Kapal tanker melintas di selat Hormuz. ANTARA/Anadolu - aa.
Harianjogja.com, ISTANBUL—Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperkenalkan mekanisme baru pengaturan transit kapal di Selat Hormuz. Kebijakan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait jalur pelayaran strategis tersebut.
Mengutip laporan Press TV pada Selasa (5/5/2026), sistem baru ini mengharuskan kapal yang melintasi Selat Hormuz menerima pemberitahuan resmi melalui email dari otoritas yang disebut sebagai Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA). Dalam pemberitahuan tersebut, kapal wajib mengikuti aturan transit tertentu sebelum mendapatkan izin melintas.
Langkah ini menandai semakin ketatnya kontrol Teheran terhadap lalu lintas maritim di jalur vital distribusi energi global, terutama minyak dan gas alam cair (LNG). Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu chokepoint terpenting dalam perdagangan energi dunia.
Kebijakan tersebut juga tidak lepas dari meningkatnya eskalasi militer antara Iran dan AS. Teheran memperketat pengawasan sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu yang menargetkan sejumlah wilayah di Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, pejabat Iran menegaskan bahwa setiap kapal harus mengikuti rute yang telah ditentukan dan memperoleh izin resmi sebelum melintas. Di sisi lain, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan guna menjamin keamanan pelayaran komersial.
Laporan media AS CBS News menyebutkan bahwa dua kapal perusak, USS Truxtun dan USS Mason, berhasil melewati Selat Hormuz dan memasuki Teluk meski menghadapi ancaman dari Iran. Kedua kapal tersebut didukung helikopter Apache dan pesawat tempur lainnya.
Pejabat Pentagon yang dikutip secara anonim mengungkapkan bahwa kapal-kapal itu menghadapi serangan berupa perahu cepat, rudal, dan drone. Namun, tidak ada satu pun serangan yang mengenai target. Sistem pertahanan AS disebut berhasil mencegat seluruh ancaman yang datang.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menyatakan bahwa pasukan Iran meluncurkan “beberapa rudal jelajah, drone, dan perahu kecil ke arah kapal-kapal yang kami lindungi.” Ia juga mengklaim pasukan AS telah menenggelamkan enam perahu kecil Iran serta mencegat sejumlah rudal dan drone.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh Iran. Kantor berita Tasnim menyebut tidak ada kapal komersial atau tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz dalam periode tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan keras terkait situasi ini. Dalam wawancara dengan Fox News, ia memperingatkan bahwa Iran akan “dihancurkan hingga lenyap dari muka Bumi” jika menyerang kapal AS. Meski demikian, dalam wawancara terpisah dengan ABC News, Trump cenderung meremehkan insiden tersebut.
"[Serangan itu] bukan tembakan yang besar," kata Trump.
Ketegangan ini merupakan buntut dari serangan besar pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer ke Teheran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke Israel serta target AS di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga melarang kapal yang terkait dengan AS dan Israel melintasi Selat Hormuz.
Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April dan dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad, Pakistan. Namun, negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan, sehingga ketegangan di kawasan kembali meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

1 day ago
4

















































