Penyerapan Kerja Lulusan Vokasi Capai 77 Persen

4 hours ago 1


Harianjogja.com, SLEMAN—Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Diktisaintek), Prof. Stella Christie, menegaskan pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan, menurutnya, sektor vokasi menjadi salah satu fondasi utama dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan industri dan dunia usaha.

Pernyataan tersebut disampaikan Stella saat menghadiri Talkshow PIONIR Permadani yang diikuti mahasiswa baru Sekolah Vokasi UGM di Grha Sabha Pramana, Kamis (6/8/2026).

Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Stella memaparkan data yang menunjukkan lulusan pendidikan vokasi memiliki tingkat penyerapan kerja lebih tinggi dibandingkan lulusan pendidikan akademik.

“Kalau kita lihat kenyataannya, vokasi itu kalau dari segi employment rate atau penyerapan ke tenaga kerja, jangan salah, vokasi itu di atas [pendidikan] akademik,” kata Stella.

Berdasarkan hasil tracer study Kementerian Diktisaintek periode 2021–2024, tingkat penyerapan kerja lulusan perguruan tinggi vokasi mencapai 77%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan perguruan tinggi akademik yang berada di kisaran 72%.

Menurut Stella, data tersebut sekaligus membantah stigma yang selama ini berkembang bahwa pendidikan vokasi memiliki prospek kerja yang lebih rendah dibandingkan jalur akademik.

“Jadi penyerapan ke tenaga kerja vokasi lebih tinggi daripada akademik,” tegasnya.

Gaji Awal Lulusan Vokasi Hampir Setara Akademik

Tidak hanya unggul dalam tingkat penyerapan kerja, Stella juga mengungkapkan bahwa rata-rata gaji awal lulusan vokasi hampir setara dengan lulusan akademik.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, lulusan vokasi memperoleh rata-rata gaji awal sekitar Rp3,8 juta per bulan. Sementara lulusan pendidikan akademik berada di kisaran Rp4 juta per bulan.

Selisih yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa lulusan vokasi mampu bersaing di pasar kerja, sekaligus memiliki peluang karier yang tidak kalah menjanjikan.

“Rata-rata gaji awal lulusan dari perguruan tinggi, baik vokasi maupun akademik itu hampir sama. Hampir sama tetapi penyerapan tenaga kerjanya lebih tinggi dari vokasi. Sehingga stigma-stigma ini bisa kita sebenarnya bantah dengan data,” ujarnya.

Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Stella menilai keberhasilan banyak negara maju tidak terlepas dari kuatnya sistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.

Ia mencontohkan sejumlah negara yang memiliki proporsi pendidikan vokasi cukup besar, seperti Jerman yang mencapai sekitar 60%, Tiongkok 48,6%, Korea Selatan 21%, dan Swiss 15%.

Menurut dia, pendidikan vokasi memiliki keunggulan karena dirancang untuk merespons kebutuhan pasar secara cepat. Perguruan tinggi vokasi dituntut mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri saat ini maupun masa depan.

Karena itu, Stella menekankan pentingnya keterhubungan yang erat antara institusi pendidikan dan dunia usaha.

Tiga Kunci Keberhasilan Pendidikan Vokasi

Dalam paparannya, Stella menyebut terdapat tiga faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan vokasi, yakni kurikulum yang sesuai kebutuhan industri, tenaga pengajar yang memiliki pengalaman dan kompetensi industri, serta infrastruktur pembelajaran yang relevan dengan dunia kerja.

“Tiga kunci itu yakni industry-matched curriculums, industry-matched instructors dan industry-matched infrastructures,” katanya.

Ia menegaskan seluruh aspek pendidikan vokasi harus selaras dengan perkembangan industri agar lulusan siap bekerja sejak hari pertama.

“Jadi semua yang ada di vokasi, baik kurikulumnya, pengajarnya, dan juga infrastrukturnya, laboratoriumnya, alat-alatnya, itu semua harus matched dengan industri,” tegasnya.

Kolaborasi Indonesia-Tiongkok untuk Vokasi

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan vokasi, Kementerian Diktisaintek telah menjalin kerja sama dengan Provinsi Jiangsu, Tiongkok.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut melibatkan Politeknik Negeri Jakarta, Liuzhou Polytechnic University, dan perusahaan alat berat Liugong.

Dalam program itu, mahasiswa mendapatkan kesempatan belajar selama satu tahun di Tiongkok melalui skema beasiswa. Setelah itu mereka menjalani program magang selama satu tahun di perusahaan Liugong yang beroperasi di Tiongkok maupun Indonesia.

“Liugong adalah perusahaan alat berat dan yang Liugong lakukan, mereka memberikan beasiswa kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta selama satu tahun belajar di Tiongkok di Liuzhou Polytechnic University,” jelas Stella.

Saat ini Kementerian Diktisaintek juga tengah menyiapkan nota kesepahaman atau MoU antarpemerintah Indonesia dan Tiongkok yang secara khusus mengatur kerja sama pendidikan vokasi.

Kerja sama tersebut akan menggunakan kerangka 2+5+1, yang mencakup dua sistem utama berupa pendidikan vokasi dan pembelajaran sepanjang hayat, lima elemen inti yang meliputi jurusan, kurikulum, bahan ajar, pengajar, dan magang, serta satu penggerak utama berupa digitalisasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Mahasiswa Vokasi Diminta Jadi Penggerak Ekonomi

Di akhir pemaparannya, Stella mengajak mahasiswa baru Sekolah Vokasi UGM untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu merespons perubahan pasar bahkan memimpin perkembangan industri di masa depan.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan vokasi dan kemajuan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang saat ini sedang menempuh pendidikan.

“Kalau kita tanya apa kunci keberhasilan vokasi dan ekonomi Indonesia? Jawabannya hanya satu, kalian yang ada di sini,” ujarnya.

Dengan tingginya tingkat penyerapan kerja serta semakin eratnya kolaborasi antara kampus dan industri, pendidikan vokasi diproyeksikan akan memainkan peran yang semakin besar dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul untuk mendukung transformasi ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news