
Petugas BPBD Gunungkidul saat memasukan bantuan air ke dalam bak penampungan di Padukuhan Kemesu, Semugih, Rongkop. Istimewa-BPBD GK
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dampak musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat sebanyak 75.486 warga di 58 kalurahan yang tersebar pada 16 kapanewon kini mengalami krisis air bersih dan membutuhkan pasokan bantuan setiap hari.
Distribusi air bersih terus dilakukan oleh BPBD bersama pemerintah kapanewon serta berbagai pihak ketiga guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.
Sub Koordinator Logistik dan Peralatan Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Arief Prasetyo, mengatakan penyaluran bantuan air bersih masih berlangsung setiap hari seiring bertambahnya wilayah yang terdampak.
“Setiap hari ada bantuan air bersih ke masyarakat yang membutuhkan,” kata Arief, Jumat (7/8/2026).
Sebanyak 24.062 KK Terdampak Krisis Air
Selain mendistribusikan bantuan, BPBD juga terus memperbarui pendataan masyarakat yang terdampak kekeringan.
Hasil pendataan menunjukkan terdapat 75.486 jiwa atau 24.062 kepala keluarga (KK) yang mengalami krisis air bersih. Mereka tersebar di 311 padukuhan pada 58 kalurahan di Kabupaten Gunungkidul.
Menurut Arief, hingga kini hanya Kapanewon Karangmojo dan Playen yang masih dinyatakan bebas dari krisis air bersih.
“Yang dinyatakan bebas dari krisis air bersih hanya di Kapanewon Karangmojo dan Playen. Sedangkan, untuk 16 kapanewon lain di Gunungkidul sudah terdampak karena telah mendapatkan bantuan air bersih,” katanya.
Sebaran Kekeringan Tidak Merata
BPBD menjelaskan kondisi kekeringan tidak terjadi secara merata di setiap wilayah.
Sebagai contoh, di Kapanewon Wonosari, titik terdampak hanya berada di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung.
Meski demikian, seluruh kapanewon yang terdampak telah menerima distribusi bantuan air bersih.
“Sudah ada bantuan air bersih yang diberikan ke 16 kapanewon di Gunungkidul yang mengalami krisis,” ujar Arief.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan wilayah Gunungkidul saat ini telah memasuki puncak musim kemarau.
Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, masyarakat juga diminta menggunakan cadangan air secara bijak karena ketersediaannya semakin terbatas.
“Sekiranya tidak begitu penting, maka stok yang ada lebih baik disimpan. Air harus dimanfaatkan dengan bijak dengan skala prioritas guna mencukupi kebutuhan dasar seperti mandi, memasak dan mencuci,” katanya.
Status Siaga Darurat Bisa Diperpanjang
Sebagai langkah menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga November 2026, BPBD Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan.
Status tersebut berlaku hingga 31 Agustus 2026, namun dapat diperpanjang sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
Purwono menjelaskan penetapan status siaga darurat juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperoleh tambahan anggaran dalam mendukung distribusi bantuan air bersih kepada masyarakat.
“Status ini berakhir 31 Agustus, tapi bisa diperpanjang sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan statuss ini, kami bisa mendapatkan tambahan anggaran untuk penyaluran bantuan air bersih,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
1

















































