
Ilustrasi kondisi kesehatan pelajar di Bantul/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL — Hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah mengungkap potret kesehatan pelajar di Kabupaten Bantul yang masih memerlukan perhatian serius. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menemukan sejumlah persoalan mendasar, mulai dari kesehatan gigi, pola hidup kurang aktif, hingga gejala gangguan kesehatan jiwa.
Temuan ini menjadi sinyal penting bahwa kualitas kesehatan generasi muda tidak hanya dipengaruhi faktor medis, tetapi juga gaya hidup sehari-hari yang belum sepenuhnya sehat.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul, Siti Marlina, menegaskan bahwa hasil skrining tersebut akan menjadi dasar intervensi lanjutan di lingkungan sekolah.
“Dari hasil skrining memang masih ditemukan beberapa persoalan kesehatan pada anak sekolah seperti karies gigi, kurang aktivitas fisik, hingga gejala gangguan kesehatan jiwa. Ini menjadi perhatian kami untuk tindak lanjut pembinaan dan edukasi di sekolah,” katanya, Jumat (8/5/2026).
Karies Gigi Masih Mendominasi
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui platform SatuSehat Indonesiaku menunjukkan masalah karies gigi menjadi temuan paling dominan. Pada 2025, sebanyak 30.302 siswa atau 39,53% dari 76.656 anak yang diperiksa mengalami karies gigi.
Angka tersebut justru meningkat pada 2026. Hingga 7 Mei, tercatat 6.901 siswa atau 51,35% dari 13.439 peserta skrining mengalami masalah serupa.
Siti Marlina menjelaskan, kebiasaan menyikat gigi yang belum benar serta konsumsi makanan manis menjadi faktor utama.
“Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat terus kami dorong, termasuk pembiasaan sikat gigi bersama di sekolah dan penguatan UKS,” ujarnya.
Gaya Hidup Minim Gerak Jadi Sorotan
Selain kesehatan gigi, persoalan kurangnya aktivitas fisik juga menjadi perhatian. Pada 2025, sebanyak 74,92% dari 29.809 siswa yang diperiksa tergolong kurang bergerak. Sementara pada 2026, angka tersebut masih cukup tinggi, yakni 42,03% dari 6.150 siswa.
Fenomena ini mencerminkan perubahan gaya hidup anak sekolah yang semakin minim aktivitas fisik, seiring meningkatnya penggunaan gawai dan aktivitas sedentari.
Gangguan Mental dan Perilaku Berisiko
Dari sisi kesehatan jiwa, skrining menunjukkan adanya gejala gangguan mental pada sebagian pelajar. Pada 2025, sebanyak 2.166 siswa atau 7,41% terindikasi mengalami gangguan mental. Sementara pada 2026, tercatat 164 siswa atau 5,19% menunjukkan gejala serupa.
Tak hanya itu, temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah perilaku merokok di kalangan pelajar. Sebanyak 319 siswa atau 10,16% peserta skrining tahun ini mengaku telah merokok.
Menurut Siti Marlina, kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam membangun pola hidup sehat sejak dini.
“Sekolah dan keluarga punya peran penting karena anak-anak sekarang banyak terpapar informasi dan gaya hidup yang tidak sehat. Pendampingan harus dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.
Dengan berbagai temuan tersebut, Dinkes Bantul menegaskan pentingnya penguatan edukasi kesehatan di sekolah, tidak hanya soal fisik tetapi juga mental dan perilaku, guna membentuk generasi yang lebih sehat dan berdaya saing di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































