Cara Mudah Bedakan Beras Fortifikasi Asli atau Oplosan

5 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA— Konsumen perlu lebih cermat saat membeli beras yang mencantumkan klaim fortifikasi pada kemasan. Pemerintah menemukan dugaan ketidaksesuaian kadar zat gizi pada sebagian produk beras fortifikasi yang beredar di pasaran.

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah memeriksa 27 merek beras fortifikasi melalui empat laboratorium.

Dari pemeriksaan tersebut, sebanyak 25 merek diduga tidak memenuhi kadar fortifikasi sebagaimana klaim yang tercantum pada label produk.

"Katanya fortifikasi. Setelah kita cek di lab, ada empat lab kredibel. Kita cek ternyata tidak sesuai dengan levelnya," ujar Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026).

Temuan tersebut menjadi perhatian bagi konsumen karena produk yang mengklaim telah diperkaya vitamin dan mineral seharusnya memiliki kandungan sesuai dengan informasi yang dicantumkan pada kemasan.

Harga Beras Fortifikasi Jadi Sorotan

Selain kandungan gizi, pemerintah juga menyoroti harga sejumlah beras fortifikasi yang dinilai tidak wajar.

Amran menyebut harga produk beras fortifikasi di pasaran berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp57.000 per kilogram. Padahal, pemerintah memperkirakan harga yang seharusnya berada di sekitar Rp13.500 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut dinilai dapat menjadi persoalan bagi konsumen apabila produk yang dibeli dengan harga lebih mahal ternyata tidak memiliki kandungan fortifikasi sesuai klaim.

Pemerintah menyatakan akan mengambil tindakan terhadap produk yang terbukti tidak memenuhi ketentuan.

"Pertama kami sudah perintahkan tarik, yang kedua cabut izinnya, yang ketiga diproses," kata Amran.

Apa Sebenarnya Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras yang ditambahkan zat gizi mikro melalui proses teknologi pangan setelah padi digiling.

Fortifikasi dilakukan untuk meningkatkan kandungan vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh. Zat gizi yang dapat ditambahkan antara lain zat besi, asam folat, zinc, vitamin A, serta sejumlah vitamin B.

Dalam proses pembuatannya, vitamin dan mineral dicampurkan ke dalam bahan beras. Bahan tersebut kemudian dicetak kembali hingga menyerupai butiran beras.

Butiran yang telah mengandung zat gizi itu disebut kernel fortifikan. Kernel tersebut selanjutnya dicampurkan dengan beras biasa menggunakan rasio tertentu sebelum menjadi produk beras fortifikasi.

Karena bentuknya dibuat menyerupai beras, produk fortifikasi tidak selalu mudah dibedakan dari beras putih biasa hanya dengan melihatnya.

Pada sejumlah produk, butiran kernel fortifikan dapat terlihat sedikit lebih putih, opak, atau agak kekuningan dibandingkan butiran beras lainnya. Namun, perbedaan visual tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan kandungan gizinya.

Bisakah Beras Fortifikasi Dikenali dengan Mata?

Pertanyaan ini penting bagi konsumen. Sebab, melihat bentuk atau warna butiran saja tidak cukup untuk memastikan apakah beras benar-benar memenuhi kadar fortifikasi yang tercantum pada label.

Untuk mengetahui kadar vitamin dan mineral dalam beras fortifikasi, pengujian laboratorium tetap menjadi metode yang paling dapat diandalkan.

Konsumen juga perlu membedakan persoalan kadar fortifikasi dengan dugaan beras oplosan atau beras yang mengandung bahan non-beras.

Jika menemukan produk yang mencurigakan, beberapa hal dapat diperhatikan, mulai dari bentuk hingga permukaan butiran. Beras umumnya memiliki bentuk dan guratan alami, meskipun karakteristik tersebut bisa berbeda bergantung pada varietasnya.

Aroma dan tekstur nasi setelah dimasak juga dapat menjadi perhatian. Bau kimia yang menyengat atau tekstur yang sangat tidak lazim dapat menjadi alasan bagi konsumen untuk tidak mengonsumsinya dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Jangan Percaya Uji Beras Mengambang atau Dibakar

Di tengah masyarakat beredar sejumlah cara sederhana untuk mengetahui apakah beras asli atau palsu, misalnya dengan merendam beras dalam air atau memanaskannya.

Namun, hasil pengujian rumahan seperti beras mengambang, tenggelam, berubah bentuk, atau mengeluarkan aroma tertentu tidak dapat dijadikan bukti tunggal bahwa suatu beras palsu atau mengandung plastik.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan eksperimen sederhana tersebut.

Langkah yang lebih aman adalah memeriksa informasi pada kemasan, termasuk klaim fortifikasi, informasi nilai gizi, serta izin atau keterangan resmi produk.

Sementara itu, untuk memastikan apakah kandungan vitamin dan mineral benar-benar sesuai dengan klaim pada label, diperlukan pengujian laboratorium.

Ada Standar untuk Beras Fortifikasi

Beras fortifikasi bukan produk yang bebas dari ketentuan mutu. Produk tersebut memiliki standar yang mengatur karakteristik dan persyaratannya.

Untuk kernel beras fortifikan, standar yang berlaku adalah SNI 9314:2024. Sementara itu, beras fortifikasi diatur melalui SNI 9372:2025.

Dengan adanya temuan pemerintah terhadap puluhan merek, konsumen perlu lebih memperhatikan informasi produk sebelum membeli, terutama ketika sebuah beras mencantumkan klaim fortifikasi dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan beras biasa.

Yang perlu diingat, kandungan fortifikasi tidak dapat dipastikan hanya dengan melihat warna, bentuk, atau melakukan uji sederhana di rumah. Untuk memastikan kesesuaian kadar vitamin dan mineral, pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news