
Foto ilustrasi aksara jawa dibawa ke era digital./ Ist
JOGJA—Upaya melestarikan bahasa dan aksara Jawa terus dilakukan di tengah perkembangan teknologi digital. Salah satunya melalui Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa DIY yang memasuki tahun keempat dan dikemas dengan memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan aksara Jawa kepada generasi muda.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan, Nugraha Wahyu Winarna, mengatakan pelestarian dan pengembangan kebudayaan merupakan bagian dari penugasan Keistimewaan Yogyakarta. Hal tersebut juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 serta Perdais Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan di DIY.
Dia mengatakan salah satu objek kebudayaan yang menjadi perhatian untuk dilestarikan dan dikembangkan adalah bahasa, termasuk aksara Jawa. Menurutnya, upaya pelestarian tersebut melibatkan semua pihak, bahkan lintas generasi.
"Melestarikan aksara-aksara ataupun bahasa Jawa di Yogyakarta khususnya, salah satunya melalui pelaksanaan Olimpiade Aksara Jawa," ujarnya dalam Rembag Kaistimewan bertema "Generasi Digital, Budaya Abadi: Semangat Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa #4" yang digelar secara daring melalui kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Nugraha, pengembangan bahasa dan aksara Jawa saat ini telah memasuki tahap pemanfaatan teknologi yang dapat memfasilitasi masyarakat untuk belajar. Dari Yogyakarta, upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari usaha untuk mengembangkan sekaligus melestarikan kembali bahasa dan aksara Jawa.
"Bahasa Jawa ini kan lingkupnya nanti di Jawa Tengah, di Jawa Timur, dari Yogyakarta kita mencoba untuk mengembangkan dan melestarikan kembali," ucapnya.
Perencana Ahli Muda Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Andita Wahyu Wijayanti, mengatakan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa tidak semata-mata digelar sebagai ajang perlombaan. Kegiatan tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa, khususnya bahasa dan aksara Jawa.
Dia mengatakan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dalam keseharian terkadang belum cukup untuk menumbuhkan rasa cinta dan keinginan siswa untuk mempelajarinya lebih dalam. Oleh karena itu, pembelajaran dikemas dalam bentuk olimpiade agar lebih menarik sekaligus memotivasi siswa untuk belajar bahasa dan aksara Jawa.
"Kita kombinasikan dengan teknologi karena generasi muda saat ini kan tidak terlepas dari teknologi, tidak terlepas dari gadget," ujarnya.
Ketua MGMP Guru Bahasa Jawa, Sinar Indra Krisnawan, menyampaikan istilah olimpiade dipilih karena kegiatan tersebut menargetkan jumlah peserta yang banyak, bahkan diharapkan mencapai puluhan ribu peserta. Dari sisi materi, olimpiade ini juga memiliki kekhasan karena seluruh soal disajikan menggunakan aksara Jawa tanpa huruf Latin.
"Bahasanya ada yang bahasa ngoko yang keseharian soalnya, kemudian ada bahasa kramanya, ada juga yang berbahasa Indonesia tapi beraksara Jawa," tuturnya.
Andita menjelaskan materi Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa dibagi menjadi empat kategori. Pertama, berkaitan dengan unggah-ungguh atau tata krama dan subasita. Kedua, materi mengenai bahasa dan sastra Jawa.
"Ketiga tentang kearifan lokal DIY, misalnya sumbu filosofi, garis imajiner, gastronomi, kemudian kuliner, kemudian wisata budaya. Terus yang keempat itu tentang paramasastra."
Kreator Digital Aksara Jawa, Rony Agung Rahmanto, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam Olimpiade Aksara Jawa tidak semata-mata untuk berkompetisi. Para peserta juga menjadi bagian dari upaya melestarikan dan memperkenalkan aksara Jawa agar semakin dikenal luas hingga tingkat dunia.
"Kalian menjadi bagian dari perjuangan supaya aksara Jawa ini bisa diakui di tingkat dunia, dan nantinya kan lestari," ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
1

















































