KabarMakassar.com — Kabar hengkangnya Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari Partai NasDem dinilai berpotensi memicu pergeseran peta kekuatan politik di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Diketahui, meski belum diumumkan secara resmi oleh DPP NasDem, Bendahara Umum, Ahmad Sahroni membenarkan kabar kemunduran diri Wakil Ketua Komisi III DPR RI RMS.
Dampak kemunduran diri RMS tidak hanya menyentuh internal Partai NasDem, tetapi juga membuka ruang peluang baru bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Sulsel rencananya menjadi rumah baru RMS.
Pengamat politik sekaligus Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai Rusdi Masse selama ini bukan sekadar figur formal dalam struktur partai, melainkan aktor kunci yang menggerakkan mesin politik NasDem di tingkat daerah.
“Kalau Rusdi Masse benar-benar meninggalkan NasDem, maka secara realistis potensi perolehan kursi NasDem di Sulsel lebih berpeluang stagnan atau turun, bukan naik,” ujar Asratillah, Jumat (23/01).
Menurutnya, kekuatan utama Rusdi Masse terletak pada jejaring personal yang luas, mulai dari kepala daerah, elite lokal, hingga struktur partai di tingkat bawah yang bekerja berbasis loyalitas figur. Pola ini membuat pengaruhnya tidak selalu terlihat secara instan dalam angka, namun memiliki efek jangka menengah hingga panjang.
“Kehilangan figur seperti RMS biasanya tidak langsung menjatuhkan suara secara drastis. Dampaknya bertahap, mulai dari melemahnya konsolidasi, menurunnya soliditas struktur, sampai berkurangnya daya mobilisasi,” jelasnya.
Meski demikian, Asratillah menegaskan NasDem tidak serta-merta runtuh. Ia menyebut partai tersebut masih memiliki infrastruktur organisasi, sumber daya politik, dan stok kader yang relatif memadai untuk bertahan.
“NasDem tetap partai besar. Yang menentukan sekarang adalah siapa yang menggantikan peran RMS dan seberapa cepat transisi itu dikelola,” katanya.
Ia menilai, jika NasDem mampu menghadirkan figur pengganti yang kuat secara sosial dan organisatoris, penurunan suara masih bisa ditekan. Sebaliknya, jika pengganti hanya bersifat administratif tanpa basis sosial yang kuat, maka risiko penurunan kursi di DPRD provinsi maupun kabupaten/kota menjadi cukup nyata.
“Terutama di daerah-daerah yang selama ini sangat bergantung pada jejaring RMS. Di situ dampaknya bisa paling terasa,” tambah Asratillah.
Di sisi lain, Asratillah melihat peluang besar bagi PSI apabila Rusdi Masse benar-benar bergabung. Menurutnya, kehadiran RMS dapat menjadi akselerator penting bagi PSI di Sulawesi Selatan.
“Masuknya RMS akan memberi PSI setidaknya tiga keuntungan sekaligus: legitimasi politik lokal, percepatan pembentukan struktur, dan peningkatan daya tarik elektoral,” ujarnya.
Dalam konteks pemilu legislatif, PSI dinilai berpeluang melampaui ambang psikologis sebagai partai kecil dan mulai tampil sebagai kompetitor serius di sejumlah daerah pemilihan strategis. Kehadiran RMS juga berpotensi mengubah persepsi publik terhadap PSI saat ini.
“PSI tidak lagi semata dipandang sebagai partai anak muda perkotaan, tapi partai yang punya kapasitas dan pengalaman politik daerah,” jelasnya.
Untuk agenda pemilihan kepala daerah, dampaknya disebut bisa lebih terasa. PSI yang selama ini kerap kesulitan mengusung kandidat sendiri berpotensi memiliki posisi tawar baru, baik sebagai pengusung utama maupun mitra koalisi yang diperhitungkan.
Namun demikian, Asratillah mengingatkan bahwa keberhasilan PSI tidak bisa hanya bertumpu pada figur Rusdi Masse semata.
“Keberhasilan PSI sangat bergantung pada kemampuannya mengubah kekuatan personal RMS menjadi kekuatan kelembagaan. Kalau hanya bergantung pada figur, lonjakannya bisa sementara,” katanya.
Sebaliknya, jika RMS dijadikan lokomotif untuk membangun struktur organisasi yang solid, disiplin, dan berkelanjutan, maka pergeseran peta politik di Sulsel berpotensi terjadi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Baik di DPRD kabupaten/kota maupun provinsi, peluang itu terbuka,” tukas Asratillah.
Sebelumnya telah diberitakan, Politikus asal Sulawesi Selatan (Sulsel) Rusdi Masse dipastikan mundur dari Partai NasDem setelah surat pengunduran dirinya dikirim ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NasDem beberapa waktu lalu.
Kabar tersebut dibenarkan Bendahara Umum Partai NasDem, Ahmad Sahroni. Ia menyatakan bahwa pengunduran diri Rusdi telah diketahui oleh jajaran partai di DPP.
“Benar, surat pengunduran dirinya sudah dikirim ke DPP,” ujar Sahroni, Jumat (23/01).
Meski demikian, Sahroni mengaku belum melihat langsung isi surat tersebut. Ia menyebut proses administrasi masih berjalan di internal partai hingga kini.
“Saya belum pegang fisiknya, tapi informasinya sudah masuk ke kantor DPP,” terangnya.
Terkait langkah politik Rusdi selanjutnya, Sahroni menduga Rusdi Masse pria kelahiran Sidrap itu akan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengikuti jejak koleganya, Ahmad Ali, yang lebih dulu meninggalkan NasDem pada akhir tahun 2025.
“Dugaan saya demikian,” singkat Sahroni.
Sahroni menegaskan bahwa keputusan lanjutan terkait status Rusdi di partai sepenuhnya berada di tangan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Saat ini kader masih menunggu keputusan yang diambil.
“Semua keputusan ada di Ketua Umum,” katanya.

















































