“Ya kalau lolos, truknya sudah bisa kubawa ke TPA Ramapano,” ucap Dedi perlahan. Tangannya menggulir benang pancing ke permukaan air yang bergerak pelan. Helmi tersenyum kecil. “Lolos dengan lima belas juta?” “Daripada tidak masuk sama sekali,” sahut Dedi seketika.
Mereka duduk bersisian di tepi Muara Jenggalai, di atas papan rempesan, sering berderit kala diinjak, tua berlumut, dan menjadi dermaga tak resmi para pemancing malam. Sekitar lima belas meter dari situ, cahaya kekuningan dari salah satu restoran ternama “Jenggalai Menyambut” menari-nari di atas riak sungai.
Dedi—berkulit legam, berkumis tipis, mengenakan kaus longgar bertuliskan PILKADA 2024 dan celana training dengan garis putih yang sudah pudar. Pria itu memegang joran tuanya. Sedangkan Helmi—lebih muda, tubuh ramping, mengenakan jaket tipis hijau pucuk daun pisang dan celana pendek—memutar senar pancing dengan satu tangan. Kaki telanjangnya menapak pada tanah dingin yang basah oleh embun.
Sebelum tali jala dilepaskannya, ia menyelipkan selembar sirih ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan, lalu menyemburkan cairan pahit kemerahan ke arah muara. Katanya sebuah kebiasaan lama yang tak pernah ia pertanyakan, hanya diteruskan begitu saja dari kakeknya.
Konon, kata orang-orang tua Suku Makleba, cairan dari daun sirih yang dikunyah hingga berwarna seperti darah akan membawa tanda bagi yang hidup di bawah air. Pemancing datang bukan sekadar mengambil apa yang ada di dalamnya, tapi juga harus memberi hormat. Maka jala pun baru boleh dilesatkan setelah itu—jika ingin yang besar muncul dari dasar sungai yang gelap.
Dari seberang muara, akar-akar bakau pidada mencuat dari lumpur seperti urat kehidupan yang merambat ke dunia sunyi. Seekor purple heron, atau jika cukup cerdas, kamu tahu nama latinnya–Ardea purpurea–bertengger diam di pucuknya. Siluetnya kontras dengan langit senja yang mulai menggelap. Tapi orang-orang dari Suku Baklema menamakan burung itu Cangak Merah.
“Sialnya, kita tahu ini busuk,” ujar Helmi. “Surat kerja fiktif, ujian yang diatur, daftar lulus yang bisa dibeli.” Dedi menatap air yang perlahan mengalir ke laut. “Tapi tetap kita ikuti.” “Karena yang menolak, akan dibuang,” Helmi menyambung. “Akan seperti sisa lumpur yang diseret ke hilir.”
Dan di antara riak air itu, malam mulai menyimpan sesuatu yang tak bisa mereka lihat—belum. Cahaya sore jatuh dari arah barat, keemasan dan datar.
Jenggalai terlihat tenang, tapi tak pernah betul-betul diam. Angin dari laut menyusup lewat celah Sonneratia caseolaris itu. Membawa bau asin, lumpur basah, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Helmi menarik pelan kailnya. Tidak ada ikan. Lalu Dedi menunjuk ke arah akar bakau tua, di sisi seberang kanal. “Mi… lihat ke sana!”
Sesuatu tersangkut di sela akar yang mencuat dari lumpur. Sebuah karung putih, besar, gembung sebagian, terbalik miring dengan ujung terbuka.
Karung itu jenis yang biasa dipakai untuk menampung beras 50 kilogram—lusuh dan basah. Helmi bangkit, menyorotkan cahaya dari ponsel ke arah karung. Apa yang tampak membuatnya langsung berhenti bernapas sesaat.
Rambut hitam, panjang dan basah, menjuntai dari lubang karung. Ujungnya menempel pada lumpur. Di balik rambut itu, terlihat… tulang tengkorak, sebagian tertutup daging yang mulai busuk, sebagian lain sudah membuka rahasianya pada udara.
“Ya Tuhan…” bisik Dedi. Langit sore seperti ikut memucat, dan udara yang tadinya menghangat perlahan menusuk ke kulit. “Mayat,” “Orang?” kata Helmi. Tak satu pun dari mereka mendekat.
Dedi mengeluarkan ponsel. Jarinya gemetar saat membuka Instagram dan masuk ke akun @raflessiakito, kanal berita lokal dengan tiga juta pengikut. Ia menekan siaran langsung.
“Petang menjelang malam… Min (dibaca: Admin). Posisi sekarang di Muara Jenggalai, sisi selatan kanal, dekat resto “Jenggalai Menyambut”. Kami baru saja temukan karung putih besar. Ada… mayat. Di dalamnya. Serius ini Min.”
Cahaya senter menyorot pelan wajah tak utuh itu. Komentar bermunculan: @pesona_bkl: Astaga, ada-ada kejadian di negeri ini?; @safitri_bengkulu: laki-laki, perempuan itu? Kacau… kacau dunia; @adminraflessiakito: Akan kami teruskan ke pihak berwenang. Terima kasih atas laporannya, netizen yang budiman.
Dedi mematikan live, tangannya basah oleh keringat. Helmi tak berkata apa pun, hanya duduk kembali, matanya tak lepas dari karung yang masih bergoyang pelan, mengikuti riak air senja.
Tak berapa lama, sirene pun memecah senja yang tinggal sisa. Suaranya menghunjam hening di sepanjang muara. Empat mobil dari Kepolisian Distrik Raflessia Raya datang menyusuri jalur tanah berpasir, berair, dan berkerikil di tepi muara. Dua di antaranya membawa unit forensik dengan emblem lambang burung roak-roak dan tulisan: Identifikasi – Kriminal Umum.
Lampu-lampu sorot segera dinyalakan, memecah kabut lembut yang mulai turun. Dalam cahaya putih yang keras, karung itu tampak lebih nyata.
Mian turun dari kendaraan terakhir. Pria setengah baya dengan wajah dan garis rahang yang tegas. Seragam dinasnya rapi tanpa cela, sarung tangan sudah terpakai bahkan sebelum ia menyentuh tanah. Tak ada perubahan di raut wajahnya saat melihat isi karung—hanya satu anggukan kecil, nyaris seperti penilaian akhir atas sesuatu yang sudah lama ia duga.
“Perempuan,” katanya pelan, tapi tak ada nada gentar dalam suaranya. “Usia sekitar empat puluhan. Ada bekas jerat di leher. Tengkorak terbuka sebagian. Tubuh bagian bawah masih utuh.” Tiga anggota forensik lainnya, mengenakan APD lengkap, mulai memotret dan mengukur jarak dari posisi karung ke garis air, ke akar bakau tempat ia tersangkut hingga ke dinding samping restoran.
“Lima belas meter dari dinding,” lapor salah satu anggota. “Area ini gelap. Minim lalu lintas. Tempat ideal untuk membuang tubuh tanpa diketahui.” Seorang petugas mendekati Dedi dan Helmi.
Senter diarahkan ke wajah mereka, lalu diturunkan. “Kalian yang menemukan?” “Ya, Pak,” jawab Dedi pelan. “Kenal korban?” “Tidak, sama sekali tidak Pak.” Helmi menjawab, menatap air…” Petugas mencatat, tanpa ekspresi.
Mian menatap mereka sekilas. Ia seolah sudah paham bahwa mereka ini bukan pelakunya, sekedar saksi hidup…
Ruangan itu seperti berhenti bernapas. Mendung menggantung rendah di luar, tapi suhu konflik sudah turun ke tulang. Kepala Badan Kepegawaian Benteng Raya menyandarkan tubuhnya perlahan.
Rambutnya tipis dan licin oleh minyak kemiri, tersisir rapi ke belakang, tapi kulit kepalanya tetap tampak di sela-selanya. Keningnya mengilap di bawah lampu neon, dan perut kecilnya mendesak batik biru upacara yang masih ia kenakan sejak pagi—usai memimpin apel “Hari Antikorupsi Nasional”.
Ia menatap Rasyana dengan mata yang tak lagi memberi ruang untuk idealisme. “Kau sudah terlalu jauh,” katanya pelan. “Sistem ini tidak mencintai kejujuran. Ia hanya menerima kesepakatan.”
Rasyana menunduk sejenak. Ia menarik napas. Lalu suaranya keluar—lembut, tapi menghantam seperti palu yang dibungkus sutra. “Saya tahu, Pak. Saya juga mengikuti jalur yang Bapak berikan.” Pria itu menoleh. Sekilas, wajahnya menunjukkan kejutan, lalu senyumnya kembali bermain di ujung bibir.
“Saya sudah menyetor sepuluh juta,” suara Rasyana nyaris tak terdengar, lebih seperti sisa napas yang tertahan. “Saya berhak atas tempat itu… setelah hampir tiga tahun waktu yang sudah dijalani.” Pria itu menatapnya lama.
“Kalau memang ada kesalahan, tolong beri tahu saya Pak,” lanjutnya. “Biar tahu letaknya di mana.” Kepala BK menghela napas, tidak berat, tapi cukup panjang untuk mengisi ruang dengan diam.“Ada hal-hal,” kata akhirnya, “yang tak bisa diganggu.”
Rasyana menunduk. Hening panjang menggantung di antara mereka. Lalu ia angkat wajah, dan meski nada bicaranya tetap tenang, sesuatu dalam suaranya mulai mengeras. “Kalau memang begitu… jangan buat seolah tak pernah ada yang datang.”
Pintu ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya. Diam makin pekat. Rasyana mengambil mapnya kembali di tengah ketegangan itu. Ia melangkah keluar. Pelan. Tegap.
Dan saat pintu tertutup kembali, Kepala BK memandangi kaca meja jatinya yang terlalu bersih, terlalu bening. Hingga bayangan tulisan “Tidak Ada Tempat untuk Korupsi dan Jual-Beli Jabatan” sangat terlihat jelas, namun wajahnya sendiri tampak rapuh…
Malam-malam Rasyana berubah sejak keributan di kantor itu. Tak ada lagi waktu untuk tidur nyenyak. Lampu meja kerjanya menyala hingga larut di kontrakannya yang sempit di pinggiran Pasar Minggu. Laptop tua di meja dengan stiker logo “Salam Lestari” nyaris pudar, map lusuh berwarna merah dan berisi dokumen yang telah bolak-balik dibaca, dan secangkir kopi Robusta yang belum ia habiskan.
Pelan dan nyaris tanpa suara. Setiap berkas yang disentuh Rasyana seolah memiliki napasnya sendiri. Ada yang tipis dan rapuh dan ada yang berat, menyimpan detik-detik dari rekaman percakapan yang tak pernah diucapkan di ruang resmi.
Tangannya cukup gemetar saat memindai satu per satu rekaman suara dengan jeda panjang yang terlalu tenang. Tangkapan layar percakapan gelap lewat WhatsApp dengan Kepala BK. Lalu daftar peserta ujian abdi negara dengan perjanjian kerja yang ditulisi catatan jam kerja di pinggirnya, dengan angka-angka yang tak cocok bahkan jika waktu dibengkokkan.
Benda kecil itu, berbentuk liontin, tergantung pada kalung rantai peraknya yang sederhana. Rasyana sengaja memilih bentuk itu—agar jika harus lari, ia hanya perlu membawa dirinya sendiri. Sesekali ia berbicara pada dirinya di cermin. “Jangan takut. Kau sudah terlalu jauh untuk kembali.”
Di satu sisi meja, amplop putih tertutup yang berisi catatan tulisan tangan. Kepada @raflessiakito. Ia mengirim pesan singkat ke admin akun berita lokal itu. “Jika saya tiba-tiba tak bisa dihubungi kembali, buka rekaman ini.” Tidak ada jawaban, hanya centang dua.
Malam ketika ia hendak menyerahkan flashdisk itu, ia mandi lebih lama dari biasanya. Rasyana mengenakan kemeja putih lengan panjang dan rok hitam panjang yang biasa ia pakai ke kantor. Rambutnya dikuncir rapi. Ia membawa tas tangan kecil berisi liontin itu…
CCTV dari “Jenggalai Menyambut” pernah menangkap langkahnya. Rasyana membuka pintu mobil terakota di parkiran dan kaca filmnya terlalu gelap. Terlihat sedang berbicara sebentar dengan seseorang, lalu masuk.
Waktu berjalan, tapi jawaban tak kunjung datang. Kepolisian distrik telah memanggil sejumlah nama dari lingkungan Pemerintah Benteng Raya. Kepala Dinas Hidupi Lindungi, dua kepala bidangnya di persampahan dan kebijakan dampak lingkungan, seorang operator sistem kepegawaian, dan pada akhirnya, pimpinan tertinggi Badan Kepegawaian itu sendiri.
Kepala BK datang mengenakan setelan berwarna khaki dan senyum formal. Wartawan sempat menangkap gambarnya turun dari mobil dinas, mengangkat tangan sebentar, lalu masuk ke ruang pemeriksaan tanpa sepatah kata. Di dalam keterangan resmi, polisi menyebutnya sebagai saksi kunci.
Kolom komentar di media sosial datang dan pergi, sebagian getir, sebagian lucu dengan nada sinis. Nama Kepala BK kembali mengapung, bersama potongan wajahnya yang diambil dari sudut buruk—dagu terangkat, mata setengah menyipit.
Tagar muara_rasyana sempat naik di Kota Raflessia, tapi turun perlahan, tergantikan berita lain yang lebih keras bunyinya. Polisi tetap bicara dalam format datar, rapi, dan sejuk. “Masih penyelidikan… komunikasi internal… alur struktural.” Kabar-kabar yang tak dicetak menyebar seperti sisa asap rokok dalam ruangan tertutup di redaksi media-media lokal…
Lampu teras masih menyala siang dan malam di kontrakannya yang sempit, tapi pintu selalu terkunci dari luar. Beberapa wartawan mencoba menelusuri, tapi tak satu pun tetangga tahu ke mana Rasyana pergi.
Hanya seorang pemuda tanggung menyebut, malam sebelum menghilang, lelaki itu berdiri lama di depan pintu. Merokok dan tak berbicara. Hanya diam, memegang map merahnya, dan menatap langit.
Kepala BK sendiri belum banyak bicara. Saat ditanya awak media, ia hanya menjawab pendek, “Saya sudah sampaikan yang saya tahu. Biarkan proses berjalan.”
Sementara itu, berkas autopsi sudah ditutup. Rasyana dimakamkan dengan status korban pembunuhan, tapi belum satu pun pelaku ditetapkan. Dan muara Jenggalai, tempat jasadnya ditemukan, tetap beriak pelan…
Sore itu hujan belum turun, tapi bau tanah basah sudah naik ke atas jendela. Hanya ia dan tamunya—laki-laki berperawakan tenang, mengenakan setelan jas tipis berwarna hitam pekat. Ia duduk tanpa permisi, langsung menyandarkan punggung ke sofa yang terlalu empuk diduduki untuk urusan negara.
“Anak itu… sangat mengganggu,” katanya pelan. “Kau tahu saya sudah menjamin satu kursi untuk keponakanmu. Ternyata namanya tak masuk. Sekarang malah gadis tua itu yang berisik.”
Kepala BK diam. Tangannya hanya menyentuh cangkir yang sudah dingin. “Aku tak punya kuasa atas suara orang seperti dia. Jaringan sosialnya lebih luas dari yang kuduga.”
“Tapi kau tahu titik lemahnya,” ucap lelaki itu, matanya tak berpaling. “Jika tak bisa dibungkam, benamkan saja.”
“Terserah, tapi jangan libatkan aku.” Nada Kepala BK nyaris seperti permohonan. “Aku sudah cukup jauh. Jangan paksa untuk lebih.” Lelaki itu tertawa kecil. Ringan. “Aku juga tak meminta kau turun tangan. Cukup jangan halangi.” Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu keluar…
Tetesan air di luar akhirnya jatuh. Ringan, tapi cukup untuk menghapus jejak sepatu dari lantai granit yang baru dipel. Sinyal telepon menembus dinding kayu yang lembap di sebuah kamar kecil di lantai atas hotel tua. Salah satu dari dua lelaki yang duduk bersila di lantai menjawab panggilan pendek.
“Halo.” “Waktu kalian datang,” suara di ujung seberang terdengar tenang. “Rasyana Pulungan. Usia sekitar empat puluh. Terakhir terlihat di rumah kosan di area Pasar Minggu. “Pola biasa?” “Tidak.” Suara itu berhenti sejenak. “Kali ini harus benar-benar bersih. Tanpa jejak dan tak ada luka yang bisa dibaca.”
Panggilan berakhir. Lelaki itu—bertubuh kurus berotot, kulitnya legam oleh matahari rawa—meletakkan ponsel di samping parang tajam dan kecil, yang belum pernah dipakai di kota.
Tergantung kalung anyaman serat bakau di lehernya. Mereka dibesarkan di jalur perburuan tua di pedalaman Yatnap Jangpan. Langkah yang terlalu cepat di sana bisa mengusir rusa dan napas yang terlalu keras bisa mengundang buaya.
Orang-orang dari Suku Jangrojo belajar diam bukan untuk tunduk, melainkan untuk mengintai. Orang tua mereka menyebut Prionailurus viverrinus sebagai saudara jauh—kucing bakau yang bisa membelah air tanpa gelombang. Dan bayangkan jika mereka memburu manusia.

8 hours ago
5


















































