Waspadai Morning Anxiety, Rasa Cemas Saat Bangun Pagi

7 hours ago 3

Waspadai Morning Anxiety, Rasa Cemas Saat Bangun Pagi

Ilustrasi kecemasan.magnific.com

Harianjogja.com, Jogja— Bangun tidur seharusnya membuat tubuh terasa lebih segar. Namun, sebagian orang justru mengawali hari dengan rasa cemas yang muncul tanpa sebab yang jelas. Kondisi yang dikenal sebagai morning anxiety ini membuat seseorang merasa gelisah bahkan sebelum beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktivitas.

Perasaan cemas pada pagi hari dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari kurang tidur, tekanan pekerjaan, jadwal yang padat, hingga kekhawatiran terhadap aktivitas yang akan dijalani sepanjang hari. Tidak sedikit orang yang mengalami kondisi ini tanpa menyadari bahwa kecemasan tersebut berkaitan dengan respons alami tubuh terhadap stres dan pola biologis masing-masing individu.

Mengutip The Washington Post, Profesor Madya Psikiatri di UCLA, Kate Wolitzky Taylor, menjelaskan bahwa morning anxiety bukan merupakan istilah medis maupun diagnosis klinis. Meski demikian, banyak pasien yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh atau Generalized Anxiety Disorder (GAD) mengaku kerap terbangun dengan perasaan cemas.

Menurutnya, kecemasan merupakan salah satu emosi manusia yang normal. Kecemasan menjadi persoalan ketika berlangsung terus-menerus, tidak sebanding dengan ancaman yang sebenarnya, serta mulai mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari.

"Rasanya seperti kabut emosi yang membingungkan dan tidak menyenangkan," ujar Kate Wolitzky Taylor.

Tekanan pekerjaan, banyaknya informasi yang diterima setiap hari, hingga tuntutan aktivitas dapat membuat sebagian orang merasakan kecemasan sejak pagi. Dalam beberapa kasus, rasa gelisah tersebut sudah muncul bahkan sebelum seseorang memulai rutinitasnya.

Kate Wolitzky Taylor menyebut sekitar 3% penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan kecemasan menyeluruh atau GAD. Kondisi ini ditandai dengan kekhawatiran yang sulit dikendalikan hampir setiap hari selama sedikitnya enam bulan dan disertai sedikitnya tiga gejala lain, seperti merasa akan terjadi sesuatu yang buruk, mudah lelah, mudah tersinggung, serta mengalami gangguan tidur.

Penderita GAD juga cenderung melebih-lebihkan kemungkinan terjadinya hal buruk yang dikenal sebagai catastrophizing atau berpikir katastrofik.

Meski demikian, mengalami morning anxiety dalam kurun waktu tertentu tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian apabila mulai menurunkan kualitas hidup, menghambat aktivitas sehari-hari, maupun berlangsung secara berkepanjangan sehingga memerlukan bantuan profesional.

Sementara itu, Profesor Psikologi dan Ilmu Otak di Washington University, Rebecca Cox, menjelaskan bahwa kecemasan tidak selalu muncul pada waktu yang sama. Sebagian orang mengalami puncak kecemasan pada pagi hari, sedangkan yang lain justru merasakannya pada sore atau malam hari.

Hal tersebut dipengaruhi oleh ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Berdasarkan penelitiannya, individu yang terbiasa bangun pagi atau morning person cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada pagi hari sebelum berangsur menurun seiring berjalannya waktu.

Sebaliknya, individu yang secara alami lebih nyaman tidur larut malam atau night owl lebih sering mengalami kecemasan pada malam hari.

Rebecca Cox menjelaskan bahwa perubahan tingkat kecemasan tersebut kerap dikaitkan dengan hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Secara alami, kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan terus menurun sepanjang hari.

Meski demikian, hubungan antara kortisol dan kecemasan tidak sesederhana yang diperkirakan. Literatur penelitian mengenai hubungan keduanya masih menunjukkan hasil yang beragam dan belum sepenuhnya konsisten.

"Beberapa studi menunjukkan respons kortisol yang tinggi saat bangun tidur berkaitan dengan kecemasan yang lebih tinggi saat itu juga. Namun, penelitian lain tidak menemukan hubungan tersebut," paparnya.

Profesor Psikologi Klinis di Teachers College Columbia University, Doug Mennin, juga menyampaikan bahwa orang yang mengalami kecemasan memang dapat memiliki respons kortisol yang lebih tinggi ketika bangun tidur.

Namun, menurutnya, kortisol bukan merupakan penyebab langsung munculnya morning anxiety. "Itu bukan hubungan sebab-akibat. Kortisol lebih merupakan indikator bahwa ada sesuatu dalam sistem tubuh yang tidak berjalan secara optimal," jelasnya.

Karena itu, apabila rasa cemas saat bangun tidur mulai terjadi secara berulang, berlangsung dalam jangka panjang, serta mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar mendapatkan penanganan yang tepat. Memahami pola kecemasan yang dialami menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental sekaligus kualitas hidup sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news