Warga berebut mendapatkan uba rampe Gunungan saat acara Grebek Syawal di halaman Masjid Gedhe, Jumat (20/3/2026).-Stefani Yulindriani - Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali mengeluarkan gunungan pada Jumat (20/3/2026). Tradisi Grebeg Syawal yang digelar Kraton menyedot antusiasme warga. Masyarakat dari berbagai wilayah tampak memadati lokasi untuk mendapatkan bagian dari gunungan yang diyakini membawa berkah.
Salah satu warga Kota Jogja, Rangga, mengaku tertarik mengikuti tradisi tersebut karena keunikan dan nilai budayanya yang masih dilestarikan hingga kini. “Seru dan menarik sekali, ini salah satu tradisi yang selalu dilestarikan oleh Kraton. Saya juga tertarik karena masyarakat masih dilibatkan untuk mendapatkan gunungan,” ujarnya saat ditemui di Masjid Gedhe Kauman pada Jumat (20/3/2026).
Menurut Rangga, meski saat ini pembagian gunungan dilakukan lebih tertib dibandingkan dulu yang identik dengan rebutan, keseruan tetap terasa. Dia juga mengaku baru pertama kali mengikuti Grebeg Syawal dan mendapatkan pengalaman berkesan. “Katanya ini berkah kalau kita dapat. Jadi seperti membawa berkah pulang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Partiyati, warga Gondokusuman, yang datang untuk “ngalap berkah” dari gunungan. Dia mengaku tidak selalu datang setiap tahun, tetapi tetap berusaha hadir jika memungkinkan. “Cuma ngalap berkah saja, dari Kraton [Jogja]. Insyaallah bisa membawa keberkahan,” katanya.
Sementara itu, Purwanti, warga Sewon, mengaku rutin mengikuti Grebeg Syawal sejak lama. Dia menilai sistem pembagian yang kini dilakukan membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan bagian gunungan. “Sekarang kan dibagi, jadi lebih enak. Kalau dulu rebutan, kasihan yang dari jauh,” ujarnya.
Purwanti juga mengungkapkan kepercayaan masyarakat terhadap gunungan yang diperoleh. Sebagian hasil gunungan biasanya dibawa pulang untuk dikonsumsi, sementara sebagian lainnya ditaruh di sawah dengan harapan hasil panen melimpah. “Kalau ditaruh di sawah, katanya bisa bikin panennya banyak,” katanya.
Warga lainnya, Salsabila, menyebut hasil gunungan biasanya disimpan atau dimanfaatkan sesuai kepercayaan masing-masing. “Kalau ditaruh di sawah biar tanahnya lebih subur,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

13 hours ago
6
















































