhi aktivitas subduksi atau penyusupan lempeng.
2. Bisa Memicu Gempa hingga M 7,9
BMKG menyebut Flores Back Arc Thrust memiliki potensi menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum sekitar 7,8 hingga 7,9.
Gempa yang mengguncang NTT pada Sabtu mencapai M 7,7, sehingga kekuatannya berada sangat dekat dengan kisaran potensi maksimum tersebut.
Setelah gempa utama, aktivitas gempa susulan masih perlu diwaspadai. Dalam pemantauan awal, BMKG mencatat sejumlah gempa susulan dengan salah satunya dirasakan masyarakat.
Gempa susulan dapat terus terjadi setelah gempa utama dan umumnya akan mengalami penurunan aktivitas seiring waktu.
3. Flores Pernah Diguncang Gempa Besar pada 1992
Aktivitas Flores Thrust bukan kali pertama menghasilkan gempa kuat.
Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 12 Desember 1992. Gempa Flores saat itu berkekuatan sekitar M 7,5 dan diikuti tsunami.
Bencana tersebut menjadi salah satu gempa paling merusak dalam sejarah Flores. Sekitar 2.100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian bencana tersebut.
Flores Thrust juga diduga berkaitan dengan gempa besar yang mengguncang Bali pada 21 Januari 1917. Gempa tersebut dilaporkan menyebabkan sekitar 1.500 orang meninggal dunia.
Catatan sejarah itu menunjukkan bahwa aktivitas sesar naik belakang busur memiliki potensi menimbulkan gempa kuat dan tsunami di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
4. Dampaknya Tak Hanya di Flores
Meskipun menggunakan nama Flores, sistem sesar tersebut memiliki bentangan yang lebih luas.
Flores Back Arc Thrust berada di kawasan Laut Flores dan sejajar dengan busur kepulauan Bali serta Nusa Tenggara. Karena itu, aktivitasnya dapat berdampak terhadap wilayah yang berada di sepanjang kawasan tersebut.
Sejumlah gempa yang terasa hingga menimbulkan kerusakan di Bali, NTB, dan NTT dikaitkan dengan aktivitas sesar naik belakang busur. Namun, sebagian gempa lainnya juga berkaitan dengan aktivitas subduksi.
Kondisi tersebut membuat ancaman gempa di Nusa Tenggara tidak berasal dari satu sumber saja. Masyarakat juga menghadapi potensi gempa dari sejumlah sesar aktif dan zona subduksi.
5. Ada Sesar Naik Lain di Nusa Tenggara
Flores Thrust merupakan bagian dari sistem sesar naik belakang busur yang lebih luas di Nusa Tenggara.
Di bagian timur terdapat Sesar Naik Wetar atau Wetar Thrust yang membentang dari utara Pulau Alor hingga Pulau Romang. Struktur tersebut juga memiliki potensi menghasilkan gempa kuat dan merusak.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan aktivitas gempa di kawasan tersebut, antara lain gempa Alor pada 18 April 1898 dan 4 Juli 1991.
Selain itu, terdapat Sesar Naik Sawu yang berada di sebelah utara Pulau Sawu dan memanjang dari barat ke timur.
Gempa bermagnitudo 7,0 pada 5 Agustus 2018 menjadi salah satu peristiwa yang dikaitkan dengan aktivitas sesar tersebut.
Dengan demikian, kondisi tektonik Nusa Tenggara terbentuk dari sistem yang kompleks. Flores Thrust hanya menjadi salah satu struktur aktif yang perlu diperhatikan dalam upaya mitigasi bencana gempa di kawasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis

2 hours ago
1

















































