
Lokasi groundsill Srandakan yang dikebut selesai sebelum musim hujan. Dok Pemkab Bantul
Harianjogja.com, BANTUL— Pembangunan Groundsill Srandakan di Sungai Progo yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo terus mengalami kemajuan. Hingga awal Juli 2026, progres fisik proyek pengendali sungai tersebut telah mencapai 79,055 persen, sementara Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) mempercepat penyelesaian pekerjaan utama sebelum musim hujan datang.
BBWSO memanfaatkan kondisi cuaca yang masih mendukung untuk menggenjot pekerjaan konstruksi di area sungai. Langkah ini dilakukan agar seluruh struktur utama dapat diselesaikan saat debit Sungai Progo masih berada pada kondisi normal sehingga tidak menghambat proses pembangunan.
Penata Teknik PPK Sungai Pantai II BBWSO, Djohar Ismail, mengatakan progres fisik pembangunan Groundsill Srandakan saat ini telah mencapai 79,055 persen. Dengan demikian, pekerjaan yang masih harus diselesaikan tinggal sekitar 20,945 persen.
"Untuk saat ini progres fisik sudah mencapai 79,055 persen. Sisanya tinggal sekitar 20,945 persen," kata Djohar, Jumat (3/7/2026).
Menurut Djohar, sejumlah pekerjaan konstruksi yang masih berlangsung meliputi pembangunan subdam di sisi kiri sungai sepanjang sekitar 100 meter, penyelesaian ensil sepanjang kurang lebih 100 meter, serta pembangunan dinding penahan tanah (DPT) yang masih tersisa sekitar 40 meter.
Seluruh pekerjaan tersebut menjadi prioritas dalam beberapa bulan ke depan agar penyelesaian proyek Groundsill Srandakan tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
"Yang masih dikerjakan saat ini antara lain subdam sisi kiri sekitar 100 meter lagi, ensil sekitar 100 meter, kemudian DPT yang masih kurang kurang lebih 40 meter," ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan proyek sepanjang pertengahan tahun ini berlangsung relatif lancar karena didukung kondisi cuaca yang lebih bersahabat dibandingkan musim penghujan. Situasi tersebut dimanfaatkan kontraktor untuk mempercepat pekerjaan, terutama pada bagian konstruksi yang berada di badan sungai maupun di sekitar aliran air.
"Untuk kendala beberapa bulan ini tidak begitu berat. Cuaca sangat mendukung sehingga pekerjaan bisa berjalan maksimal," katanya.
BBWSO menargetkan percepatan pembangunan Groundsill Srandakan terus dilakukan hingga Agustus 2026. Target tersebut dinilai penting agar seluruh struktur utama sudah berada di atas elevasi muka air normal sebelum intensitas hujan kembali meningkat.
Menurut Djohar, penyelesaian pekerjaan sebelum musim penghujan menjadi salah satu faktor penting untuk menghindari gangguan akibat kenaikan debit Sungai Progo yang dapat memperlambat proses konstruksi.
"Sampai Agustus pekerjaan akan dimaksimalkan. Harapannya sebelum memasuki musim hujan seluruh pekerjaan utama sudah berada di atas muka air normal," ucapnya.
Groundsill Srandakan dibangun sebagai infrastruktur pengendali Sungai Progo yang berfungsi menjaga stabilitas dasar sungai, mengurangi potensi gerusan, serta melindungi bangunan maupun kawasan di sekitarnya dari ancaman erosi. Selain itu, keberadaan proyek Groundsill Srandakan diharapkan mampu memperkuat pengelolaan sumber daya air di wilayah perbatasan Bantul dan Kulon Progo sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di kedua kabupaten dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
5

















































