Produksi Emas Indonesia Tembus 104,2 Ton, Masuk 10 Besar Dunia

1 hour ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesia menunjukkan posisi penting dalam industri emas dunia. Negara ini menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk 10 besar produsen emas tambang global pada 2025.

Berdasarkan data World Gold Council (WGC), produksi emas tambang Indonesia mencapai 104,2 ton sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia.

Posisi tersebut membuat Indonesia berada di atas negara-negara Asia Tenggara lain yang juga dikenal memiliki aktivitas pertambangan emas.

Filipina, misalnya, menghasilkan 39,9 ton emas pada 2025. Sementara itu, produksi Laos tercatat 11,8 ton.

Keduanya masih berada cukup jauh dari posisi Indonesia dalam daftar produsen emas terbesar dunia.

Data WGC menunjukkan China menjadi negara dengan produksi emas tambang terbesar pada 2025. Produksinya mencapai 384,4 ton atau sekitar 10% dari total produksi emas tambang dunia.

Rusia berada di posisi berikutnya dengan produksi 345 ton. Australia menyusul dengan 293,2 ton, kemudian Kanada 213,3 ton dan Peru 208,9 ton.

Indonesia bukan hanya kuat dari sisi produksi

Menariknya, posisi Indonesia dalam industri emas tidak hanya terlihat dari aktivitas pertambangan.

Indonesia juga mencatat permintaan emas yang besar di kawasan Asia Tenggara. Data WGC hingga semester I 2026 menunjukkan permintaan emas Indonesia mencapai 44,4 ton.

Dari jumlah tersebut, sekitar 38,1 ton berasal dari emas batangan dan koin. Sementara permintaan untuk perhiasan mencapai 6,3 ton.

Besarnya permintaan tersebut membuat pasar emas Indonesia menjadi salah satu yang paling menonjol di kawasan ASEAN.

Sebagai pembanding, Thailand mencatat permintaan 24,2 ton pada periode yang sama. Vietnam berada di angka 20,4 ton.

Data WGC terbaru memang menunjukkan kuatnya aktivitas investasi emas di Indonesia. Pada kuartal II 2026 saja, permintaan emas batangan dan koin Indonesia mencapai 14,5 ton, setelah pada kuartal pertama mencapai 23,6 ton.

Artinya, minat masyarakat dan investor terhadap emas tetap menjadi salah satu faktor penting yang menopang pasar domestik.

Kondisi tersebut juga berlangsung ketika harga emas berada pada level tinggi. WGC mencatat permintaan emas global pada semester pertama 2026 mencapai 2.522 ton, naik 2% secara tahunan, dengan nilai mencapai rekor US$380 miliar.

China memimpin produksi emas dunia

Di tingkat global, China masih menjadi pusat produksi emas tambang terbesar.

Produksi 384,4 ton pada 2025 menempatkan China jauh di atas negara-negara produsen utama lainnya. Rusia berada di posisi kedua, disusul Australia.

Kanada dan Peru melengkapi jajaran lima besar produsen emas dunia.

World Gold Council mencatat produksi tambang emas global pada 2025 mencapai rekor baru berdasarkan estimasi yang tersedia. Data tersebut masih dapat mengalami revisi seiring masuknya informasi produksi yang lebih lengkap.

Indonesia sendiri justru mengalami penurunan produksi pada 2025. WGC menyebut produksi Indonesia turun akibat penurunan output Grasberg setelah insiden mud rush pada 2025, ditambah penurunan produksi di Batu Hijau.

Meski demikian, volume produksi Indonesia tetap cukup besar untuk mempertahankan posisi di jajaran 10 besar dunia.

Cadangan emas Indonesia juga besar

Selain produksi, potensi suatu negara dalam industri emas juga dapat dilihat dari cadangan yang masih tersedia untuk ditambang.

Dalam Mineral Commodity Summaries 2025, U.S. Geological Survey (USGS) mencatat Rusia memiliki cadangan emas sekitar 12.000 ton. Australia juga berada di angka yang sama.

Publikasi USGS tersebut merupakan salah satu rujukan resmi untuk statistik mineral dunia dan memuat data produksi, cadangan serta sumber daya berbagai komoditas mineral.

Namun, angka cadangan tidak sama dengan jumlah emas yang secara pasti akan ditambang. Cadangan merupakan bagian dari sumber daya yang berdasarkan kondisi tertentu dinilai dapat diekstraksi secara ekonomis.

Karena itu, besarnya cadangan tidak otomatis membuat suatu negara menjadi produsen terbesar.

Hal tersebut terlihat dari China. Negara tersebut merupakan produsen emas tambang terbesar dunia pada 2025, tetapi bukan negara dengan cadangan emas terbesar menurut data USGS.

Bagi Indonesia, kombinasi antara produksi tambang yang masuk jajaran 10 besar dunia dan tingginya permintaan domestik menunjukkan bahwa emas memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.

Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya tambang yang menopang pasokan emas. Di sisi lain, pasar domestik menunjukkan minat yang kuat terhadap emas sebagai instrumen investasi maupun perhiasan.

Perkembangan tersebut membuat posisi Indonesia dalam industri emas tidak hanya menarik dari sisi jumlah produksi, tetapi juga dari besarnya pasar konsumsi di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news