Alyakha Kolektif Angkat Ancaman Deforestasi Papuadi ARTJOG 2026

3 hours ago 4

Alyakha Kolektif Angkat Ancaman Deforestasi Papuadi ARTJOG 2026

Pengunjung ARTJOG 2026 mendengarkan paparan Markus Rumbino tentang karya Alyakha Kolektif pada Kamis (2/7/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

JOGJA—Isu kerusakan hutan adat dan ancaman terhadap kehidupan masyarakat Sentani, Papua, diangkat Alyakha Kolektif melalui instalasi audiovisual bertajuk Kiney Waloboney dalam ARTJOG 2026. Karya tersebut menjadi ruang refleksi mengenai hubungan yang tak terpisahkan antara manusia, budaya, dan alam di Papua.

Alyakha Kolektif merupakan ruang kolaborasi seniman lintas generasi yang berbasis di Kampung Yokiwa, Danau Sentani, Jayapura. Kolektif yang didirikan pada 2019 oleh Markus Rumbino dan Irma Dise Awoitauw itu mengembangkan praktik artistik yang berakar pada pengalaman hidup, pengetahuan lokal, dan identitas budaya masyarakat Sentani.

Dalam ARTJOG 2026, mereka mengusung Kiney Waloboney, salah satu nama Dewa Matahari yang dipercaya membawa kesejahteraan dan keseimbangan kehidupan. Instalasi audiovisual tersebut menghadirkan berbagai unsur budaya masyarakat adat Sentani, seperti sempe, hulkulu, ukiran tradisional, hingga jaring ikan.

Di pusat instalasi terdapat karya Wail No atau "Napas Kehidupan", berupa replika ekskavator yang mengeluarkan suara burung cenderawasih. Burung tersebut dipilih sebagai simbol kebesaran Ondoafi atau kepala suku, sekaligus penanda rapuhnya ekosistem hutan Papua yang menjadi habitat satwa endemik tersebut.

Di sekeliling instalasi dibangun jalur tanah liat yang meninggalkan jejak kaki dan tangan manusia pada lantai serta dinding. Jejak tersebut menjadi simbol perjalanan generasi baru Papua yang meneruskan warisan leluhur menuju masa depan.

Pendiri Alyakha Kolektif, Markus Rumbino, mengatakan ekskavator dipilih sebagai simbol ancaman terhadap "napas kehidupan" masyarakat Sentani.

"Kampung kami adalah napas air, dari danau menuju laut. Napas kehidupan itu sekarang sedang terancam dan kami simbolkan melalui ekskavator," ujarnya di Gedung JNM, Kamis (2/7/2026).

Menurut Markus, masyarakat Sentani memiliki filosofi bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui kebersamaan. Filosofi tersebut diwujudkan melalui sempe, wadah makan tradisional yang digunakan bersama-sama tanpa sekat.

"Mereka makan bersama menggunakan sempe. Tidak ada piring masing-masing. Filosofinya, semua persoalan bisa diselesaikan dengan makan bersama," katanya.

Namun, ia menilai keseimbangan kehidupan tersebut kini terusik akibat masifnya eksploitasi hutan adat.

"Napas kehidupan kami sedang terancam. Orang-orang yang masuk ke wilayah kami tidak tahu siapa, tetapi aktivitasnya sangat masif," ungkapnya.

Menurut Markus, suara burung cenderawasih dalam instalasi bukan sekadar unsur artistik, melainkan pesan ekologis. Burung cenderawasih hanya dapat hidup di hutan yang masih utuh dengan pepohonan berukuran besar.

"Kalau hutannya rusak, cenderawasih tidak bisa hidup di sana. Bunyi itu sedang mengomunikasikan sesuatu kepada kita," katanya.

Markus menjelaskan seluruh karya Alyakha Kolektif lahir dari proses riset langsung bersama masyarakat adat, bukan dari referensi internet ataupun media sosial. Para seniman muda didorong melakukan observasi lapangan dan belajar langsung kepada tetua adat, kepala suku, hingga pelaku seni tradisi.

"Mereka belajar langsung dari kepala suku, pelukis tradisi, dan para tetua yang datang bercerita. Jadi karya ini lahir dari cerita masyarakat sendiri, bukan dari buku atau media sosial dari luar Papua," ujarnya.

Ia menegaskan setiap karya yang dihasilkan selalu berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat Papua, bukan untuk menghadirkan citra eksotis semata.

"Kami tidak sedang membuat karya untuk eksotisme Papua. Kami juga tidak membuat karya hanya supaya terlihat indah. Hari ini Papua membutuhkan ruang agar situasi riil yang terjadi bisa diketahui banyak orang," katanya.

Menurut Markus, karya yang lahir dari pengalaman masyarakat akan selalu memiliki nilai keotentikan.

"Kalau berangkat dari dalam diri sendiri akan selalu otentik. Silakan menerjemahkan Papua dari apa yang benar-benar terjadi di sana," ujarnya.

Selain mengkritisi kerusakan lingkungan, Markus juga menyoroti berbagai festival kebudayaan yang dinilainya belum sepenuhnya memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat adat.

"Sering kali proyek pemerintah melalui festival belum menjadi ruang belajar yang baik bagi pemilik budayanya. Dananya besar, tetapi setelah festival selesai masyarakat tetap bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup atau membiayai sekolah anak-anaknya," katanya.

Melalui Kiney Waloboney, Alyakha Kolektif ingin membuka ruang dialog mengenai keberlanjutan budaya, pelestarian pengetahuan lokal, serta ancaman terhadap hutan adat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Sentani di tengah perubahan yang terus berlangsung.

. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news