Chad Jadi Negara dengan Tingkat Kemarahan Tertinggi di Dunia

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Negara yang masyarakatnya paling banyak melaporkan pengalaman marah ternyata bukan semata-mata negara dengan persoalan ekonomi. Data Gallup menunjukkan negara yang berada di posisi teratas justru banyak menghadapi konflik, ketidakstabilan politik, tekanan ekonomi, hingga krisis kemanusiaan.

Dalam State of the World’s Emotional Health 2025, Gallup mengukur berbagai pengalaman emosional masyarakat di 144 negara dan wilayah. Data tersebut berasal dari wawancara terhadap lebih dari 145.000 orang dan menggambarkan kondisi emosi masyarakat pada 2024.

Gallup menemukan bahwa 22% orang dewasa di dunia mengatakan mereka mengalami kemarahan pada sebagian besar hari sebelumnya. Angka tersebut merupakan salah satu indikator emosi negatif yang digunakan dalam survei tersebut.

Chad menjadi wilayah dengan persentase responden yang melaporkan pengalaman marah tertinggi. Sebanyak 47% responden di negara tersebut mengatakan mereka mengalami kemarahan pada hari sebelum wawancara.

Posisi berikutnya ditempati Yordania dengan 46% dan Armenia dengan 43%.

Gallup mencatat tingginya emosi negatif tersebut berkaitan dengan kondisi perdamaian dan stabilitas suatu negara. Negara-negara yang rapuh atau terdampak konflik cenderung memiliki tingkat pengalaman emosi negatif yang lebih tinggi.

Daftar negara dengan tingkat kemarahan tertinggi

Berikut daftar negara dan wilayah dengan persentase responden yang melaporkan mengalami kemarahan pada hari sebelumnya berdasarkan data Gallup 2024:

  1. Chad — 47%

  2. Yordania — 46%

  3. Armenia — 43%

  4. Northern Cyprus — 42%

  5. Irak — 40%

  6. Sierra Leone — 40%

  7. Guinea — 39%

  8. Republik Demokratik Kongo — 38%

  9. Palestina — 38%

  10. Iran — 37%

  11. Maroko — 37%

Gallup menampilkan 11 negara/wilayah karena Iran dan Maroko memiliki angka yang sama, yakni 37%. Dengan demikian, daftar tersebut sering disebut sebagai 10 besar, tetapi secara tabel resmi terdapat 11 entitas.

Chad berada di posisi teratas

Chad mencatat angka 47%, menjadikannya negara dengan tingkat pelaporan kemarahan tertinggi dalam data Gallup 2024.

Angka tersebut juga merupakan rekor tertinggi Chad dalam pengukuran Gallup. Laporan Gallup mengaitkan kondisi emosional tersebut dengan sejumlah persoalan yang terjadi pada 2024, termasuk ledakan depot amunisi pada Juni dan ketegangan politik setelah pemilu yang disengketakan.

Namun, angka tersebut tidak berarti 47% masyarakat Chad merupakan orang yang “pemarah”. Yang diukur Gallup adalah pengalaman emosional responden pada hari sebelumnya.

Perbedaan ini penting karena kemarahan dalam survei lebih tepat dipahami sebagai indikator kondisi emosional masyarakat, bukan penilaian terhadap karakter penduduk suatu negara.

Konflik dan ketidakstabilan ikut memengaruhi

Dominasi negara-negara yang menghadapi konflik atau ketidakstabilan dalam daftar tersebut menjadi salah satu temuan penting Gallup.

Laporan tersebut menyebut negara dengan tingkat kemarahan tinggi banyak ditandai konflik aktif, perang yang baru terjadi, atau ketidakstabilan politik dan ekonomi. Chad, Yordania, Armenia, Northern Cyprus, Sierra Leone dan Irak termasuk wilayah yang disebut dalam kelompok tersebut.

Kondisi serupa terlihat di Republik Demokratik Kongo (DRC).

Negara tersebut telah lama menghadapi konflik bersenjata, terutama di bagian timur. Kekerasan dan perpindahan penduduk berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk akses terhadap pangan dan layanan dasar.

Data Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menunjukkan sekitar 27,7 juta orang di DRC menghadapi tingkat kerawanan pangan akut fase 3 atau lebih tinggi pada Januari hingga Juni 2025.

Situasi tersebut kemudian diperburuk oleh krisis kesehatan. Pada 2026, DRC menghadapi wabah penyakit virus Ebola Bundibugyo yang berkembang dari Ituri dan kemudian meluas ke sejumlah provinsi lain. WHO pada akhir Juli 2026 mencatat lebih dari 3.600 kasus terkonfirmasi dan 1.587 kematian.

Dengan berbagai tekanan tersebut, tingginya angka pengalaman emosi negatif di DRC tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan keamanan yang dihadapi masyarakat.

Irak dan Palestina juga berada di daftar

Irak menempati posisi kelima dengan 40%. Negara tersebut masih menghadapi dampak panjang ketidakstabilan politik dan konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Palestina mencatat 38% dan berada di posisi yang sama dengan Republik Demokratik Kongo.

Konflik berkepanjangan, pembatasan mobilitas, tekanan ekonomi, serta ketidakpastian kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari situasi yang dihadapi masyarakat Palestina.

Gallup secara umum menemukan adanya hubungan antara kondisi perdamaian dan pengalaman emosi negatif. Kemarahan, kesedihan, serta rasa khawatir cenderung lebih banyak dilaporkan di negara yang tingkat kedamaian dan stabilitasnya lebih rendah.

Bukan sekadar soal sifat masyarakat

Daftar Gallup tersebut menunjukkan bahwa tingginya angka kemarahan tidak tepat dibaca sebagai ukuran bahwa suatu bangsa memiliki masyarakat yang lebih buruk atau lebih mudah tersulut emosi.

Sebaliknya, angka tersebut dapat menjadi gambaran tentang tekanan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika masyarakat menghadapi perang, ketidakamanan, kehilangan mata pencaharian, kesulitan memperoleh makanan, ketidakpastian politik, atau tekanan ekonomi, pengalaman emosi negatif dapat meningkat.

Gallup sendiri menempatkan emosi tersebut dalam konteks yang lebih luas. Laporannya menemukan hubungan kuat antara emosi negatif dengan kondisi perdamaian dan kesehatan masyarakat.

Karena itu, posisi Chad sebagai negara dengan angka pengalaman kemarahan tertinggi tidak dapat dimaknai bahwa penduduknya secara bawaan lebih pemarah dibandingkan penduduk negara lain.

Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai potret kondisi emosional masyarakat pada periode ketika survei dilakukan.

Catatan: Data dalam artikel ini berasal dari State of the World’s Emotional Health 2025 yang menggunakan data survei tahun 2024. Persentase menunjukkan proporsi responden yang mengatakan mereka mengalami kemarahan pada hari sebelumnya, bukan persentase penduduk yang memiliki karakter pemarah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news