Harianjogja.com, JAKARTA— Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dilaporkan mengalami luka akibat konflik militer yang terjadi beberapa waktu terakhir, namun kondisinya disebut tetap baik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Mojtaba masih dalam kondisi stabil meski mengalami luka.
“Dia terluka, tetapi kondisinya baik. Saya tidak tahu kapan dia akan menyampaikan pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran,” ujar Baghaei kepada media Italia Corriere della Sera.
Menurut Baghaei, sebelum penetapan tersebut terdapat tiga hingga empat kandidat yang bersaing untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Namun akhirnya mayoritas anggota Majelis Pakar Iran memilih Mojtaba Khamenei.
Pemilihan itu terjadi setelah pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, tewas pada hari pertama operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari atas wafatnya Ali Khamenei.
Ketegangan Iran–AS–Israel
Serangan militer tersebut memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan operasi militer itu dilakukan untuk menghadapi ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran. Namun kemudian muncul pernyataan bahwa serangan tersebut juga bertujuan mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Baghaei mengatakan Iran saat ini lebih fokus menjaga kedaulatan dan integritas wilayahnya.
“Pada Juni 2025, setelah 12 hari, Amerika Serikat dan Israel mengatakan ‘mari kita berhenti’ dan kami berhenti. Ajakan gencatan senjata itu adalah sandiwara lucu. Karena itu seluruh negeri kini bertekad untuk membela diri,” katanya.
Rusia Kecam Serangan
Presiden Vladimir Putin turut mengecam serangan yang menewaskan Ali Khamenei. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Melalui Kementerian Luar Negeri Rusia, pemerintah Rusia juga menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, pada Senin (9/3/2026), Majelis Pakar Iran secara resmi mengonfirmasi Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

7 hours ago
5

















































