BSSN: AI Bikin Serangan Siber ke Sektor Keuangan Kian Mudah

4 hours ago 1

Harianjogja.com, JAKARTA— Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) telah mengubah pola serangan siber terhadap sektor keuangan. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut teknologi tersebut membuat serangan menjadi lebih otomatis, adaptif, dan efektif, termasuk dalam menjalankan penipuan yang semakin sulit dibedakan dari komunikasi asli.

Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata BSSN Edit Prima mengatakan penggunaan AI membuat penipuan dapat dilakukan secara lebih personal dan meyakinkan. Bahkan, penggunaan teknologi tersebut dapat membuat kesalahan tata bahasa semakin minim.

"Jadi dengan bantuan AI, penipuan sangat mudah, sangat personal, sangat meyakinkan, hampir bebas dari kesalahan tata bahasa dan sulit dibedakan dari versi asli,” kata Edit dalam acara Indonesian Cyber Security Summit 2026 di Jakarta, Kamis.

Menurut Edit, perkembangan tersebut menjadi perhatian serius bagi sektor keuangan karena AI dapat digunakan untuk memperkuat berbagai tahapan dalam serangan siber.

AI Memperluas Sasaran Serangan

Edit menjelaskan setidaknya terdapat sejumlah alasan yang membuat penggunaan AI dalam serangan siber menjadi semakin berbahaya bagi industri keuangan.

Pertama, AI memungkinkan penyerang menyasar ribuan target dalam waktu bersamaan. Teknologi tersebut juga dapat menganalisis data sehingga serangan dapat dibuat lebih terarah dan relevan dengan calon korban.

Kemampuan tersebut membuat pola serangan tidak lagi harus dilakukan secara umum. Penyerang dapat menggunakan data untuk menyesuaikan pendekatan berdasarkan target yang hendak disasar.

Kedua, AI dapat mempercepat berbagai tahapan serangan, mulai dari pengakuan hingga eksploitasi. Teknologi tersebut juga mampu beradaptasi terhadap kondisi tertentu sekaligus menghindari sistem keamanan tradisional.

Ketiga, perangkat AI kini semakin tersedia secara luas. Kondisi tersebut membuat serangan siber dengan tingkat kecanggihan tertentu tidak lagi hanya dapat dilakukan oleh pelaku yang memiliki kemampuan teknis tinggi.

AI Membuat Serangan Siber Bisa Dilakukan Lebih Banyak Orang

Edit menyebut kemudahan akses terhadap perangkat dan layanan AI telah memunculkan apa yang disebutnya sebagai democratization of tech.

“AI ini telah menciptakan kalau istilah kita itu democratization of tech. Jadi siapapun bisa melakukan serangan, tidak harus orang yang punya kemampuan skill teknis yang memadai. Cukup dengan bantuan tools, layanan-layanannya sudah bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi tersebut memperluas potensi pelaku serangan siber. Kemampuan teknis yang sebelumnya menjadi salah satu hambatan kini dapat terbantu oleh berbagai perangkat dan layanan berbasis AI.

Bagi industri keuangan, perkembangan tersebut menjadi tantangan karena sektor ini berkaitan langsung dengan data, transaksi, layanan nasabah, serta kepercayaan publik.

Dampaknya Bisa Menjalar ke Kepercayaan Nasabah

Edit menerangkan serangan siber berbasis AI yang semakin gencar dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi sektor keuangan.

Dampak tersebut antara lain meningkatnya kerugian finansial, hilangnya kepercayaan nasabah, gangguan operasional, hingga penurunan reputasi perbankan.

Karena itu, penguatan ketahanan siber menjadi salah satu langkah yang didorong BSSN untuk menghadapi perkembangan ancaman berbasis AI.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga di sektor keuangan, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).

BSSN Dorong Pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber

Selain memperkuat kolaborasi, BSSN membentuk Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) dan mendorong setiap organisasi memiliki tim khusus serupa.

TTIS bertugas melakukan deteksi dini, respons cepat, serta mitigasi terhadap insiden siber. Tim tersebut menjadi perpanjangan tangan BSSN di lapangan dan berperan sebagai first responder sebelum sebuah insiden berkembang lebih jauh.

Untuk memperkuat penanganan pada tingkat organisasi, BSSN juga mendorong pelaku industri keuangan memiliki tata kelola penanganan insiden yang rapi dan terstruktur.

“Untuk kolaborasi yang lebih teknis, kita mendorong di setiap organisasi pelaku industri keuangan ini bisa punya tata kelola penanganan insiden yang rapi dan terstruktur,” kata Edit.

BSSN juga mengimbau setiap organisasi di industri keuangan wajib memiliki, membentuk, dan mengoperasikan TTIS sekaligus melakukan registrasi tim tersebut kepada BSSN.

“Intinya kita berharap mendorong, bahkan sudah diatur dalam peraturan, bahwa setiap organisasi wajib punya, membentuk, mengoperasikan tim tanggap insiden siber. Tidak hanya itu, juga mendaftarkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news