Newswire Selasa, 11 Agustus 2026 18:27 WIB

Araip Foto - Area padang rumput di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA/Ananto Pradana\r\n
Harianjogja.com, MALANG— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, telah berdampak pada area seluas 899,35 hektare hingga Selasa (11/8/2026). Tim gabungan terus melakukan pemadaman dengan fokus pada sejumlah titik api aktif agar kebakaran tidak merambat ke vegetasi baru.
Komandan Sektor Penanganan Karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus 2026 tersebut kini ditangani secara terintegrasi.
"Kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus 2026 ini diperkirakan telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare," kata Wahyu yang juga Danrem 083/Baladhika Jaya dalam keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur.
Tiga Area Masih Jadi Fokus Pemadaman
Operasi penanganan karhutla melibatkan lintas sektor. Unsur yang terlibat terdiri atas kementerian, TNI, Polri, serta empat pemerintah daerah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
Wahyu menyebut pengendalian titik api telah berhasil dilakukan sehingga luasan area terdampak tidak bertambah. Namun, sejumlah titik masih membutuhkan intervensi tim gabungan.
"Saat ini, fokus intervensi menyisakan titik api aktif, yaitu di Watangan 817,342 hektare, Argowulan 25,393 hektare, dan Dingklik, Pakis Bincil, Mungal 56,65 hektare," ucap dia.
Dengan luasan tersebut, Watangan menjadi area dengan titik api aktif terbesar. Tim kemudian memusatkan upaya pengendalian agar jalur rambatan api dapat diputus.
Dua Helikopter Dikerahkan untuk Water Bombing
Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Angin dan kondisi cuaca kemarau menjadi faktor yang memengaruhi operasi pengendalian karhutla.
Pemadaman dari udara juga terkendala kabut tebal. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang pilot helikopter pengebom air ketika menjalankan operasi water bombing.
"Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan. Prioritas kami adalah memutus jalur rambatan agar tidak meluas ke area vegetasi baru," ujarnya.
Faktor Alam Dinilai Bukan Pemicu Utama
Berdasarkan analisa awal, faktor alam dinilai memiliki kemungkinan yang kecil sebagai pemicu kebakaran. Hal tersebut dikaitkan dengan karakteristik kawasan Bromo yang masih memiliki tingkat kelembapan tertentu meskipun saat ini memasuki musim kemarau.
Tim gabungan kemudian menyiapkan langkah lanjutan untuk memastikan api tidak kembali berkobar setelah pengendalian dilakukan.
Posko terpadu yang berada di bawah tanggung jawab Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto telah menyusun sejumlah rencana tindak lanjut.
"Langkah antisipasi lanjutan guna memastikan api tidak kembali berkobar, posko terpadu di bawah tanggung jawab Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto telah menyusun rencana tindak lanjut, yakni Patroli terpadu berkala, stasioning personel gabungan, manajemen informasi publik," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

1 hour ago
1
















































