KLIKPOSITIF- Maraknya keluhan pengunjung terkait tarif parkir dan harga di objek wisata di Sumatera Barat setiap momen Lebaran dinilai sebagai persoalan klasik yang belum terselesaikan. Hal ini disebut dipicu oleh minimnya sosialisasi, informasi, serta transparansi dalam pelayanan wisata.
Pakar pariwisata dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Sari Lenggogeni, menyebut persoalan ini terus berulang setiap tahun dan selalu menjadi bahan evaluasi para penggiat wisata.
“Masalah tarif parkir, harga makanan yang tinggi, hingga kemacetan merupakan isu lama yang selalu muncul saat Lebaran. Setiap tahun kami bersama asosiasi dan pelaku wisata membahas hal ini,” ungkapnya pada Katasumbar.
Ia menjelaskan, sejak 2018 berbagai upaya telah dilakukan, termasuk koordinasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah guna mendorong standarisasi serta transparansi harga.
Bahkan, menurutnya, saat itu telah diterbitkan surat edaran yang mengimbau pelaku usaha untuk mencantumkan harga secara jelas guna menghindari keluhan pengunjung.
Lanjutnya, kunci utama dari persoalan tersebut adalah komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik kepada wisatawan. Jika tarif parkir dan harga tiket masuk diinformasikan secara jelas sejak awal, maka potensi komplain dapat diminimalisir.
“Kalau dari awal sudah jelas, misalnya tarif parkir mobil sekian, motor sekian, biaya masuk sekian, tentu tidak akan jadi masalah. Yang penting transparan dan terinformasi dengan baik,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti kemacetan yang kerap terjadi di sejumlah destinasi wisata saat Lebaran. Meski dinilai sebagai hal yang wajar karena meningkatnya jumlah pengunjung, pengaturan lalu lintas tetap perlu diperkuat.
“Macet saat Lebaran memang sulit dihindari karena banyak perantau pulang. Namun, pengelolaan lalu lintas, titik rawan macet, serta penyediaan jalur alternatif harus terus dibenahi agar tidak terlalu parah,” tutupnya.

3 hours ago
7




















































