PADANG, KLIKPOSITIF — Pemerintah Kota (Pemko) Padang mendorong penguatan green infrastructure atau infrastruktur hijau sebagai bagian penting dalam strategi mitigasi bencana, khususnya untuk mengurangi risiko banjir hingga banjir bandang yang mengancam kawasan hilir.
Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, upaya penanggulangan bencana tidak bisa hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik seperti normalisasi sungai, drainase maupun bangunan pengendali banjir. Perlindungan kawasan hulu melalui penghijauan dan pemulihan ekosistem juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Hal itu disampaikan Fadly saat menghadiri Penanaman Perdana Festival Tanam Hulu yang dipusatkan di kawasan Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia tersebut menjadi langkah kolaboratif dalam mendorong restorasi kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji. Penanaman pohon dilakukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki tutupan lahan sekaligus meningkatkan kapasitas lingkungan dalam menahan dan menyerap air hujan.
“Dalam perspektif penanggulangan bencana, kita tidak hanya membutuhkan infrastruktur berat, tetapi juga green infrastructure yang tidak kalah pentingnya. Pemko Padang mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pak Andre Rosiade atas pelaksanaan penanaman perdana Festival Tanam Hulu ini, sebab tanpa penghijauan kembali kawasan hulu sungai, risiko banjir hingga banjir bandang di Kota Padang akan semakin besar,” kata Fadly.
Menurutnya, penguatan kawasan hulu perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Kawasan seperti Guo, Lambung Bukit dan sejumlah titik lainnya yang memiliki potensi risiko bencana harus mendapatkan perhatian melalui pendekatan pemulihan lingkungan.
Fadly menilai, kondisi kawasan hulu memiliki keterkaitan erat dengan persoalan yang terjadi di wilayah hilir. Ketika daya dukung kawasan hulu menurun akibat berkurangnya tutupan vegetasi, kemampuan tanah dalam menyerap air juga dapat ikut berkurang. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan limpasan air menuju wilayah yang lebih rendah saat hujan dengan intensitas tinggi.
Karena itu, penanganan bencana menurutnya perlu dilakukan dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas lingkungan hingga aparat keamanan memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
“Kita ingin pendekatan penanggulangan bencana ini dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya ketika bencana terjadi, tetapi juga melalui langkah-langkah pencegahan yang memperkuat ketahanan lingkungan,” ujarnya.
Penanaman perdana tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Anggota DPRD Kota Padang Wahyu Hidayat dan Rachmat Wijaya, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani, Kalaksa BPBD Kota Padang Hendri Zulviton, Camat Kuranji Rozaldi Rosman, Ketua Pengurus Yayasan Galapagos Lestari Indonesia Romelson Candra, Ketua Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia Hendra Amriz, serta jajaran TNI-Polri dan stakeholder terkait.
Andre Rosiade menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemko Padang bersama Galapagos dan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana melalui penanganan sungai dan rehabilitasi lingkungan.
Ia menilai, upaya mitigasi harus dilakukan secara simultan. Normalisasi sungai tetap dibutuhkan, namun langkah tersebut harus dilengkapi dengan pemulihan kawasan hulu agar fungsi ekologis kawasan dapat kembali diperkuat.
“Normalisasi saja tidak cukup, pohon-pohon ini kita tanam kembali untuk mengantisipasi terjadinya bencana berikutnya. Kita menargetkan penanaman sebanyak 60.000 pohon di Kecamatan Kuranji dan Pauh,” kata Andre.
Dukungan terhadap program tersebut, kata Andre, juga diwujudkan melalui dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari sejumlah BUMN dengan nilai lebih dari Rp2 miliar. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung rehabilitasi lingkungan di kawasan DAS yang terdampak bencana.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar program rehabilitasi lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial penanaman pohon. Pohon yang ditanam harus dirawat dan dipastikan tumbuh sehingga memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia Hendra Amriz mengatakan Festival Tanam Hulu digelar sebagai respons terhadap bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang pada akhir tahun lalu dan kembali terjadi pada 3 Agustus 2026.
Menurut Hendra, rangkaian festival dirancang sebagai sebuah multi event yang berlangsung sekitar tujuh bulan. Kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penanaman pohon, tetapi juga membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hulu.
Festival tersebut dikembangkan melalui tiga kluster kegiatan, yakni konsolidasi, edukasi dan kompetisi. Ketiga pendekatan itu diharapkan dapat memperkuat gerakan restorasi lingkungan sekaligus menciptakan model kolaborasi yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Fokus perdana diarahkan pada hulu DAS Batang Kuranji di Kecamatan Pauh dan Kuranji melalui kompetisi restorasi lahan dan pemulihan tutupan, dengan target 60.000 bibit tanaman hutan. Penilaian dilakukan dua tahap, setelah penanaman dan tiga bulan kemudian, dengan pemenang dianugerahi dalam Alek Nagari,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan, pendekatan kompetisi tersebut dirancang agar masyarakat tidak sekadar melakukan penanaman, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat dan memastikan tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga dari tingkat keberlangsungan tanaman serta perubahan tutupan lahan di kawasan yang menjadi sasaran restorasi.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Kawasan hulu yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem ekologis Kota Padang perlu dijaga secara berkelanjutan agar mampu menjalankan fungsi hidrologisnya.
Rangkaian Festival Tanam Hulu kemudian akan berlanjut dengan berbagai agenda konsolidasi, edukasi dan kompetisi selama sekitar tujuh bulan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperluas gerakan penghijauan sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Pada penghujung kegiatan, juga dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Padang dan Yayasan Galapagos Indonesia Lestari. Selain itu, dilakukan Perjanjian Kerja Sama antara Dinas Pertanian Kota Padang dengan Yayasan Galapagos Indonesia Lestari mengenai kolaborasi pemanfaatan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) dr. Mohammad Hatta.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kesinambungan program pemulihan lingkungan, sehingga penanaman pohon tidak berhenti sebagai kegiatan jangka pendek, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga kawasan hulu dan mengurangi risiko bencana di Kota Padang.
Bagi Pemko Padang, penguatan green infrastructure menjadi investasi jangka panjang. Ketika kawasan hulu terjaga, tutupan vegetasi dipulihkan dan ekosistem sungai diperkuat, maka upaya perlindungan terhadap masyarakat di kawasan hilir juga dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan semata persoalan membangun infrastruktur setelah bencana terjadi, melainkan bagaimana pemerintah dan seluruh elemen masyarakat membangun ketahanan lingkungan sebelum bencana datang.

4 hours ago
2


















































