Jumali Rabu, 22 Juli 2026 17:37 WIB

Ilustrasi rupiah. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada perdagangan pasar spot, Rabu (22/7/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.917 per dolar Amerika Serikat (AS), turun dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.888 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan hingga akhir sesi, rupiah melemah sekitar 0,16 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Tekanan tersebut muncul di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi serta perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pergerakan rupiah sejalan dengan tren yang juga dialami sejumlah mata uang Asia lainnya. Namun, tekanan yang terjadi di kawasan tidak berlangsung merata karena beberapa mata uang justru berhasil menguat terhadap dolar AS.
Di antara mata uang Asia, rupee India tercatat mengalami pelemahan paling dalam dengan penurunan sekitar 0,3 persen. Posisi berikutnya ditempati baht Thailand yang terkoreksi 0,25 persen.
Yuan China juga berada di zona negatif setelah melemah sekitar 0,13 persen. Sementara itu, dolar Taiwan turun 0,1 persen terhadap dolar AS.
Tekanan yang lebih terbatas dialami peso Filipina yang ditutup melemah tipis sekitar 0,02 persen pada perdagangan hari ini.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia mampu mencatatkan penguatan. Yen Jepang menjadi mata uang dengan performa terbaik setelah naik sekitar 0,15 persen terhadap dolar AS.
Penguatan yen dinilai mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian pasar global. Mata uang Jepang tersebut selama ini kerap menjadi salah satu instrumen safe haven ketika sentimen risiko meningkat.
Selain yen, won Korea Selatan juga berhasil menguat sekitar 0,1 persen. Ringgit Malaysia turut mencatat kenaikan sebesar 0,04 persen, sedangkan dolar Singapura dan dolar Hong Kong sama-sama menguat tipis sekitar 0,02 persen.
Pergerakan yang beragam di kawasan Asia menunjukkan bahwa pelaku pasar masih melakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor eksternal yang memengaruhi arus modal global.
Tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kali ini tidak terlepas dari sentimen global yang masih fluktuatif. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sikap investor dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.
Selain itu, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Sikap The Fed yang dinilai tetap hawkish membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sehingga mendukung penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia.
Dalam kondisi seperti ini, aset berdenominasi dolar AS cenderung lebih menarik bagi investor global. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan akibat perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Meski demikian, stabilitas rupiah masih berpotensi ditopang oleh langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia. Intervensi di pasar valuta asing serta berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar selama ini menjadi salah satu faktor yang membantu meredam volatilitas pergerakan rupiah.
Dengan posisi penutupan di level Rp17.917 per dolar AS, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan The Fed, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Faktor-faktor tersebut diperkirakan masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

9 hours ago
6

















































