Jumali Rabu, 12 Agustus 2026 10:17 WIB

Roberto Martinez - Reuters/Francois Lenoir
Harianjogja.com, JOGJA— Hampir satu setengah bulan sudah Timnas Belanda menganggur tanpa pelatih kepala. Sejak Ronald Koeman mengundurkan diri pada 30 Juni 2026, sehari setelah De Oranje tersingkir dari Piala Dunia 2026 di babak 32 besar oleh Maroko melalui adu penalti, Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) terus bergerilya mencari pengganti. Namun, satu per satu kandidat yang didekati gagal membuahkan hasil. Kini, nama baru muncul: Roberto Martinez.
Menurut laporan media Belanda De Telegraaf yang dikutip oleh berbagai media, Direktur Sepak Bola KNVB Nigel de Jong telah menggelar pertemuan dengan Martinez di Malaga, Spanyol. Pelatih berusia 53 tahun asal Catalonia itu saat ini tengah menganggur setelah mengundurkan diri dari kursi pelatih Timnas Portugal pasca tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 oleh juara dunia Spanyol.
Perburuan Panjang Tanpa Titik Terang
Kepergian Koeman menempatkan KNVB dalam posisi sulit. Sejumlah nama besar telah didekati, mulai dari Peter Bosz, Erik ten Hag, Arne Slot, Michael Reiziger, hingga Pep Guardiola. Namun, tidak satu pun dari nama tersebut yang kemudian memasuki tahap pembicaraan lanjutan.
Arne Slot, misalnya, dikabarkan hanya melakukan satu pertemuan dengan KNVB dan menyatakan masih fokus pada klubnya. Michael Reiziger, pelatih Timnas Belanda U-21, sempat menjadi kandidat terdepan setelah melakukan pembicaraan panjang dengan KNVB lebih dari sepekan lalu. Namun, situasi itu kini bisa berubah dengan munculnya Martinez.
Mengapa Martinez?
KNVB disebut memiliki sejumlah alasan melirik Martinez. Pertama, pengalamannya menangani tim nasional terbilang mentereng. Ia memimpin Timnas Belgia dari 2016 hingga 2022, membawa generasi emas Belgia meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2018 di Rusia dan bahkan sempat menempati peringkat pertama dunia.
Kedua, Martinez dikenal sebagai penganut filosofi sepak bola Johan Cruyff, legenda sepak bola Belanda. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan Jordi Cruyff, yang pernah menjadi penasihat teknis Timnas Indonesia. Faktor ini dinilai memudahkan adaptasi dengan budaya sepak bola Belanda.
Label Kontroversial: "Penghancur Generasi Emas"
Meski punya pengalaman mentereng, nama Martinez juga menyimpan kontroversi. Di Belgia, ia dianggap gagal memaksimalkan generasi emas yang dimiliki negara tersebut. Puncaknya adalah kegagalan Belgia di Piala Dunia 2022 yang tersingkir di fase grup.
Di Portugal, meski berhasil mempersembahkan gelar UEFA Nations League 2025, Martinez juga gagal memenuhi target utama: membawa Portugal meraih gelar juara Piala Dunia 2026. Kekalahan 0-1 dari Spanyol di babak 16 besar mengakhiri perjalanannya di Portugal. Selama menangani Portugal dalam 45 pertandingan, Martinez membukukan 32 kemenangan dan tujuh kekalahan.
Label sebagai "penghancur generasi emas" pun melekat padanya dan mendapat respons negatif dari pendukung De Oranje.
Sebelum Tim Nasional: Karier di Inggris
Sebelum berkarier di tim nasional, Martinez malang melintang di klub-klub Inggris. Ia membawa Swansea City promosi dan menjuarai League One pada 2007. Puncaknya, ia membawa Wigan Athletic meraih trofi Piala FA pada 2013 setelah mengalahkan Manchester City di final. Prestasi itu membuat Everton kepincut dan merekrutnya pada 2013 hingga 2016.
Rekam jejak tersebut membuat Martinez menjadi salah satu kandidat berpengalaman yang kini dipertimbangkan KNVB untuk membangun kembali Timnas Belanda setelah kegagalan di Piala Dunia 2026. Namun, dengan label kontroversial yang melekat, keputusan KNVB untuk menunjuknya—jika jadi terealisasi—akan menjadi taruhan besar bagi masa depan De Oranje.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































