Solok, Klikpositif – Cuaca mendung menyambut kedatangan kami di Nagari Simanau, Kecamatan Tigo Lurah, Perjalanan panjang sejauh 50 kilometer dari Kota Solok. Jalanan berlobang dan nyaris amblas dari jalur Sirukam ke Sumanau membuat jantung berdegup. Apalagi saat berpapasan dengan mobil yang meluncur dari tikungan bersemak.
Sepanjang jalan, hutan lindung tampak masih asri. Menghembuskan udara nan sejuk. Masih tampak jelas bekas longsoran yang di pinggir jalan. Sebelah kiri jalan amblas, menganga jurang dalam, tak terbayang apa jadinya kalau sempat terjatuh.
Semua lelah perjalanan seketika sirna saat sampai di pusat Nagari Simanau, rumah-rumah berdesakan di dalam ceruk alam. Sawah luas membentang, menjadikan landscape alam yang memanjakan mata. Ini lah Nagari Simanau, satu dari 74 nagari di Kabupaten Solok, Sumatra Barat.
Eits, Jangan salah, walau jauh berada di pelosok Kabupaten Solok, Nagari Simanau punya tradisi yang cukup unik. Setiap tahun, masyarakat berkumpul di Batu Gadang, Medan Nan Bapaneh tempat dilangsungkannya tradisi Alek Lapeh Kawua dan tolak bala. Alek rutin digelar sehabis lebaran Idul Fitri.
“Alek Lapeh Kawua dan doa tolak bala merupakan tradisi yang dilakukan jelang mulai masa tanam padi. Rutin dilakukan setelah lebaran idul Fitri,” ungkap Yusrial Dhani Putra, Ketua Pemuda Nagari Simanau, Sabtu (28/3/2026).
Tradisi diawali dengan menyembelih seekor kerbau jantan besar di dalam Nagari. Kemudian, daging kerbau dibagikan kepada seluruh masyarakat untuk dimasak dan disantap masing-masing keluarga. Sebuah kearifan sosial yang tak membedakan si kaya dan miskin. Semua bergembira.
Setelah daging dibagikan, kemudian kepala kerbau dan tulang dibawa ke Batu Gadang, sebuah tempat di ujung persawahan, lokasi tradisi bakawue dilangsungkan. Uniknya, yang memasak bukanlah kaum perempuan, namun para dubalang suku.
Sembari pada dubalang suku memasak hidangan, di Batu Gadang dilangsungkan berbagai kegiatan. Mulai dari tari-tarian tradisional, beragam lomba yang membuat suasana semakin semarak. Seluruh masyarakat Nagari, bahkan Nagari tetangga tumpah ruah di lokasi, bersilaturahmi, bercengkrama dan saling bercerita dalam suasana hari raya.
Perdana Dikunjungi Bupati

Pelaksanaan Alek Kawua Nagari Simanau tahun ini sangat spesial. Di tengah padat jadwalnya, Bupati Solok, Dr. (HC) Jon Firman Pandu, SH langsung hadir bersama masyarakat. Pertama kalinya Bupati Solok hadir di Nagari Simanau, begitu pengakuan ninik mamak.
Kedatangan Bupati Jon Pandu disambut gembira masyarakat. Tari Gelombang diiringi musik tradisional membuat suasana siang kembali hidup. Bupati Solok pun tampak sumringah melihat antisiasnya masyarakat.
Seperti diungkapkan Ketua BPN, Candra Riko Putra, silih berganti yang memimpin Kabupaten Solok, Bupati Jon Pandu merupakan kepala daerah pertama yang datang di Alek Kawua Nagari Simanau.
“Beliau merupakan Bupati Solok perdana yang datang langsung Nagari Simanau. Dan ini sebuah anugerah bagi masyarakat Simanau yang merindukan kehadiran kepala daerah,” ceritanya.
Dalam kunjungan itu, Bupati Jon Pandu mengaku sangat bangga dengan kekompakan masyarakat. Budaya dan tradisi terus terawat sebagai sebuah identitas daerah dan sejarah yang mengiringinya.
“Semoga dengan tradisi Bakawua ini, kita Mohon kepada Allah SWT, panen padi dan tanaman masyarakat melimpah. Tidak berkekurangan dan dijauhkan dari segala macam bala,” ujar Bupati.
Bupati menilai, tradisi bakawua tidak semata sebuah warisan yang perlu dijaga, namun memiliki makna mendalam akan nilai kebersamaan, gotongroyong dan menjaga alam.
Menurutnya, Nagari Simanau kaya akan potensi, baik sumber daya alam maupun manusianya. Untuk itu, perlu dijaga dan dikembangkan agar membawa kemaslahatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Tak banyak yang diinginkan masyarakat. Yang sangat prioritas cuman pembangunan jalan dari Simanau menuju Sirukam. Kondisi jalan yang kecil, berlobang membuat akses masyarakat menuju pusat daerah menjadi sulit dan berbahaya.
Tradisi Berusia Dua Abad

Alek Bakawua dan tolak bala merupakan tradisi yang sudah berusia lebih kurang 200 tahun di Nagari Simanau. Konon, dahulu Nagari Simanau pernah dilanda paceklik panjang. Hampir 7 kali musim tanam, gagal panen.
“Dari warih nan bajawek, pada masa itu, masyarakat Nagari Simanau dilanda paceklik dan kelaparan karena sawah tidak menjadi. Jangankan untuk makan manusia, untuk ternak saja tidak tidak ada yang akan dimakan,” terang Ketua KAN Simanau, Maradi Dt. Rajo Sampono.
Pada masa itu, niniek mamak pun bersepakat untuk mendatangi orang alim, Angku Sibakua dari Nagari Sijunjung. Berangkatlah niniek mamak waktu itu untuk membawa angku Sibakua ke Nagari Simanau.
Oleh Angku Sibatua, dibuatlah pantangan atau larangan bagi masyarakat. Pada hari jumat, tidak boleh mengeruh air, artinya tidak boleh ada aktivitas ke sawah. Hikmahnya, masyarakat fokus ibadah dan pelaksanaan Jumat ramai di masjid.
Kemudian, larangan kedua, masyarakat tidak boleh panen padi pada hari minggu. Setelah menjaga pantangan itu, Nagaru Simanau akhirnya kembali makmur. Panen padi kembali melimpah.
Dan setiap akan mulai musim tanam setiap tahunnya, dilakukan tradisi bakawua jo doa tolak bala. Tradisi ini merupakan bentuk do’a masyarakat kepada Allah SWT agar panen padi masyarakat bisa berlimpah, dan dijauhkan dari segala hama.
Sebelum dilakukannya alek bakawua tolak bala, tidak ada masyarakat yang boleh mengolah sawah, kecuali sekedar menyemai benih. Setelah prosesi, baru lah aktivitas sawah dimulai. Semuanya serentak dilakukan di Nagari Simanau.
“Hingga kini, tradisi bakawua tolak bala tetap lestari, mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan niniek mamak zaman dulu dan dilakukan sekali dalam satu tahun. Nilai-nilai tradisi menjadi karakter dan identitas dari masyarakat Nagari Simanau,” tutup Maradi Dt. Rajo Sampono.
Tradisi bakawua dan tolak bala memang hampir ada di setiap Nagari di Kabupaten Solok. Masing-masing memiliki sejarah dan nilai tersendiri yang menjadi khazanah budaya daerah.

3 hours ago
7


















































