Pedagang Pasar Sentral Ngaku Sepi Usai Masuk Gedung, Omzet Kini Tak Menentu

11 hours ago 6
Pedagang Pasar Sentral Ngaku Sepi Usai Masuk Gedung, Omzet Kini Tak MenentuSuasana Ruko di Pasar Sentral atau New Makassar Mall (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Kondisi Pasar Sentral atau New Makassar Mall kian kehilangan denyut keramaiannya semenjak di pindahkan ke gedung.

Pedagang mengaku omzet harian tidak lagi stabil, bahkan cenderung menurun dibanding tahun sebelum masuk ke dalam gedung New Makassar Mall.

Salah satu pedagang pakaian, Adel (45), menyebut pendapatan kini sangat bergantung pada kondisi hari dan jumlah pengunjung yang datang.

“Tidak menentu. Kadang ada pembeli, kadang tidak. Kadang ramai, tapi sering juga sepi,” ujarnya, Kamis (09/04).

Ia mengungkapkan, dalam kondisi normal saat ini, omzet harian berkisar antara Rp1 juta hingga Rp2 juta, kadang mencapai 4 hingga 5 juta. Meski begitu, Angka tersebut jauh di bawah capaian sebelumnya yang bisa menyentuh Rp7 juta hingga Rp8 juta per hari di hari biasa.

“Kalau dapat Rp4 juta itu sudah termasuk banyak sekarang. Dulu itu masih sering, sekarang jarang,” kata pemilik butik Maharani Collection itu.

Meski demikian, momentum hari besar keagamaan masih memberikan lonjakan signifikan. Pada periode tertentu seperti menjelang hari raya, omzet bisa meningkat hingga Rp10 juta dalam sehari.

“Seminggu jelang idul Fitri kita ada kenaikan dapat Rp10 jutaan, tapi diluar gedung juga kita dapat lebih sebenarnya,” jelasnya.

Namun, Adel menegaskan, seluruh penjualan yang ia lakukan masih mengandalkan transaksi langsung di toko tanpa bantuan platform digital.

“Tidak ada online, tidak live juga. Jualan biasa saja di sini,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat dan kondisi pasar yang tidak lagi terpusat menjadi salah satu penyebab utama turunnya jumlah pembeli. Ia menilai, pengunjung kini tersebar di berbagai titik, tidak lagi terkonsentrasi seperti dulu.

“Dulu semua pembeli berkumpul di satu tempat. Sekarang sudah terpencar, ada di lapak luar, ada di dalam. Jadi tidak seramai dulu,” ungkapnya.

Pengalaman panjangnya selama sekitar satu dekade berdagang juga menunjukkan perubahan signifikan. Ia mengaku justru sempat merasakan masa paling ramai saat berjualan di luar gedung, tepatnya setelah kebakaran pasar, ketika pedagang sementara menempati area pinggir jalan.

“Waktu di luar, di pinggir jalan, justru lebih ramai. Pembeli banyak sekali. Setelah masuk kembali ke dalam, malah sepi,” katanya.

Untuk bertahan, ia kadang mengandalkan cara sederhana, seperti promosi melalui media sosial dan pelanggan tetap yang datang langsung ke toko.

“Kita upload di Facebook saja tapi jarang, atau tunggu pembeli datang,” ujarnya.

Ia juga menyebut sebagian besar pembeli saat ini berasal dari warga lokal, bukan lagi dari luar daerah seperti sebelumnya.

“Sekarang kebanyakan orang sini saja yang belanja, sudah jarang dari luar seperti Kalimantan dan yang diluar,” tukasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news