Jalan Malioboro, Jogja. - Harian Jogja - Maya Herawati
Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menyiapkan langkah penataan fasad toko di kawasan Malioboro sebagai bagian dari upaya memperkuat karakter kawasan Sumbu Filosofi. Penataan fasad toko Malioboro ini dirancang dilakukan secara bertahap untuk membentuk wajah baru koridor wisata utama di Kota Jogja dalam beberapa tahun ke depan.
Rencana penataan fasad toko Malioboro tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkot Jogja dalam menjaga identitas kawasan sekaligus menata aktivitas wisata dan ekonomi di sepanjang Jalan Malioboro.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo mengatakan penataan kawasan Malioboro dilakukan dengan pendekatan bertahap yang mengedepankan cara persuasif namun tetap progresif, menyesuaikan kondisi yang berkembang di lapangan.
“Terkait dengan Sumbu Filosofi tentu banyak tantangannya dan harus terus ada progresivitasnya. Strategi yang kita bangun adalah terus merujuk pada sumber filosofi tetapi tetap melihat situasi dan kondisi. Apabila sudah memungkinkan dan ada solusi maka kita kerjakan,” katanya, Jumat (13/3/2026).
Ia mencontohkan sejumlah langkah penataan yang telah dilakukan Pemkot Jogja di kawasan Malioboro, salah satunya pemindahan parkir ABA dari kawasan Malioboro ke Eks Menara Kopi di Kotabaru. Kebijakan tersebut diambil agar ekosistem ekonomi yang selama ini hidup di Malioboro tetap terjaga tanpa harus memindahkan para pelaku usaha terlalu jauh dari pusat aktivitas wisata.
“Kami berusaha keras agar parkir ABA tetap pindah, tetapi ekosistem mereka yang sudah biasa hidup di Malioboro tidak saya cabut dari sekitar Malioboro. Karena itu kami arahkan ke Menara Kopi dan saya berharap itu bisa menjadi solusi jangka panjang,” katanya.
Selain itu, Pemkot Jogja juga melakukan pengaturan lalu lintas bus wisata agar tidak memasuki terlalu jauh kawasan inti Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. Saat ini bus wisata diarahkan untuk berhenti di beberapa titik parkir yang telah disiapkan, salah satunya di kawasan Ngabean.
Mulai 14 Maret 2026, Pemkot Jogja juga akan menata bus wisata yang selama ini parkir di kawasan Senopati. Sebagian armada akan dipindahkan ke Menara Kopi dan sebagian lainnya dialihkan ke kawasan parkir Ngabean.
“Ini contoh bagaimana kita terus berprogres agar filosofi kawasan ini bisa terjaga dan tidak menjadi terlalu padat oleh bus. Harapannya setelah Lebaran nanti bus tidak lagi parkir di kawasan itu,” ujarnya.
Selain penataan transportasi, Pemkot Jogja juga melakukan pendekatan persuasif kepada para pengamen agar tidak lagi berkeliling dari toko ke toko di kawasan Malioboro. Mereka diarahkan untuk tampil di satu titik tertentu sehingga aktivitas wisata di kawasan tersebut tetap nyaman bagi pengunjung.
Dalam rencana jangka panjang, Pemkot Jogja juga akan menata tampilan fisik kawasan Malioboro, termasuk merancang konsep kostum khas kawasan wisata tersebut serta menata fasad toko di sepanjang Jalan Malioboro.
“Jangka panjangnya fasad toko-toko Malioboro akan kita tata. Mungkin kami akan menghadirkan dari ISI dan arsitektur tata kota untuk membuat desain fasad toko-toko Malioboro secara bertahap,” kata Hasto.
Menurutnya, setiap toko di kawasan Malioboro nantinya akan memiliki panduan desain fasad sehingga pembangunan atau renovasi bangunan dapat mengikuti konsep tampilan yang telah ditetapkan oleh pemerintah kota.
“Harapan saya selama lima tahun ke depan Malioboro sudah bisa membentuk wajahnya. Strateginya tetap sama, persuasif tetapi progresif, persuasive and progressive,” katanya.
Penataan fasad toko Malioboro ini diharapkan mampu memperkuat identitas kawasan wisata sekaligus menjaga keselarasan visual koridor Jalan Malioboro sebagai bagian penting dari kawasan Sumbu Filosofi di Kota Jogja yang telah diakui dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

4 hours ago
2

















































