Harga Minyak Dunia Naik, Iran Ancam Batasi Pelayaran di Selat Hormuz

2 hours ago 1

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026) setelah pasar merespons meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi muncul menyusul publikasi rancangan kebijakan Iran yang berencana membatasi pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.

Penguatan harga juga dipengaruhi kekhawatiran berlanjutnya tekanan inflasi sektor energi serta gangguan pasokan dari Rusia yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Harga Brent dan WTI Sama-sama Menguat

Berdasarkan data TradingView, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2026 naik 1,22% menjadi US$83,50 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman September menguat 1,11% ke level US$78,15 per barel.

Westpac: Risiko Inflasi Energi Masih Membayangi

Dalam risetnya, Westpac menilai kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa tekanan inflasi dari sektor energi belum mereda.

"Kenaikan harga minyak mengindikasikan bahwa dorongan inflasi lebih lanjut dari sektor energi dan situasi di Timur Tengah tidak dapat diabaikan, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan pelemahan obligasi pemerintah," tulis Westpac, dikutip dari CNBC International.

Menurut lembaga tersebut, dinamika geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar energi global.

Rancangan Kebijakan Iran Jadi Pemicu

Sentimen pasar dipicu oleh rancangan kebijakan Iran mengenai pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Berdasarkan dokumen tersebut, Iran berencana melarang kapal milik Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Tak hanya itu, negara-negara lain yang dinilai telah merugikan Iran juga disebut tidak akan diizinkan melintas hingga memberikan kompensasi sebagaimana diatur dalam rancangan kebijakan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran dan Oman masih melanjutkan pembahasan mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai hasil akhir perundingan kedua negara tersebut.

Namun, mengutip BBC, Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski implementasinya masih berada pada tahap akhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, tidak menjelaskan rincian isi kesepakatan.

Ia hanya menyampaikan bahwa proses penyelesaiannya telah memasuki tahap final.

Meski demikian, Baqaei menegaskan kesepakatan tersebut belum menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Menurutnya, keamanan kawasan masih dipengaruhi blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Faktor-faktor yang menyebabkan Selat Hormuz tidak aman dari pihak Amerika Serikat masih tetap ada, khususnya blokade angkatan laut serta tindakan agresif dan ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," ujar Baqaei, seperti dikutip dari kantor berita IRNA.

Ia juga menyebut Iran dan Oman telah menyepakati koordinat geografis jalur pelayaran baru di Selat Hormuz.

Jalur Baru Bersifat Sementara

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan jalur pelayaran yang disepakati tersebut hanya akan diberlakukan sementara.

Menurutnya, rute baru itu diperkirakan berlaku selama dua hingga empat bulan.

Namun, Gharibabadi belum mengungkapkan mekanisme operasional maupun lokasi pasti jalur pelayaran tersebut.

Gangguan Pasokan Rusia Ikut Jadi Perhatian

Selain perkembangan di Timur Tengah, pasar juga mencermati potensi gangguan pasokan dari Rusia.

Dalam risetnya, UOB menyebut Ukraina menyerang dua kilang minyak utama Rusia, yakni Yaroslavl/Yanos dan fasilitas Novoil milik Bashneft, pada Kamis malam waktu setempat.

UOB juga mencatat impor minyak mentah Amerika Serikat dari Arab Saudi turun menjadi nol pada Juli 2026.

Kondisi itu menjadi yang pertama sejak 1985 dan turut memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Trump Optimistis Konflik Iran Segera Berakhir

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang di Iran diyakini akan segera berakhir.

Dalam keterangannya di Oval Office, Trump mengatakan dirinya meyakini konflik di Iran akan berakhir dalam waktu dekat.

Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah karena dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news