Harianjogja.com, JOGJA— Piala Dunia 2026 menghadirkan wajah baru sepak bola internasional. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen, hampir seperempat pemain yang tampil membela negara yang bukan tempat kelahirannya. Fenomena ini menjadi bukti bahwa migrasi global kini semakin memengaruhi identitas tim nasional di panggung sepak bola dunia.
Dari total 1.248 pemain yang berlaga di Piala Dunia 2026, sebanyak 289 pemain atau lebih dari 23% tercatat lahir di negara berbeda dari tim yang mereka wakili. BBC melaporkan, angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia dan mencerminkan perubahan besar dalam komposisi skuad nasional berbagai negara.
Fenomena pemain diaspora tidak sekadar menghadirkan statistik menarik. Di balik angka tersebut terdapat kisah-kisah emosional, keputusan sulit, hingga perdebatan mengenai identitas dan nasionalisme dalam olahraga modern.
Salah satu momen paling bersejarah terjadi saat Maroko menahan imbang Brasil 1-1 pada 13 Juni 2026. Dalam pertandingan tersebut, selama sekitar 25 menit tidak ada satu pun pemain Maroko yang berada di lapangan lahir di negara Afrika Utara itu.
Maroko bahkan menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang menurunkan 11 pemain inti tanpa satu pun yang lahir di negaranya sendiri. Dari 26 pemain yang masuk skuad, sebanyak 19 pemain lahir di luar negeri, terutama di Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, dan Kanada.
Fenomena serupa terlihat pada kisah penyerang muda Senegal, Ibrahim Mbaye. Pemain kelahiran Prancis itu mencuri perhatian ketika mencetak gol ke gawang negaranya sendiri saat Senegal menghadapi Prancis pada 16 Juni lalu.
Mbaye sebelumnya pernah membela tim nasional Prancis di berbagai kelompok usia sebelum akhirnya memilih Senegal, negara asal ibunya.
"Saya tidak akan pernah menyesali pilihan bermain untuk Senegal karena itu adalah keputusan dari hati," ujar Mbaye kepada televisi nasional Senegal, RTS.
Kisah tersebut mengingatkan publik pada momen ikonik di Piala Dunia 2022 ketika penyerang Swiss, Breel Embolo, mencetak gol ke gawang Kamerun, negara tempat ia dilahirkan. Saat itu Embolo memilih tidak merayakan gol sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah kelahirannya.
"Saya tahu apabila mencetak gol, saya tidak akan merayakannya sebagai bentuk penghormatan. Namun, itu bukan berarti saya tidak bahagia," kata Embolo.
Data Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa hanya delapan dari 48 peserta yang seluruh pemainnya lahir di negara yang mereka bela. Sebanyak 40 negara lainnya memiliki setidaknya satu pemain kelahiran luar negeri dalam skuad mereka.
Pendatang baru Curacao menjadi contoh paling ekstrem. Dari total 26 pemain yang dibawa ke turnamen, hanya satu pemain yang lahir di wilayah Karibia tersebut. Mayoritas pemain Curacao lahir di Belanda, sejalan dengan hubungan historis wilayah itu sebagai bagian dari Kerajaan Belanda.
Sementara itu, Qatar menjadi salah satu tim dengan latar belakang pemain paling beragam. Negara Teluk tersebut membawa pemain yang berasal dari 10 latar belakang kewarganegaraan berbeda yang tersebar dari Afrika, Eropa hingga Amerika Selatan.
Pakar migrasi dari Erasmus University Belanda, Profesor Gijsbert Oonk, menilai tren tersebut merupakan refleksi langsung dari perubahan demografi dunia.
"Hampir 4% populasi dunia tinggal di negara di mana mereka tidak dilahirkan. Ini bahkan lebih tinggi untuk pekerja terampil dan atlet elit. Ini adalah cerminan dari pola migrasi," ujarnya.
Maroko menjadi salah satu negara yang paling sukses memanfaatkan potensi diaspora. Sejak dekade 2010-an, federasi sepak bola negara tersebut aktif menempatkan pencari bakat di negara-negara Eropa yang memiliki komunitas diaspora Maroko besar seperti Prancis, Belanda, dan Belgia.
Strategi tersebut dinilai berkontribusi besar terhadap keberhasilan Maroko mencapai semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar, pencapaian terbaik sepanjang sejarah negara Afrika di turnamen tersebut.
Peneliti senior Pusat Studi Migrasi Universitas Oxford, Dr. Myriam Cherti, mengatakan keputusan pemain untuk memilih tim nasional tertentu biasanya dipengaruhi berbagai faktor.
"Tim nasional tidak lagi sekadar cerminan populasi di dalam perbatasan. Ini semakin menjadi cerminan migrasi, sejarah, dan mobilitas global," katanya.
Menurutnya, pertimbangan profesional, emosional, hingga tekanan keluarga sering kali memengaruhi keputusan seorang pemain dalam menentukan negara yang akan dibela di level internasional.
Meski demikian, tren ini tidak lepas dari kontroversi. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, pernah mengkritik praktik naturalisasi pemain yang dianggap terlalu mudah dan mengingatkan potensi hilangnya identitas tim nasional.
Di sisi lain, sejumlah pemain juga harus menghadapi tekanan publik akibat pilihan mereka. Salah satu contoh paling terkenal adalah Diego Costa yang mendapat cibiran suporter Brasil saat membela Spanyol pada Piala Dunia 2014.
Piala Dunia 2026 juga menghadirkan fakta unik berupa empat pasangan saudara yang membela negara berbeda. Mereka adalah Désiré Doué dan Guéla Doué, Nico Williams dan Iñaki Williams, Harry Souttar dan John Souttar, serta Derrick Luckassen dan Brian Brobbey yang membela Ghana dan Belanda.
Perdebatan mengenai identitas pemain diaspora diperkirakan akan terus berlanjut. Namun satu hal yang semakin jelas, sepak bola modern kini menjadi cerminan dunia yang semakin terhubung, di mana garis batas negara tidak lagi menjadi satu-satunya penentu identitas seorang pemain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

4 hours ago
1

















































