Dekranasda DIY Perkuat Pembinaan Perajin Lokal Menuju Pasar Global

2 hours ago 2

Dekranasda DIY Perkuat Pembinaan Perajin Lokal Menuju Pasar Global GKBRAA Paku Alam saat memimpin rapat kerja daerah (Rakerda) Dekranasda DIY 2026 di Dinas Koperasi dan UKM DIY, Rabu (15/4/2026). - Ist

JOGJA-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY terus berupaya memperkuat perannya dalam membina perajin lokal agar mampu berkembang mengikuti tuntutan zaman. Upaya tersebut dilakukan melalui program berjenjang dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota dengan fokus pada inovasi, pemasaran, pelestarian budaya, serta advokasi bagi para perajin.

Ketua Harian Dekranasda DIY, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam atau Gusti Putri, mengatakan para perajin terus dibina untuk mengembangkan produk-produk lokal berkualitas agar tidak hanya diterima di pasar lokal dan nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.

“Tidak hanya wawasan untuk DIY, tetapi harus memiliki wawasan yang lebih luas, inovasi, dan kreativitas yang bisa mendunia melalui edukasi,” ujar Gusti Putri saat ditemui di Pura Pakualaman, Selasa (5/5/2026).

Gusti Putri juga menegaskan komitmennya untuk memastikan Griya Batik Jogja tidak hanya menjadi monumen fisik, melainkan pusat ekosistem batik yang aktif dan produktif.
Menurutnya, pada 2026 Dekranasda DIY akan memastikan keberlanjutan program melalui tiga fungsi utama, yaitu edukasi, inkubasi, dan transaksi. Melalui edukasi, para perajin diberikan pembelajaran dan motivasi untuk terus berkarya. Dalam tahap inkubasi, perajin mendapatkan pembinaan dan pendampingan agar dapat fokus mengembangkan keahlian tertentu sehingga mampu naik kelas. Sementara itu, transaksi menjadi aspek penting untuk mendukung keberlangsungan usaha para perajin.

“Griya Batik tidak hanya menjadi monumen saja, tetapi harus banyak kegiatan di dalamnya,” katanya.

Dari sisi bisnis, Dekranasda DIY akan mengembangkan skema konsinyasi sehat, kelas berbayar, kolaborasi dengan berbagai brand, serta penyelenggaraan event. Targetnya adalah tercapainya kemandirian operasional secara bertahap sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Gusti Putri mengakui dukungan APBD terhadap Dekranasda DIY masih diperlukan, khususnya untuk biaya operasional dan kegiatan seperti Pameran HUT Dekranas, Pameran Kriya Nusa, dan Jogja International Batik Biennale (JIBB).

“Dalam pembinaan kami juga menjalin kerja sama dengan BUMN, swasta, serta optimalisasi program berbasis revenue,” ujarnya.

Menyongsong JIBB 2027, Dekranasda DIY telah menyiapkan pendekatan yang lebih progresif dan global, seperti seminar batik internasional, penguatan edukasi melalui program Goes to School dan Goes to Campus, serta kerja sama dengan provinsi lain dalam bentuk literasi batik menuju pasar global.

Selain itu, untuk menumbuhkan pemahaman tentang batik sejak usia dini, Dekranasda DIY juga menyelenggarakan lomba mewarnai dan menggambar motif batik bagi siswa tingkat TK dan SD.
Terkait predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia, Gusti Putri mengatakan relevansi predikat tersebut diukur melalui dampak nyata, seperti peningkatan omzet perajin, bertambahnya pelaku usaha yang mampu menembus pasar ekspor, serta keberhasilan regenerasi pembatik.

“Partisipasi aktif dalam forum dan pameran internasional juga menjadi indikator penting untuk menjaga pengakuan global tersebut,” jelasnya.

Evaluasi dan pembenahan Bale Mangu Craft Gallery juga menjadi perhatian Dekranasda DIY. Menurut Gusti Putri, aspek manajemen, kurasi produk, serta strategi pemasaran masih perlu diperbaiki.
Ke depan, Bale Mangu Craft Gallery akan dikembangkan menjadi ruang yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman agar mampu menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan transaksi.
Untuk menghindari tumpang tindih program antara tingkat provinsi dan kabupaten/kota, Dekranasda DIY rutin melakukan koordinasi dan pembagian peran secara jelas.

“Dengan koordinasi ini, program dapat berjalan saling melengkapi, bukan tumpang tindih,” lanjutnya.
Perluas Edukasi Batik

Sekretaris I Dekranasda DIY, Zainal Arifin, mengatakan meski masih didukung dana APBD untuk operasional, Dekranasda DIY terus mendorong kemandirian perajin dengan mencari alternatif pembiayaan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dekranasda DIY juga mendorong inisiatif para perajin melalui penyelenggaraan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa yang telah delapan kali digelar dan direncanakan kembali hadir tahun ini. Dalam kegiatan tersebut, Dekranasda berperan sebagai pembina dan fasilitator.

“Arahan Gusti Putri, kita bisa bekerja sama dengan Bank Indonesia dan berbagai pihak lainnya,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Bidang SDM dan Vokasi Dekranasda DIY, Lia Mustafa, menyampaikan pihaknya terus memperluas edukasi batik ke sekolah dan kampus agar masyarakat memahami batik secara lebih utuh.

Ke depan, lebih banyak sekolah dan perguruan tinggi akan diajak bekerja sama, termasuk melalui Dinas Pendidikan.
“Dari pengalaman sebelumnya, masih ada beberapa sekolah yang peserta didiknya belum memahami batik secara menyeluruh,” ujarnya.

Lia mengatakan program edukasi tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian JIBB 2027 melalui agenda Goes to School dan Goes to Campus. Dekranasda DIY akan menekankan pengenalan batik tradisional beserta nilai filosofinya.

“Sebenarnya bukan hanya peserta didik, tetapi masyarakat umum juga masih banyak yang belum memahami batik secara mendalam. Karena itu, edukasi akan terus kami tingkatkan, termasuk melalui media sosial,” tandasnya. (ADV)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news