Turis Eropa Naik 50%, HPI Sleman Keluhkan Aturan dan Destinasi Tutup

3 hours ago 6

Turis Eropa Naik 50%, HPI Sleman Keluhkan Aturan dan Destinasi Tutup

Wisatawan mengunjungi kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan di Sleman, DIY. - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Harianjogja.com, SLEMAN—Lonjakan wisatawan Eropa membuat permintaan jasa pemandu wisata di Sleman meningkat hingga 50% pada periode high season Juni-Agustus 2026. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya diikuti kemudahan dalam penyusunan perjalanan karena sejumlah destinasi menerapkan aturan kunjungan hingga penutupan mendadak.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sleman, Muhamad Iqbal Yusron, mengatakan wisatawan asal Spanyol dan Prancis menjadi pasar Eropa yang banyak menggunakan jasa anggota HPI Sleman sepanjang 2026.

Pada periode Juni hingga Agustus, jumlah wisatawan yang menggunakan jasa pemandu HPI Sleman meningkat sekitar 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, lonjakan permintaan tersebut membuat HPI Sleman sempat kekurangan pemandu.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, HPI Sleman harus mendatangkan pemandu dari luar provinsi. Saat ini jumlah anggota HPI Sleman tercatat sebanyak 271 orang.

Cuaca Eropa Panas, Turis ke Indonesia Meningkat

Iqbal menduga cuaca panas ekstrem di Eropa turut mendorong meningkatnya minat perjalanan wisatawan Eropa ke Indonesia pada 2026.

Ia menyebut suhu di sejumlah wilayah Eropa mencapai sekitar 45 derajat Celsius. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi salah satu faktor yang diduga ikut mendorong wisatawan Eropa melakukan perjalanan ke Indonesia.

“Eropa panas bisa 45 derajat. Saya sempat cek juga penjualan AC di Eropa meningkat, bahkan mereka impor dari China yang sebelumnya tidak pernah ada impor,” kata Iqbal kepada Harianjogja.com, Rabu (16/9/2026).

Meski permintaan jasa pemandu meningkat, Iqbal menilai wisatawan dan pemandu masih menghadapi persoalan dalam menyusun itinerary karena adanya ketentuan kunjungan di sejumlah destinasi.

Booking Destinasi Jadi Kendala Pemandu

Iqbal mencontohkan kunjungan ke Candi Borobudur dan Istana Mangkunegaran yang mengharuskan wisatawan melakukan booking sehari sebelumnya.

Menurut dia, ketentuan tersebut menyulitkan pemandu karena rencana perjalanan wisatawan dapat berubah sewaktu-waktu. Tiket langsung di lokasi memang tersedia, tetapi wisatawan tidak memiliki kepastian untuk mendapatkannya.

“Booking harus sehari sebelumnya. Padahal kami tidak tahu mau ke sana atau tidak besok,” katanya.

Selain persoalan booking, akses wisatawan di Candi Borobudur juga menjadi perhatian. Saat ini, wisatawan disebut maksimal dapat melakukan kunjungan hingga lantai lima, sedangkan lantai enam sampai bagian atas candi tidak dapat diakses.

Padahal, wisatawan dari Belgia, Belanda, dan Prancis yang telah menempuh perjalanan penerbangan hingga 24 jam berharap dapat menikmati stupa hingga bagian atas Candi Borobudur.

“Ini menjadi nilai negatif. Mereka pasti saling berkabar antarwisatawan,” ucapnya.

Bromo dan Kawah Ijen Sempat Jadi Persoalan

Persoalan akses destinasi juga dirasakan dalam perjalanan wisatawan menuju Jawa Timur. Iqbal menyebut kawasan Bromo dan Kawah Ijen mengalami penutupan yang berdampak terhadap itinerary wisatawan.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi persoalan karena sebagian wisatawan telah merencanakan perjalanan sejak berbulan-bulan sebelumnya. Ketika destinasi ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan wisatawan dan pemandu.

Sopir hingga pelaku usaha cendera mata juga ikut terkena dampak karena perubahan rencana perjalanan wisatawan.

“Efeknya karambol. Kekecewaan mereka berimbas ke pemandu, sopir, art shop,” ujarnya.

Akhir Tahun Diprediksi Landai

Sementara itu, Iqbal memperkirakan kunjungan wisatawan pada akhir tahun akan cenderung landai. Prediksi tersebut didasarkan pada data milik sejumlah travel agent.

Ketua Sleman Travel Agent Forum (STAF), Jajang Sukendar, membenarkan bahwa situasi kepariwisataan pada akhir tahun diperkirakan cenderung landai.

Ia juga mengatakan peningkatan kunjungan wisatawan Eropa belum terlihat pada pertengahan tahun. Menurut Jajang, wisatawan Eropa biasanya datang ke Indonesia pada periode Mei hingga Agustus.

“Pertengahan tahun saja juga tidak begitu ada kenaikan. Wisatawan dari Eropa biasanya di bulan Mei sampai Agustus,” kata Jajang.

Jajang menjelaskan travel agent di Sleman memperoleh klien dari agen perjalanan di Eropa. Namun, sebagian agen juga mendapatkan klien melalui agen perjalanan lain, termasuk dari Bali dan Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news